Loading
Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Kembali Ke Masa Awal

Widya | Thursday, March 18, 2021 |


Lama sekali baru menulis lagi...๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€ 

Kali ini mau cerita tentang masa awal perkawinan, sebagai cerita buat anak-anakku tercinta.

Menikah....suatu perjalanan baru, yang sudah ku tekadkan untuk berani menghadapi tantangan di depan, dan berupaya sebaik mungkin menjalankannya. Aku juga memutuskan dalam hati untuk menjadi istri yang tangguh, tidak cengeng dan mandiri menjalankan tugas sebagai istri dan suami.  Dalam kepala sudah dicetak, mas Agung memiliki tugas dan tanggung jawab yang membuatnya tidak akan selalu ada 24 jam di sisiku dan anak-anak kelak.  Tugasnya adalah konsentrasi penuh pada pekerjaan dan membina kariernya sebaik mungkin untuk menjamin masa depan keluarga kami.  

Saat awal kami menikah, aku masih bekerja.  Kondisi finansial kalau dilihat dari gaji, jauh sekali besar gajiku berlipat-lipat dari mas Agung.  Namun sudah diputuskan, gaya hidup dan kebutuhan kami harus dicukupi dari gajinya.  Gajiku masuk ke tabungan.  Sebagai istri tentara, hidup sederhana adalah pilihan yang tersedia, untungnya dan aku rasa itu juga keuntungan mas Agung punya istri kayak aku..๐Ÿ˜‚, aku tak punya tuntutan besar pada gaya hidup, bukan karena terpaksa, tapi memang bukan disitu kebahagiaanku. Aku lebih memilih untuk membeli buku bagus dan mahal lalu duduk di rumah membacanya. 

Di akhir tahun pertama menikah, aku hamil. Kami tinggal di Surabaya berdua saja. Kehamilan tidak berjalan enak nyaman.  Kalau orang lain hamil mualnya hanya 3 bulan pertama, aku mengalami 7 bulan. Tidak bisa bicara banyak, bergerak banyak, tidak bisa makan, karena kalau aku melakukan itu semua langsung muntah, blas gak ada enak-enaknya.  Pulang ke rumah orangtua ?  Tidak terpikirkan, seingatku kami tidak pernah membahas kemungkinan itu.  Tiap pagi sebelum berangkat kerja, mas Agung menyiapkan termos air panas dan Marie Regal di samping tempat tidur, yang belum tentu juga aku sentuh sampai dia pulang.  Lama-lama masuk angin dong, sakitnya itu, mulai dari perut sampai ke ulu hati, bergerak tambah sakit, akhirnya berdoa saja.  Saat itu belum ada telpon, jadi tidak ada ceritanya, telpon suami di jam kerja hanya untuk minta dia pulang karena istrinya sakit.  Makan malam selalu direncanakan sejak malam sebelumnya, nanti mas Agung pulang bawa makan malam.  Kenapa begitu ? Ya karena mau makan itu harus mengkhayal dulu makanan apa, kalau tidak, makanan gak bisa ditelan.

Menjelang kelahiran, kami kembali ke Jakarta, karena mas Agung juga harus berlayar.  Dea lahir di Jakarta. Mas Agung masih layar. Papa dan mama yang menemani.  Mas Agung baru kembali setelah Dea berumur seminggu. Tiga bulan kami tinggal di Jakarta.  Saat Dea berusia 4 bulan kami kembali ke Surabaya.  Petualangan sesungguhnya dimulai.

Tanpa pembantu, hanya kami bertiga. Beres-beres rumah, memasak, mendampingi Dea aku lakukan sendiri. Menemukan berbagai cara dan trik melakukan berbagai tugas sambil memiliki anak, membuatku tertantang.Tantangan demi tantangan itu sungguh membuat hidup terasa bergairah bersemangat....

Menemukan lagu pengantar tidur Dea tidak sengaja, Edelweiss yang akan membuatnya merasa mengantuk setiap kali mendengarnya, membuat makanan sehat untuk bayi, sambil membersihkan rumah, mencuci menciptakan cerita berbeda setiap hari. Tiap kali mas Agung pulang, dia akan mendapat cerita baru tentang permata hatinya.  Tugas mas Agung tiap pulang kerja adalah bermain dengan Dea, sementara aku mengerjakan hal lain yang tidak sempat aku kerjakan saat mas Agung belum pulang.

Kenapa tugas mas Agung bermain dengan anak, ya alasan sederhana, waktunya bersama anak-anak tidak banyak, keterikatan batin bapak dengan anak harus terbangun erat.  Terbukti kedua anak kami, tidak pernah lupa wajah ayahnya walaupun ditinggal layar berbulan-bulan.  Yup, betul, tugas berlayar mas Agung itu bisa berbulan-bulan, semua keluarga besar TNI AL memiliki kisah yang mirip.  Mandiri selalu menjadi pilihanku dan mas Agung. Tidak pernah setiap mas Agung berlayar, aku dan Dea pulang ke Jakarta. Kami menikmati waktu berdua.

Suatu kali mas Agung pulang layar, lalu mendadak pulang dan bilang, "kita pindah ke Jakarta, dan aku berangkat besok, honey dan Dea bisa menyusul ?"  Eiiiitsss.....harus bisa dong, kalau mas Agung balik lagi ke Surabaya jemput kami, biayanya banyak. Jadilah aku dan Dea tinggal. Aku harus membereskan barang-barang yang akan dibawa ke Jakarta. Kepindahan pertama ini memberikan pelajaran, kami tidak perlu memelihara barang, menghias rumah, supaya kalau kami pindah tidak perlu ada barang yag dibawa selain baju saja.  Aku dan Dea naik kereta api ke Jakarta. Dua tempat duduk kami beli.  Dea belum bisa jalan, masih bayi.

Sepanjang perjalanan ke Jakarta, aku harus menjaga supaya dia tidak rewel dan mengganggu penumpang lain.  Andalanku ASI, menyanyi dan bermain. Lagu Topi Saya Bundar, Kepala Pundak Lutut Kaki saya nyanyikan berulang-ulang, sambil mengerakkan tangan Dea mengikuti lirik lagu.  Dea bisa tersenyum lebar, tertawa ceria dengan mata berbinar-binar setiap diajak menyanyi dengan gerak seperti itu.  Penumpang lain mungkin kesal dengar suaraku yang tidak merdu, tapi itu pilihan terbaik daripada dengar suara bayi menjerit-jerit kan bro....๐Ÿ˜‚

Kalau mau ke kamar mandi, aku tunggu sampai Dea tertidur dan aku titip penumpang depan untuk menjaga Dea. Lari ke toilet dan kerjakan dengan cepat. Balik Dea masih nyenyak.  Sepanjang perjalanan tidak ada insiden Dea menangis, sekali saja tidak.  Dia teman perjalanan jauh yang menyenangkan, bahkan sejak bayi.  Untukku itu prestasi luar biasa bagi diriku sendiri...hehehehehehe

Ada kisah perjalanan lain yang kami lakukan bertiga, kali ini sudah ada Tista, ke Lampung.  Mas Agung ada kegiatan di Lampung, dan kami menyusul.  Perjalanan dengan bisa malam.  Dea sudah TK Besar, Tista berumur 1.5 th, sudah jalan tapi masih oleng.  Dea berlaku sebagai kakak, dia duduk dengan penumpang lain di sebelahku. Aku duduk dengan Tista.  Entah bagaimana prosesnya, yang jelas kami sampai di Lampung jam 4 pagi, menunggu dijemput di area pelabuhan yang kelak aku tahu itu daerah berbahaya.  Saat belum tahu rasanya biasa saja. Sambil gendong Tista, tangan satu menggandeng Dea, yang satu lagi sikat gigi di pinggir jalan, supaya nampak galak kan....๐Ÿ˜‚  Akal itu harus selalu ada.


Saat mas Agung di Surabaya kami tidak ikut, apa yang membuat kami tidak ikut?  Sekolah, karena Dea sudah sekolah kami tidak ikut. Tapi itu tidak lama. Kemudian mas Agung pindah kembali ke Jakarta.  Kali kedua kami di Jakarta, kami sudah tinggal di Ciangsana.  Kami tidak tinggal bersama orangtua lagi. Diwarnai tugas belajar mas Agung ke Amerika, dan tetap berlayar karena mas Agung menjadi komandan kapal.  Tetap tanpa pembantu, kecuali saat mas Agung di Amerika, yang anehnya begitu mas Agung pulang, itu pembantu juga selesai.  Yup, kami memiliki pembantu tetapi itu tidak berarti dibanding perjalanan keluarga kami yang mandiri.  Aku tidak memiliki kemewahan untuk punya pembantu bertahun-tahun seperti yangti dan mama. Hanya pendek-pendek sekali.  Bangun jam 2 pagi, bikin roti untuk dijual Suminah keliling kompleks, masak makan pagi dan makan siang untuk Dea, Tista dan Alda, jam 4 bangunkan anak-anak. Mandi, dan jam 0530 aku antar mereka ke sekolah, antar les, antar Alda ke Bulak Rantai, lalu pulang.  Jika ada kegiatan organisasi, aku drop anak-anak di sekolah, nanti papa yang jemput.  Selesai kegiatan aku jemput mereka ke Bulak Rantai dan pulang ke Ciangsana. Masa-masa yang sangat dinamis dengan jadwal yang padat, jualan kue, sekolah, les, lomba, organisasi. Anakku 3 orang.....Dea Tista Alda....mereka les yang sama, lomba yang sama, kegiatan yang sama, makan yang sama.  Di masa SD itu Dea dan Tista sama-sama dijahit dagunya, jatuh karena sebab berbeda, tapi jahit di tempat yang sama.  Hanya Dea saja yang operasinya ditunggu mas Agung.  Dengan Tista, mas Agung hanya dapat ceritanya saja.  Petualangan 4 perempuan yang sangat menyenangkan.

Setelah kami pindah dari Kupang, kami memutuskan untuk menarik anak-anak dari sekolah, aku ambil alih tanggung jawab pendidikan anak-anak.  Saat itu Dea sudah di kls 1 SMP dan Tista masih di kls 4.  Mengajar mereka di rumah, memilih guru les matematika dan fisika, mengantar mereka les ke kota lain seminggu 2x, aku lakukan sendiri.  Ada supir sebetulnya, tapi karena jam les anak-anak sampai malam, aku kasihan, waktunya yang untuk keluarganya sendiri malah harus antar anak-anak.  Jadi biarpun mas Agung jadi komandan lanal, aku tetap supir anak-anak.  Memiliki anak buah tidak membuatku berpikir semena-mena, tugas mereka hanya di jam kerja mereka saja.  Di luar jam kerja itu menjadi tugasku.  Sejak di Jakarta sampai mereka besar, aku adalah supir anak-anak.  Mereka tanggung jawabku.  Aku tidak percaya juga kalau harus pakai supir, takut terjadi apa-apa.  Toh aku juga tidak bekerja lagi.

Dea dan Tista selalu ikut kemana saja mas Agung bertugas hingga mereka lulus SMA.  Saat mereka sudah di perguruan tinggi saja mereka tidak ikut lagi. Hanya aku saja yang ikut mas Agung.  Untuk ini aku harus minta maaf sama Dea, karena memberikan beban menjaga rumah dan anjing burung dan ikan padanya.  Mama papa minta maaf ya kakak sayang.  Tapi Dea dan Tista brprestasi di bangku kuliah, mama papa juga berterimakasih karena semua seudah menunjukkan kerja keras dan hasil yang baik.  

Walaupun ibu rumah tangga tanpa penghasilan pribadi, tapi memastikan suami bisa bekerja tanpa terganggu urusan domestik rumah tangga dan anak-anak, memastikan anak-anak tumbuh sehat, lincah, pandai, memastikan penghasilan suami cukup dan bisa ditabung, memastikan kehidupan pribadi dan anak-anak adalah petualangan menyenangkan sarat ilmu dan ketrampilan adalah prestasi yang harus dikejar setiap perempuan yang memutuskan untuk menjadi istri dan ibu.

Untukku, rumah tangga dikepalai dua orang dewasa dengan tugas dan tanggung jawab berbeda yang masing-masing harus mandiri dalam mengerjakannya adalah rumah tangga yang baik.  Suami memastikan pekerjaannya berjalan baik, kariernya meningkat untuk memastikan kesejahteraan keluarganya.  Istri memastikan semua urusan domestik tidak mengganggu tugas dan kewajiban suami.  Keduanya memiliki bobot tanggung jawab yang sama penting.  Jika diibaratkan penugasan, andai aku adalah komandan, aku akan senang kalau kalau memiliki wakil yang bisa diandalkan, memiliki inisiatif, bisa bekerja tanpa harus diarahkan terus menerus.  Tidak satu lebih penting dari yang lain. Suami istri sama pentingnya.

Tak terbayangkan jika mas Agung berlayar, isi kepalanya masih sibuk memikirkan kamar mandi di rumah, popok bayi yang dicuci, pr sekolah anak yang belum dikerjakan, cicilan rumah yang tidak dibayar karena uangnya selalu habis buat ngopi-ngopi, dan lain lain. Pasti bawaannya ingin cepat sandar dan cepat kasih intruksi. Mungkin lama-lama minta dibebaskan dari tugas berlayar saja demi mengurus rumah, istri yang selalu menunggu instruksi dan anak-anak yang harus diajari.  Mungkin gak akan sampai dapat bintaang dua...๐Ÿ˜‰


Mb Dea, adek Tista, Alda, mudah-mudahan cerita ini bisa menjadi inspirasi buat kalian kelak saat memutuskan menjadi istri dan ibu.  Buat variasi yang paling cocok dengan kehidupan kalian masing-masing, tapi jadilah perempuan, istri dan ibu yang bisa diandalkan suami dan anak-anak.  Terus belajar dari berbagai sumber, karena ilmu parenting dan manajeman rumah tangga itu berkembang menyesuaikan jaman. Belajarlah dari siapa saja, bertemanlah dengan orang-orang pandai dan cerdik di sosial media, timba ilmu dari sana.  Jika kalian memiliki anak, bertemanlah dengan orang-orang yang concern dengan pendidikan anak.  Jangan pernah merasa sudah tahu, lebih baik kalau merasa belum tahu, belum cukup ilmu sehingga selalu bisa menerima berbagai pandangan, mengolahnya dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.

Bila kalian harus menajdi ibu rumah tangga tanpa penghasilan pribadi karena satu dan lain hal, hadapi dengan senang, dengan semangat, temukan tantangan di setiap tugas dan kewajiban, taklukkan tantangannya dan gembiralah dengan hasilnya.  Jadilah ibu rumah tangga yang cerdas, lincah, cantik, bijaksana.  Jadilah mercusuar rumah tangga yang tegak berdiri menjadi arah dan pegangan.




Read More
Be the first to comment!

Golden Anniversary

Widya | Friday, June 08, 2018 |
27 Juli 2017

Wedding anniversary papa Sam dan mama Yuli. Perkawinan emas papa dan mama kami rayakan di R2R, Pasar Minggu.  Sungguh kami bersyukur karena papa mama bisa merayakan perkawinan emas dalam keadaan sehat dan bahagia.

Perkawinan adalah sekolah kehidupan, yang baru mengenal kata lulus bila keduanya sudah tutup usia.  Sekolah dimana setiap penghuninya belajar untuk bertenggang rasa, saling mendukung, mendoakan, menumbuhkan kebiasaan baik dalam berpikir, berkata dan bertindak.  mendidik, mengasuh dan membesarkan generasi-generasi baru yang akan membawa nilai-nilai kebenaran dan welas asih kepada dunia baru.

Papa adalah laki-laki yang berpikir luas, memakai lรณgika dan data menyampaikan logikanya kepada orang lain dengan cara yang mudah dimengerti.  Pria yang sabar dan penyayang.  Papa selalu mengajarkan welas asih dan kesederhanaan dengan contoh.  Dengan pangkat terakhir sebagai Brigadir Jendral di masa keemasan Angkatan Darat Orde Baru, papa adalah tentara sederhana.  Belau bilang kita diajarkan untuk berdoa "berikanlah kami rejeki secukupnya", maka tugas kita sebagai manusia adalah berdoa setiap hari supaya cukup.  Tidak memiliki hutang yang membebani pikiran di masa tua.  Papa juga ayah yang rela berkorban bukanlah sekedar kata-kata.  Tak peduli lelah karena bekerja, papa selalu menjemputku pulang kerja tengah malam.  Bahkan di usia 70 papa selalu tampil pertama menawarkan diri untuk menjemput dan mengantar cucunya.  Gelisah kalau cucunya belum pulang ke rumah.  Tetap terjaga dan baru bisa nyenyak tidur bila semua orang sudah di dalam rumah. Hidup haruslah dihitung mbak.....kapan mau menikah, kapan mau bekerja, kapan mau punya anak, kapan pensiun.  Jangan asal mengalir, sudah mau pensiun anak-anak masih kecil itu memberatkan.
Papa juga yang mengajarkan, membesarkan anak-anak itu harus memperhatikan kejiwaan anak-anak bukan materi.  Aku ingat ketika menabrakkan mobil sampai rusak berat, pertanyaan papa yang pertama, "kamu masih berani nyetir mbak?", papa tidak mempedulikan mobilnya yang penyok.  Kata beliau bisa diperbaiki, tapi memperbaiki mental surpaya percaya diri lagi itu sulit.

Papa juga suami siaga.  Di usia pensiun papalah yang memasak, katanya "mama sudah masak puluhan tahun, sekarang giliran papa.." Waktu Dea lahir, aku ingat papa yang tiap hari mengantarkan ASI ke kamar bayi.  Olahraga di rumah sakit, karena tidak mau meninggalkan istri, anak dan cucunya sendiri.  Selalu berupaya membantu.  Kata mama, harga dirinya juga tinggi.  Awal pernikahan selalu berkelahi kalau ibu mertuanya mengirim makanan ke rumah. Lucu ya.......

Mama, wanita mandiri yang mengajarkan kami untuk menjadi wanita yang berani dan selalu mau mempelajari banyak hal.  Dalam banyak hal, mama adalah sosok  yang dapat kami andalkan.  Selalu bersemangat belajar hal baru.  Penolong dan pendoa yang setia bagi suami dan anak-anaknya.  Perawat yang teliti dan cerewet.  Sejak papa sakit jantung, mama yang selalu memaksakan diet dan menyiapkan obat.  Mungkin kalau mama lemah dan malas berantem, papa tak akan sesehat sekarang. Mama juga wanita yang tahan sabar dan mau berpayah-payah berupaya membantu orang lain, mendengarkan kebawelan dan kenyinyiran orang lain.
Kata mama, dalam pernikahan jangan takut untuk berkelahi, beradu argumentasi, karena disitu penyesuaian untuk mencapai kedudukan yang setara.  Dan ternyata ajaran mama ini aku dengar lagi di kursus Marriage Encounter.  Setiap orang memiliki batas sabar.  Yang terbaik adalah mengkomunikasikan semua masalah, tidak memendam masalah.  Karena memendam masalah dengan bersikap menerima, ibarat menumpuk magma di perut bumi, tinggal tunggu waktu untuk meledak saja.

Kepribadian papa dan mama yang berbeda itu membuat mereka berdua menjadi pasangan yang awet, dan menjadi panutan kami dalam berumah tangga.  Tekad mereka berdua untuk saling membantu, mendengar, dan mendukung membuat papa dan mama mampu mencapai perkawinan emas dengan keadaan sehat dan gembira.  Sesuatu yang bukan biasa-biasa saja dan layak dirayakan dengan ucapan syukur kapada Tuhan YME karena telah mengijinkan dua orang hebat menjadi orangtua dan panutan kami.

Happy anniversary pa, ma.....love you both always.
Read More
Be the first to comment!

Sulungku ikut Pageant

Widya | Friday, June 08, 2018 |
September 2016

 Sudah agak lama sebetulnya peristiwa ini, hampir dua tahun lalu.  Inget banget Dea minta ijin untuk ikut pemilihan MrMs LSPR, putri kampus kalau jaman dulu.  Dia bilang ingin tahu aja ma.  Dia tabu betul aku tak terlalu suka dengan lomba-lomba yang menjual kecantikan dan keunggulan fisik.  Lomba yang akan diikuti oleh orang-orang yang tak sempurna fisiknya.  Untukku perempuan harus dilihat sebagai pribadi yang utuh, sejajar dengan kaum pria, teman diskusi yang menyenangkan.  Dan anak-anak perempuanku sangat aku harapkan menjadi wanita yang berisi, tidak saja cantik fisik namun juga cerdas dan berkarakter baik.  Cantik luar dalam.

Saat itu  aku ijinkan karena Dea bilang teman-teman dan dosennya mendukung dia.  Tapi aku bilang, jaagan mengunggulkan fisikmu, persiapkan diri lebih baik di sesi tanya jawab bukan di semi lenggak lenggok.  Sempat marah-marah, karena dia harus menurunkan berat badannya banyak sekali, aku tidak mau dia konsentrasi pada bentuk tubuhnya yang sudah baik secara berlebihan, aku mau dia sehat dan memiliki wawasan cantik yang seimbang.  Sempat aku ancam, kalau dia masih sibuk memikirkan bentuk badan, aku akan datang ke kampusnya untuk meminta pencabutan dirinya di acara tersebut.  Belum lagi pulang larut malam hampir setiap hari.  Bikin emaknya ketar ketir.....Mungkin Dea juga stress karena harus mengikuti semua aturan kampusnya tapi juga menghadapi emaknya yang selalu siap perang.  Sahabat Dea yang menjadi ketua panitia juga aku kirim ceramah, untuk memperhatikan waktu, supaya teman-teman perempuannya tidak mengalami hal-hal yang buruk di jalan akibat pulang larut malam.  Buki kalau ketemu aku selalu berusaha menghindar......hahhhahahahahaha.....dia kira mungkin aku tak tahu.
Dea selalu bilang, semua di kampus sudah kenal mama....๐Ÿ˜‚

Di babak semifinal, aku nonton mereka beraksi.  Masing-masing mempertunjukkan kelebihan yang dimiliki.  Ada yang menyanyi, menari, memanah, pidato, presentasi membuat kopi, dan lain-lain.   Dea tampil paling santai, celana jeans dengan kemeja kotak-kotak yang sering dipakainya terikat di pinggang, menyandang gitar.  Hehehehehehe......anak ini percaya dirinya besar.  Dia hanya meminta yang memang dia tidak punya, seperti sepatu dengan heel 12 cm.  Selebihnya dia memakai yang dia punya. Mental baja.
Tapi yang membanggakan di sesi tanya jawab, dia menjawab lancar dalam bahasa Inggris, hampir sepanjang lomba dia berbahasa Ingeris.  Jawabannya tidak memutar, tidak mengada-ada dan jelas.

Di babak selanjutnya, aku yakin dia akan masuk di babak akhir, karena di sesi tanya jawab, saingannya hampir tidak ada.  Rata-rata tidak lancar menjawab dalam bahasa Inggris dan kemudain mengubah ke bahasa Indonesia dengan jawaban yang berputar-putar.
Dan sebagai ibu aku lebih suka dan bangga di sesi yang memperlihatkan isi kepala dan keluasan wawasan.

Dea tidak memenangkan kejuaraan, walaupun masuk di lima besar.  Tapi untukku dia juara kami.  Lomba-lomba seperti ini jarang yang bersifat adil, lebih banyak menyesuaikan selera juri dan mungkin juga pesanan.  Tapi babak tanya jawab tidak bisa dicurangi, karena semua mendengar pertanyaan dan jawabannya.  Ada salon pemenang yang menurutku lebih cocok jadi juaranya tapi ternyata tidak dapat.  Dan yang menjadi juara Mr  menurutku tidak cocok.  Untuk juara Ms bagus tidak ada kritik.

Pengalaman untuk bidadari kami.  Dan kami semua bangga karena Dea tampil cantik sekali.
Read More
Be the first to comment!

Galau dan Jawaban Anak Remaja

Widya | Sunday, October 29, 2017 |
Lama tidak menulis karena banyaknya kegiatan dan kemauan....

Tista, akhirnya diterima di Akpar NHI dan sekarang sudah di semester tiga yang merupakan semester magang.

Ingat cerita lalu, saat dia tidak diterima di dua kali tes penerimaan STPB dan lalu diterima di Akpar NHI.  Kala itu aku tanyakan mengapa dia bisa gagal di sekolah pertama dan bisa berhasil di sekolah lainnya, padahal cara masuk dan bidang yang diinginkan sama.  Jawabannya lucu sekali, "aku salah berdoa ma." 
"maksudnya bagaimana dik?"
"iya, aku kan novena, di doa novena itu aku selalu minta masuk NHI, aku pikir sama aja kan."
"lho kenapa kamu gak minta masuk STPB?"
"susah penyebutannya, kepanjangan juga."
"nah sekarang adik tahu kan kalau berdoa tidak bisa asal-asal."
"iya....aku paham."

Berjalannya waktu dia sangat menikmati proses belajar dan berteman. Tak terasa sekarang sudah semester tiga.  Saat akan magang, dia mengatakan ingin magang di Kempinski.  Tapi aku mengatakan dia harus berusaha magang di Ritz Carlton.
"Tapi ma, akta teman-teman dan senior-seniorku, magang di Ritz itu kerja rodi."
"adek, orang yang mengatakan kerja rodi itu pemalas, magang hanya digunakan sebagai syarat kuliah saja. Kalau orang yang ingin belajar dan mendapatkan banyak pengalaman harus bekerja di tempat yang sangat sibuk.  Tinggal tergantung bagaimana cara kita berpikir saja."
"Ritz itu hotel mahal, hanya orang kaya yang bisa bayar, dan orang kaya tidak memiliki permintaan standart.  Mereka selalu minta yang aneh-aneh dengan kualitas wah, karena bisa bayar.  Magang di termpat seperti itu kamu akan kaya ilmu, kaya pengalaman.  Capek bukan alasan. Lama kelamaan kamu akan menikmati dan senang disana."
Akhirnya memang si bungsu ini berhasil mendapatkan tempat magang di Ritz Carlton Pasific Place.
Karena bekerjanya fisik dan berdiri berjam-jam, maka sangat lelah kalau dia harus pulang berjam-jam ke Cibubur.  Tista kost bersama temannya di Tulodong.  Hanya 7 menit naik gojek.

Minggu pertama dia magang, kembali dia mengeluh.
"ma, aku sepertinya salah jurusan."
"kenapa ? kamu capek?"
"bukan capek ma, kalau pekerjaanya panjang aku gak masalah."
"lalu apa yang membuat kamu berpikir kalau salah jurusan?"
"itu ma, aku gak pernah berhasil bikin coklatnya mengkilat, temperednya tidak pernah pas, susah sekali.  Pdahal aku sudah pakai trik yang mama ajarkan, tapi tetap kadang bisa kadang gak bisa.  Sering-sering sih tidak bisa."
"biasa dek kalau belum bisa.  Mentormu marah?"
"enggak, kak Desi gak marah, tapi aku merasa bersalah.  Aku jadi memperlambat kerja kak Desi."
"oalaaaaah malaikat mama.  Kamu itu magang nak, magang itu belajar.  Adek selama ini kan gak pernah bikin coklat secara profesional begitu.  Kalau masih ada salah tidak apa.  Koki senior itu menjadi master coklat perlu waktu lama dan belajar kemana saja.  Adek baru seminggu sudah ingin secanggih master coklat, ya tidak mungkin.  Cita-citamu baik tapi tidak bisa dicapai dalam waktu seminggu.  Semua itu perlu jam terbang untuk tahu pas dan tidaknya."
"satu lagi, kesan itu kamu berangkat belajar, bukan berangkat kerja.  Jadi belajarlah sebaik-baiknya dan sekeras-kerasnya.  Namanya belajar ya pasti akan menemukan kesalahan-kesalahan.  Hadapi saja dan tetap semangat."

Setelah hampir 3 bulan berlalu, dia kembali dengan senyum, "ma aku gak salah jurusan.  Aku senang disini.  Aku mau belajar lebih banyak lagi ma.  Nanti kalau libur aku les ya ma."
"beres sayang.  Mana mungkin mama suruh kamu kesitu kalau bidangnya tidak sesuai dengan kecintaanmu."

Hari-hari dipenuhi dengan kerja keras, bukan sering lagi over time, hampir tiap hari.  Tapi semua dia hadapi dengan senyum dan semangat.  Sekarang ceritanya selalu berwarna pelangi ceria.
"ma, aku saja yang diajak untuk outside catering"
"ma, kakak A ingin aku masuk bagian ini."
"ma, aku tadi hanya sendiri, tapi aku bisa, walaupun deg-degan takut salah."

Tapi ada lagi yang belum bisa terjawab sekarang....
"ma, aku gak mau kerja di hotel"
"lalu kamu mau kerja apa?"
"aku mau jadi youtubber saja."
"bidang food culinary dek?"
"iya....."
"oh oke...itu juga keren. Kerja di hotel hanya salah satu pilihan bukan the only option sayang."

Mari kita lihat kemana galau-galau itu akan terjawab sayang.
Read More
Be the first to comment!

Akhirnya Kenal Infus Juga

Widya | Thursday, March 02, 2017 |
"Ma, aku demam, tapi demamnya hanya tiap malam saja." Dea berkata lemas pada Minggu malam.  Aku menempelkan tangan ke dahinya..."tapi gak terlalu panas mbak, kalau minum paracetamol nanti badanmu dingin.  Istirahat saja, kamu capek banyak kegiatan."
Esok malamnya, terulang lagi keluhan yang sama.
Selasa pagi aku berangkat ke Yogya sampai Kamis, karena aku menganggap demamnya hanya masuk angin saja.
Rabu malam, Dea kembali mengeluh demam dan ada benjolan di lehernya.  Aku memintanya ke dokter besok pagi dan dek darah.  Aku minta pak Heno, pengemudi di rumah kami untuk mengantar dan mendampingi Dea.
Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, Dea kembali mengirimkan berita di whatsapp, kalau hasil tes darahnya thypus.
"oke mbak, kalau hasilnya seperti itu, mbak Dea gak bisa lanjutkan kegiatan hari ini.  Kamu ke kampus hanya untuk mengisi KRS lalu pulang.  Kegiatan lain kamu delegasikan ke temanmu saja."

Selama week end, Dea hanya istirahat saja.  Mas Agung menelepon temannya yang dokter untuk meminta obat. Kami tak membawanya ke rumah sakit.  Aku bilang ke Dea, kita akan ke rumah sakit, kalau Senin keadaannya belum juga berubah.

Minggu sore mas Agung pulang ke Surabaya. Aku tak mengantarnya.  Mas Agung pergi dengan pak Heno.  Dea semakin parah, perutnya terasa sakit.  Di rumah kebetulan  ada papa, mama, Ledy, Albert dan Alda.  Akhirnya kami semua memutuskan untuk opname saja.  Dibantu semua orang, aku menyiapkan semua keperluan menginap di RS cambial menunggu pak Heno datang.
Aku pikir, aku akan ke RS hanya dengan pak Heno saja, tapi ternyata semua juga mau ikut.  Jadilah kami berangkat dengan dua mobil.

Di perjalanan, aku mengabarkan ke mas Agung, kalau aku membawa Dea ke RS.  
Hujan yang sudah turun sejak Januari menemani perjalanan kami.  
Melewati Jagorawi, mendadak aku dapat ide untuk belok ke Cilandak saja, ke Rumah Sakit Marinir Cilandak. RSAL Mintohardjo terlalu jauh,  dan melewati wilayah ganjil genap di hari kerja akan menyusahkan kalau pak Heno harus mengantar sesuatu.
Perubahan rute mendadak ini mengakibatkan Albert tak sempat masuk jalur Cijantung.  Sorry ya Bet.๐Ÿ˜„

Karena kami tak membawa surat pengantar untuk BPJS, maka kami memilih masuk melalui UGD.  
"Mas, aku ke Cilandak. Mas bisa bantu untuk masuk ke RSMC, mungkin mas Wayan bisa kontak temannya di sini." aku mengabari lewat whatsapp.
Dea tak memiliki kartu berobat, karena memang tidak pernah berobat ke rumah sakit.  Siapa gitu ya yang suka pergi ke rumah sakit kan.
Tak lama kami sudah mendapat kamar di Paviliun Cempaka kamar V2.
Kamarnya besar, memiliki meja makan dan 2 sofa, kamar mandi di dalam.  TV besar dengan acara TV kabel.  Seperti apartemen.
Akhirnya pakai infus juga mbak.

Aku sudah membawa perlengkapanku selama menunggu, sulaman, buku, laptop.  Bersyukur aku punya hobi yang bisa aku lakukan dalam keadaan paling membosankan sekalipun.
Namun senjata pembunuh waktu ini tak membantuku saat masuk angin.  Hari Rabu pagi mendadak perutku melilit, diare dan muntah.  Waduh gawat banget kan, punya tanggungan ngurus orang sakit, malah ikut sakit.  
Aku wa mama, tanya obat apa yang bisa meredakan perutku.  Mama sudah seperti apoteker di rumah,  mungkin karena terbiasa mempelajari keluhan penyakit dan obat yang diminum.
"Pankreoflat, neuroboon dan mylanta mbak.." wa mama.
Resepnya manjur. Sore perutku sudah enakan.

Satu hal yang lucu, karena badannya gak enak, nafsu makannya juga turun.  Akhirnya porsi makan menu rumah sakit tidak pernah habis.  
Sayang kalau dibuang, akhirnya setiap menu makanan datang langsung aku bagi dua.  Separo untukku, dimakan dengan sambal Roa kiriman mbak Helen.....rasanya ya enak saja.
Sorry ya mbak mama makannya pakai sambel.....hehehehehehe
Mungkin nanti aku juga jadi langsing, karena makan bubur terus.

Ayo mbak....berjuang biar cepat pulang kita.  Nanti langsung creambath, refleksi dan makan enรฅk ya mbak.  Tapi sehat Ndulu.







Read More
Be the first to comment!

Ngobrol aja ya sayang.....

Widya | Monday, February 13, 2017 |
buncitsexxy.blogspot.co.id
Pacar saya sering kali protes dan cerita kepada anak-anak, ...."sejak pacaran dulu mamamu nih gak pernah kasih minum atau makan kalau gak diminta.  Mesti harus diminta dulu."
Saya hanya ketawa-ketawa saja.๐Ÿ˜๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Saya memang jarang suguhkan kue atau teh buat suami dan anak-anak. Sebetulnya karena saya sendiri kurang suka manis-manis dan saya tidak terlalu suka ngemil.  Saya aman dan nyaman saja, jika pergi ke rumah orang dan tidak diberi suguhan macam-macam.  Saya lebih suka memakai waktu bertemu untuk bercerita atau mengerjakan sesuatu bersama.  Tidak akan hal itu menjadi kekurangan yang saya besar-besarkan.  Seringkali suguhan yang dihidangkanpun hanya saya ambil satu sebagai penghormatan saja.
Kalau pacar saya minta teh manis sore hari, saya ingatkan, pagi tadi sudah minum kopi susu.  Minum air putih saja๐Ÿ˜Š

Menurut beberapa artikel yang  saya baca, toleransi gula dalam darah antara 1 - 1,5 sendok teh.  Bagaimana kalau kita makan, ngemil dan minum manis ? pasti lebih dari 1,5 sendok teh gula dalam tubuh.  Lalu gula yang berlebih itu memaksa pankreas memproduksi insulin untuk mengendalikan gula dalam darah. Tetapi sifat insulin adalah lypogenesis alias membentuk lemak tubuh.  Maka gula -gula itu akan terbagi dalam liver, dalam otot dan dalam lemak.  Menumpuklah lemak dimana-mana. Selain di bagian-bagian tubuh, lemak juga akan menutup hati, jantung, pankreas dan menjadi plak dalam darah.

Gemuk itu sangat tidak menguntungkan.  Penampilan jelas tak indah, memilih baju sulit, penyakit bermacam-macam, nafas pendek dan teringah-engah.  Tidurpun juga pasti tak nyaman.  Ingat masa hamil, miring susah, terlentang juga susah.

Nah kekasihku sayang, aku tak memberikanmu cemilan dan teh itu karena eike sayang padamu๐Ÿ’–๐Ÿ˜ Umur panjang, keliling dunia, melihat cucu kita bertambah besar menjadi cita-cita kita kan......?

Daripada ngemil kita ngobrol aja yuuuuuk.......biar mesra....
Read More
Be the first to comment!

Selalu Ada Pertama Kali

Widya | Friday, August 05, 2016 |
Bulan Agustus, 2016

Hampir 8 tahun kami menjadi keluarga homeschooler.  Anak-anak tidak lagi belajar di sekolah formal.  Dampaknya adalah, kami menjadi keluarga satu paket, yang selalu bersama kemanapun kami pergi, atau mengikuti ke tempat penugasan mas Agung sebagai kepala keluarga kami.  Sungguh sebuah hal yang amat menyenangkan.  Kami tidak pernah pusing dan bingung dengan urusan keluar masuk dan pendaftaran sekolah, kami juga tidak galau dengan perpisahan karena harus tinggal berjauhan.  Hubungan kami sangat dekat.  Sampai di usia remaja bahkan menjelang 20 th, anak-anak tidak pernah keberatan untuk menghabiskan malam minggu atau hari libur bersama kami.

Bulan ini, mas Agung mendapat promosi kenaikan pangkat menjadi Laksmana Pertama dan mengemban jabatan baru di Surabaya.  Sungguh kabar menggembirakan dan membanggakan, terutama bagi keluarga besar kami.  Kabar gembira yang menjadi pelipur lara untuk ibu mertuaku.  Mas Agung pantas mendapatkan promosi ini, karena syarat-syaratnya sudah terpenuhi sejak 2014.

Beberapa hari setelah kabar gembira untuk mas Agung, Jumat pagi tgl 5 Agustus kami juga menerima kabar baik untuk Tista.  Si bungsuku ini diterima di jurusan Pastry, di Akademi Pariwisata Bandung yang dulu bernama NHI.  Bandung......
Bungsuku ini orang yang halus, memerlukan dorongan lebih banyak untuk menimbulkan percaya diri bahwa apa yang dia lakukan sudah baik.  Setelah kecewa 2x karena tidak diterima STP Bandung, ini adalah permintaannya untuk mencoba sekali lagi di tahun 2016.  Dan ternyata lulus.

Di tengah-tengah kabar bahagia dan menyenangkan ini, terselip kebimbangan dan kebingungan.  Ini pertama kali dalam hidup berkeluarga kami, kami harus tinggal terpisah-pisah di 3 kota yang berbeda.  Sulungku tetap tinggal di Jakarta, karena dia masih harus menyelesaikan pemdidikannya di LSPR.  Tidak tanggung-tanggung pengalaman pertama kali kami, langsung 3 kota berbeda....
Mungkin ini ujian dari Tuhan, dimana masing-masing anggota keluarga harus mampu mandiri, mampu di percaya dan menjaga kepercayaan.
Mungkin juga ini latihan awal, sebagai persiapan batin kami masing-masing, sebelum anak-anak mengepakkan sayap untuk terbang lebih jauh dan lebih tinggi.

Kiranya Tuhan akan membantu kami masing-masing dalam menjalankan proses melangkah ke tahap baru keluarga kami.

Mommy  and dad loves you girls.....
It is the time to challenge our family foundation, and I believe we can do it
If we can pass it with flying mark, then we all ready to conquer the world.
Be good, be honest, be true, be God's children then we will safe
Read More
Be the first to comment!

School Break

Widya | Friday, July 29, 2016 |
Tahun ini anak keduaku menyelesaikan pendidikan SMA di usia 16 tahun.  Sesuai minat dan bakatnya, Tista akan meneruskan ke sekolah culinary entah ambil pastry atau kitchen.   Sebenarnya kalau mengikuti keinginan, maunya meneruskan ke Cordon Bleu di Malaysia atau Australia, sebagai sekolah masak tertua di dunia.  Namun mengingat usianya yang masih muda dan kurangnya bekal di bidang masak memasak, kami harus menundanya.  Pilhannya jatuh ke Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.  Sekolah perhotelan ini berbeda dengan sekolah perhotelan lain seperti Trisakti, Sahid atau UPH dan banyak Universitas lain yang memiliki jurusan Hospitality, dimana semua bidang perhotelan dipelajari sekaligus, dan pendidikan diselesaikan dalam waktu 4 tahunm dengan titik berat lebih kepada management.  Sekolah perhotelan STPB ini berbeda, sekolah ini memiliki jurusan pastry dan kitchen berbeda, sehingga lebih spesialisasi lagi.

Tista ikut tes masuk di STPB ini sebanyak 2 kali, ikut di dua gelombang, dan kedua-duanya gagal.  Tes masuk meliputi tes Bahasa Inggris tertulis, tes Kesehatan, tes Psikologi dan tes Interview.  Tes interview Tista melaluinya dengan sukses, dilakukan dengan wawancara dalam bahasa Inggris secara penuh.  Dosen yang mewawancarainya memberikan nilai tertinggi, bahkan meminta Tista untuk memberikan sedikit saran mengapa bisa berbahasa Inggris itu penting dan merekamnya sebagai video.  Tes Bahasa Inggris tertulis juga kemungkinan gagal kecil, karena di EF Tista berada di kelas tertinggi.  Kemungkinan kegagalan ada di tes Psikologi, mengingat usianya yang masih muda dibandingkan teman-teman lain dan beban sekolah di STPB yang tidak ringan.

Sejak pengumuman gelombang kedua keluar, aku berusaha memberikan pengertian kepada Tista, bahwa hidup tidaklah selalu seperti teori yang juga tidak selalu benar. Sekolah secara berkelanjutan.  Di banyak negara maju, murid-murid SMA tidak selalu langsung meneruskan ke perguruan tinggi.  Kebetulan pada tahun ini, putri presiden Amerika, Malia Obama juga menyelesaikan pendidikan di SMAnya dan tidak langsung melanjutkan ke perguruan tinggi.  Malia berhenti setahun, sebelum meneruskan pendidikannya ke Harvard.  Apa yang Malia lakukan, aku sampaikan ke Tista.  Tista memiliki banyak pilihan yang bisa dikerjakan dalam setahun ini.  Dia mendapatkan tawaran untuk bekerjasama dengan KOKIKU.TV, membangun blog memasaknya, dan mengambil banyak kursus masak dan kue dalam rangka memperbanyak pengetahuannya di bidang masak memasak.
Dia setuju, namun mau mencoba sekali lagi untuk daftar ke NHI swasta, Akademi Pariwisata.  Aku mengabulkannya, namun kalau ini juga tidak berhasil, dia sudah bisa menerima dengan berbagai pilihan kegiatan yang sudah dipersiapkan.

"School-break"....sudah pernah kami lalui dengan putri sulung kami Dea.  Dea bahkan mengambil school-break 2 tahun.  Tahun pertama diisi dengan kegiatan bermusik dan fotografi, tahun kedua dia kerja sebagai bagger di Amerika.  Dan sekarang di kampusnya Dea termasuk mahasiswa yang bersinar, terpilih menjadi 10 besar mahasiswa terbaik di dua angkatan.  Kalau Tista melakukannya, maka ini akan menjadi yang kedua bagi keluarga kami, sama seperti pilihan belajar dengan cara home-schooling yang kami lakukan bertahun lalu, urusan pendidikan anak-anak kami tidak sama dengan kebanyakan keluarga dalam keluarga besar kami. Kali inipun, aku dan Tista akan bahu membahu untuk membuktikan bahwa tidak langsung meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi bukanlah kiamat dan banyak yang bisa dilakukan untuk persiapan menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.

let's do it together my princess..... I believe in you, your shinning future is already in the corner.

Kalau Tista berhasil masuk di Akademi Pariwisata NHI, maka tidak ada school-break.....but we are ready for any option.

Read More
Be the first to comment!

Camping di Tanakita Camping Ground

Widya | Wednesday, July 20, 2016 | |
Tanakita camping ground berada di kawasan taman nasional Gede Pangrango.  Kalau kita dari Jakarta  ke Sukabumi melalui Ciawi, terus saja ikuti jalan utama ke Sukabumi.  Melewati kawasan berikat pabrik-pabrik, pasar-pasar tradisional, kawasan wisata Lido, Sekolah Polisi Negara Lido hingga menemui Polres Cisaat.  Sebelum Polres Cisaat itu belok kiri, melewati Pusat Pelatihan Icuk Sugiarto, pebulu tangkis nasional. Terus menanjak hingga masuk gapura Kawasan Taman Nasional Gede Pangrango.

Awal mengajak papa dan mama yang sudah berusia cukup lanjut, ada keraguan, karena biasanya daerah camping ini menanjak untuk sampai lokasi tenda.  Tapi ketika kendaraan kami bisa parkir di sisi area tenda, semua kekhawatiran sirna. Kami datang cukup pagi, karena kami berangkat jam 0500 pagi dari Ciangsana Cibubur, sehingga kurang lebih jam 0900 kami sudah tiba lebih dulu di Tanakita. Cepat-cepat kukirim pesan pendek ke mama, mengabarkan kemudahan dan kenyamanan yang bisa dinikmati orang-orang usia lanjut.  Mobil hanya parkir sementara di sisi area kemah, untuk menurunkan orang dan barang saja, nanti mobil akan diparkirkan oleh petugas ke tempat parkir yang sudah tersedia.
Satu lagi kemudahan, kalau tidak ingin mengalami macet di sepanjang jalan ke Sukabumi, bisa naik taksi dari Jakarta ke Stasiun Bogor, dan naik kereta ke Cisaat. Nanti dijemput oleh angkot yang sudah kita koordinasikan dengan pengelola Camping Ground sebelumnya.  Cukup membayar 100rb rupiah untuk satu angkot.

Camping di Tanakita, tidak perlu membawa logistik sendiri, kopi dan teh tersedia 24 jam, self service.  Makan pagi, siang dan malam plus 3 kali snack sudah disediakan.  Termasuk acara api unggun dengan jagung bakar dan wedang ronde.  Pokoknya gak sempat kelaparan.  Tapi kalau takut tidak bisa makan atau punya makanan kesenangan sendiri, bisa bawa dan masak sendiri.  Dapurnya boleh dipinjam.  Yang paling menarik makan pagi, selain nasi dan kelengkapannya, disiapkan bahan pan cake dengan kompor buatan sendiri.  Bisa membuat pancake sendiri, tentu saja anak-anak yang plaing senang.  Mereka bisa pura-pura sedang berjualan pancake dengan melayani pesanan anggota keluarga.

Kami memilih 4 tenda di pojok, 2 menghadap Selatan, 2 menghadap Barat, sehingga masih ada wilayah kosong di pojok area kami, untuk nanti kegiatan memasak dengan kompor percobaan papanya Alda.  Untuk setiap rombongan disediakan satu tour guide yang akan mengantar kami kemana kami mau dan menawarkan kegiatan apa saja yang bisa kami lakukan.  Tour guide kami bernama Asep, sopan dan komunikatif serta ringan tangan.
Tenda yang disediakan bisa muat untuk 3 matras tidur, dan disiapkan juga sleeping bag yang wangi dan bersih supaya tidak kedinginan di malam hari.

Setelah beres-beres tenda, kami berjalan ke danau Situgunung yang berjarak 700meter dari area tenda.  Saat berangkat sih enak, jalannya datar dan menurun.  Tapi ketika pulang, lumayan berat di tanjakan untukku yang sedang flu, nafas satu-satu.......aigoooo
Danau Situgunung indah, karena kami camping di bulan puasa, maka danau sepi. Tapi dengan sepinya itu danau jadi menarik, memberikan ketenangan. Kami banyak mengambil gambar di sini.  Papa dan mama kuat lho berjalan pulang pergi.  Tapi kalau tidak kuat ada jasa ojek.  Aku tidak berani pakai jasa ojek, karena jalannya berbatu, takut tergelincir.  Jalan kaki saja sekalian olahraga.

Dari danau itu kami kembali ke tenda dan charter angkot ke sungai. Sungainya bersih dan ada area tenda di pinggirnya. Area ini lebih sepi, karena hanya berisi sekitar 6 tenda saja.  Air sungai yang dingin tidak menyurutkan keinginan mas Agung untuk berenang di sungai.  Disediakan teh panas dan singkong goreng.....uuuuh enaknya dingin-dingin minum teh panas dan singkong goreng.  Lokasi ini juga lokasi terakhir kalau kita mau ikut tubbing.  Namun kami tidak ikut tubbing karena Dea mau ujian, Alda mau balet.  Tubbing di sini berbeda dengan tubbing di Gua Pindul Yogyakarta yang berair tenang.  Tubbing di Cisaat ini, setiap orang memakai ban sendiri dan meluncur sendiri-sendiri mengikuti arus sungai, meliuk di bebatuan.  Tentu saja alat keselamatannya lengkap, mulai dari pelindung kepala, lutut dan lengan plus pelampung.

Kembali ke tenda, anak-anak dan Albert uji coba kompor buatan yang sudah melalui 9x percobaan pembuatan.  Buat indomie.  Kompor berhasil, namun harus dipikirkan lagi penghalang angin, supaya apinya tidak mati.  Dan jawabannya ketemu saat makan pagi membuat pancake keesokan harinya. Albert sudah memotret kompor buatan Tanakita untuk dicontoh.  Kita pakai di camping berikutnya ya Bet.....

Makan malam dengan menu super banyak......rasanya juga enak. Oh iya snack sore itu Combro dan Pisang Goreng.....kesenangan mas Agung.  Saat makan malam, diiringi musik gitar dan penyanyi yang ternyata para petugas di situ.  Rupanya setiap petugas harus memiliki banyak kemampuan selain menjadi guide, juga bisa memasak, menyanyi, mengemudikan kendaraan.  Selesai makan, karena keluargaku suka musik semua, maka bergabunglah memeriahkan suasana sampai tengah malam.  Sempat terpotong sebentar untuk jalan-jalan melihat kunang-kunang.
Von Trapp dari Bulak Rantai.......senang rasanya melihat Dea, Tista, Alda, Ledy, Albert n mas Agung menyanyi bareng-bareng.

Kesempatan berkumpul dengan keluarga besar sungguh mahal dan berarti.  Mengingat papa dan mama yang sudah berusia diatas 70 tahun, tapi masih sehat, bisa jalan-jalan bersama dan melihat papa mama tersenyum senang, sungguh kemewahan.  Di antara kesibukan yang membuat kami jarang bisa bertemu, menginap semalam bersama sungguh istimewa.  Semoga Tuhan masih memberikan kesempatan kepada keluargaku untuk bisa berlibur bersama-sama lagi.
Syukur kepada Tuhan, saat papa mama masih sehat, anak-anak kami juga sudah dewasa untuk bisa mengingat peristiwa-peristiwa yang menyenangkan bersama eyangnya.
Read More
Be the first to comment!

Thanks God, Thanks to you ..mas Agung

Widya | Wednesday, May 14, 2014 |
Rumah besar tingkat dua plus basement, dengan 5 kamar tidur, 3 kamar mandi yang senantiasa kering, dapur dengan peralatan listrik modern, pemanas ruangan untuk musim dingin, AC sentral untuk musim panas, 2 Smart TV set dengan ukuran besar.  Garasi mobil dengan pintu otomatis. Telepon rumah, TV kabel dan internet 24 jam.  Halaman luas berumput hijau d depan dan belakang rumah.  Lokasi perumahan yang tenang dan aman. Listrik yang tidak pernah padam, air panas dan dingin yang tidak berhenti mengalir.  Pembuangan sampah yang teratur dan bersih. Dibiayai penuh negeri Obama...

Mengalami dan menikmati empat musim yang lengkap.
Musim panas yang berlimpah matahari, dengan siang yang lebih panjang, matahari yang baru terbenam pada pukul 20.30 malam dan sudah terang benderang pada pukul 05.00 pagi.  Laut yang biru dan jernih dengan burung-burung albatros yang gemuk-gemuk melayang ke sana kemari mencari kerang.
Musim gugur yang indah dengan warna-warni daun, merah, oranye, hijau muda, hijau tua, coklat semua seperti lukisan alam yang indah tiada tara.  Matahari yang bersinar diiringi angin sejuk. Pohon-pohon yang kemudian kehilangan daunnya, hanya ranting-ranting tanpa daun.  Angsa yang terbang di angkasa ke arah selatan, berkelompok-kelompok di langit. Squirrel bergerak lincah mengumpulkan makanan dari pohon ke pohon.
Musim dingin bersalju, semua putih... Pengalaman bermain salju, membuat snowman, membersihkan salju dari jalan depan rumah.  Memakai baju berlapis-lapis.  Siang yang pendek, matahari sudah tidak tampak di pukul 16.00 sore dan belum terang pada pukul 07.00 pagi. Sekolah, kantor dan toko yang libur bila salju turun begitu tebal.
Musim semi yang cerah, matahari bersinar dengan selingan hujan dan angin yang dingin. Burung-burung cantik yang berkicau di sekitar rumah.  Sekarang aku tahu mengapa "bird-feeder" banyak dijual.
Empat musim yang bukan main....dengan masing-masing pengalaman yang berbeda. Setiap musim memiliki "dress code" sendiri-sendiri.  Membuat kami berpikir,.."alangkah beratnya menjadi orang miskin tak punya rumah di negeri empat musim...."

Tista bisa pulang dan pergi  sekolah dengan bis sekolah berwarna kuning yang sering tampil di film-film Amerika.  Merasakan cara belajar dan mengajar yang berbeda.  Mengerjakan tugas dan ujian dalam bahasa Inggris.  Belajar, berpikir, membaca, menulis dan berbicara dalam bahasa Inggris setiap saat setiap hari.  Memilih pelajaran untuk satu musim bersama guru konseling. Bergerak dari kelas ke kelas setiap hari.  Memakai locker sebagai tempat menyimpan semua barang. Menghafal setiap jadwal yang berbeda setiap minggu.  Belajar dengan teman dari berbagai tingkat kelas di satu pelajaran.  Dua guru dalam satu kelas.

Dea mengumpulkan banyak uang dan belanja keinginan dan keperluannya sendiri dari uang hasil bekerja sebagai bagger di commisary.  Pengalaman bekerja dengan teman sebaya, orang yang lebih tua.  Melayani pembeli dan menjalin komunikasi.  Berbahasa Inggris setiap hari.  Bisa membeli Mac Air sendiri.  Jalan-jalan dengan bus ke kota lain bersama teman-teman internasionalnya.  Belajar hal-hal baru dari internet.

Mengunjungi Boston yang menjadi rumah bagi Harvard University dan Yale University... Menengok tante dan om di Connecticut dan New Jersey. Nonton Broadway show "Phantom of The Opera" di New York. Jalan-jalan di Disneyworld Florida.  Melihat ibukota negara Obama di Washington DC.  Menikmati keajaiban alam di Grand Canyon Arizona.  Mendatangi Phoenix, rumah bagi beberapa perusahaan besar dunia termasuk Freeport.  Melihat waduk raksasa di perbatasan Nevada.  Terheran-heran dengan kehidupan "The Sin City" Las Vegas yang terletak di gurun. Menikmati Niagara Fall dan rumah pertanian di tengah gunung Morris.

Menikmati pengetahuan dan pengalaman belajar di musium-musium besar yang selalu mengundang untuk kembali.  Musium Holocaust, Musium-musium di komplek Smithsonian di Washington DC,  Musium kapal selam  Battleship di Massachusets.  Musium kapal layar USS Constitution di Boston.  Mengagumi koleksi buku dan interior Perpustakaan Nasional Jefferson Washington yang begitu besar dan indah.  Musium-musium dan perpustakaan-perpustakaan gratis ini menjadi sumber ilmu dan inspirasi yang tak habis-habisnya, suatu kemewahan mencicipi fasilitas negara terkuat di dunia.

Mendapatkan banyak ilmu baru dari internet yang tersedia 24 jam di mana saja, belajar menciptakan karya dengan guru-guru di dunia maya baik yang berbayar maupun yang gratis menjadi pengalaman belajar yang tak ternilai.  Mas Agung belajar fotografi, aku belajar aneka kerajinan tangan, Tista belajar memasak, Dea belajar main gitar dan ikut kuliah online, karena cepatnya internet membuat proses belajar kami begitu menyenangkan.  Memiliki komputer masing-masing menjadi kebutuhan belajar, bukan lagi terbatas kebutuhan kerja atau kebutuhan bergaul, apalagi kebutuhan gaya....walaah jauh deh.  Perpustakaan lokal yang memiliki koleksi demikian banyak, online dengan perpustakaan lokal lainnya, memiliki kegiatan-kegiatan bagus yang gratis juga menjadi tempat yang nyaman untuk belajar, membaca, berkarya. Perpustakaan juga menyediakan informasi berharga dari institusi-institusi yang peduli pada kemajuan warga. Bergabung dengan ribuan mungkin jutaan penduduk negeri-negeri maju yang menjadikan perpustakaan tempat penting dalam menu tetap harian mereka sungguh kesempatan berharga.

Merasakan berkendara dengan mobil automatic dengan roda kemudi di sebelah kiri dan melintasi jalan-jalan lebar, super lebar dan mulus yang melintasi kota kami, antar kota, antar negara bagian, di jalan-jalan desa, bebas macet, membuat acara bermobil bukan siksaan tapi kesenangan.  Jarak jauh tidak menciptakan kelelahan mental bahkan hanya sedikit membuat kelelahan fisik saja. Toko-toko favorit keluarga, toko buku, toko alat-alat kerajinan, toko makanan semua berada dalam jangkauan menit.  Bahkan penunjuk waktu di GPS bisa sangat akurat. Suatu wow yang lain dan berbeda dari tanah air.
Mencicipi kecepatan kereta bawah tanah, hubungan antar moda transportasi, keamanan dan kejelasan penunjuk jalan di moda-moda transportasi umum, pengalaman berharga untuk anak0anak yang seumur hidup belum pernah berhubungan dengan kendaraan umum.

Kesempatan berkenalan dengan belanja online yang membuat mabuk. Belanja tanpa perlu melangkahkan kaki keluar rumah, dengan pilihan yang begitu luas, kesempatan membandingkan harga antar toko, kesempatan melihat review pembeli lain untuk masukan, kecepatan barang tiba di rumah betul-betul memabukkan.  Kesempatan merasakan sendiri keamanan dan kecepatan pengiriman barang, yang selalu ditinggalkan tergeletak di depan pintu dengan aman.  Kesempatan mengetahui bahwa semua pembelian baik online maupun offline bisa dikembalikan bila rusak atau tidak sesuai ukurannya tanpa keributan dan keruwetan panjang.  Privilege diskon militer yang berlaku di banyak tempat-tempat belanja dan hiburan, membuatku kembali mengenang privilege militer dulu yang pernah ada di tanah air.  Bahkan memesan hotel secara online juga terasa praktis dan mudah, mendapatkan jarak hotel dengan tempat wisata, membaca review orang lain, membaca fasilitas tersedia di tiap hotel.  Website-website yang selalu akurat dan baru membuat transaksi online tidak pernah kadaluwarsa.  Thanks to internet.

Mendengar nyanyian aneka burung tanpa harus pergi ke desa-desa terpencil, atau memelihara burung sendiri.  Melihat squirrel melintas naik turun pohon setiap hari.  Memandang kelinci keluar masuk halaman.  Mendengar albatros berteriak-teriak nyaring.  Memandang bintang dari halaman rumah. Pulang kerja dan sekolah sebelum jam 17.00, masih sempat masak, masih sempat makan malam bersama, nonton TV bersama, berbicara satu sama lain, mengerjakan kesenangan masing-masing sebelum masuk jam istirahat.  Memiliki waktu untuk sosialisasi, jalan bersama teman, berkarya bersama sahabat, minum kopi di rumah kawan, belajar bahasa Inggris saat suami dan anak-anak tidak di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, menyiapkan jamuan makan malam.  Berkumpul dengan saudara atau sahabat di akhir minggu.  Kehidupan impianku, yang terwujud selama setahun dan baru terwujud di usia 18-19 tahun usia pernikahan kami.

Berkenalan dengan teman-teman internasional.  Bergaul dan bersosialisasi dengan mereka di acara-acara pagi, malam atau akhir minggu.  Mencicipi aneka makanan dari seluruh dunia yang dimasak oleh orang-orang yang otentik.  Berkenalan dengan budaya-budaya berbeda. Mendapatkan pengayaan rohani dan ilmu dari teman-teman internasional.  Latihan berpikir, mendengar,  dan berbicara dalam bahasa Inggris.  Menambah teman dari berbagai bangsa di Facebook. Mendapatkan resep masakan baru aneka bangsa. Indah dan indah.

Untuk semua itu, aku mengucapkan syukur tak henti. Terimakasih Tuhan karena sudah memberikan kesempatan ini bagi kami.  Terimakasih Tuhan karena sudah memberikan bapak keluarga yang mau bekerja keras, mau berbagi, mau memberikan yang terbaik bagi kami. Terimakasih Tuhan untuk semua penyertaanmu sehingga keluarga kami bisa menikmati semua ciptaanmu, senantiasa sehat dan bahagia.  Terimakasih mas Agung untuk keikhlasan dan kerelaan memberikan kesempatan ini bagiku dan anak-anak.  Terimakasih mas Agung karena sudah berjuang dan bekerja keras mewujudkan impian indah bagi kami.  I love you.




Read More
Be the first to comment!

Being Parent of Teenagers

Widya | Monday, March 10, 2014 |
Setiap masa pertumbuhan dan perkembangan anak-anak, membawa kesenangan dan kerumitan sendiri.
Ketika mereka masih kecil, bila mereka melakukan kehebohan, orang akan bilang "maklum masih anak-anak", atau rumah berantakan tak kunjung rapi, kita akan beralasan "masih punya anak kecil" dan ketika kita tidak bisa mengikuti kegiatan dengan teman-teman, mereka juga akan mengatakan..."masih repot punya anak kecil".  Bayi dan balita tergantung demikian kuat pada keberadaan orang dewasa untuk membantu dan menjaga mereka.
Dan kitapun berkhayal alangkah enaknya nanti kalau anak-anak sudah besar.

Tiba saat anak-anak melangkahkan kaki menuju dunia luar, berkenalan dengan teman sebaya, berkenalan dengan aturan lain selain aturan keluarga.  Sekolah menjadi tempat mereka mengenal teman sebaya dan aturan formal.  Ternyata ada kerumitan lain, "apa kata teman, apa yang dilakukan teman, guruku bilang".  Dan kitapun berakrobat logika dengan mereka, terutama kalau logika orangtua benar-benar berlawanan dengan logika "orang-orang" itu.  Mereka mulai bisa bersuara, berbantah da ber"logika" sendiri.  Kita juga berjuang dengan kenakalan-kenakalan lain...malas, berbohong, lalai.  Akrobat kita juga menjadi lebih heboh terutama karena kita juga dibatasi oleh aturan-aturan pengasuhan yang kalau kita langgar akan menambah kerumitan baru. Dan kitapun berkhayal lagi...tunggu nanti kalau mereka sudah remaja pasti lebih ringan.

Tak terasa mereka sudah remaja, ah ternyata kerumitan tidak berkurang hanya berganti bentuk. Semua hasil akrobat kita sudah menjadi sikap dan tata nilai mereka, namun itu ternyata juga belum cukup.  Mengenal lawan jenis, termakan iklan supaya lebih langsing, memakai produk-produk praktis, mencoba semua bahan kimia demi penampilan, dan pertanyaan-pertanyaan dewasa lain, yang kita dulu tidak pernah tanyakan ke orangtua kita.  Perjuangan baru dimulai, dan kali ini lebih berat.  Berat karena remaja-remaja itu pasti sudah punya logika sendiri, punya langkah yang panjang dan kuat, keberanian yang semakin bertambah, dukungan teman-teman.  Pertolongan Tuhan menjadi andalan utama membawa remaja-remajaku.

Satu hal yang sangat aku syukuri, aku melakukan HOMESCHOOLING.  Pilihan ini membantuku untuk menanamkan aturan dan mendampingi, mengenal satu sama lain lebih panjang dan dekat. Diakui atau tidak, dengan HS aku tidak terbiasa menyerahkan semua masalah pada orang lain atau institusi lain.  Anak-anak lebih mengenal kebiasaan orangtua, demikian juga sebaliknya. Memberikan jawaban seakurat mungkin dengan bukti yang bisa mereka baca dan lihat menjadi andalanku. Membuang rasa malu dan jengah menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka.  Aturan tidak ada rahasia di antara keluarga kami juga menjadi alat bantu yang handal.  Sampai usia mereka yang sudah belasan, aku masih secara acak memeriksa kamar, gadget dan tas-tas mereka. Kenal dan tahu teman-teman mereka juga menjadi kebiasaanku.  Menjadi teman mereka di sosial media menjadi syarat mutlak.
Kalaupun ada kesalahan-kesalahan, semua bisa diselesaikan secepat mungkin.  Tidak ada yang tidak melakukan kesalahan bukan....

Jadi kata siapa nanti kalau sudah besar tugas kita sebagai orangtua lebih ringan.....?

ps : soale bukan termasuk orangtua yang cuek dan sibuk dengan diri sendiri sih....hehehehehehe
Read More
Be the first to comment!

Skate Like A Star, then.......

Widya | Tuesday, February 25, 2014 |
Senin 23 Februari 2014, hari terakhir skate ring di Newport buka.  Setelah itu akan tutup sampai musim dingin berikutnya.
Aku belum pernah melihat anak-anak skate, biasanya mereka pergi dengan teman-teman dan salah satu orangtua akan mengantar dan menjemputnya.
Namun hari ini aku sendiri yang mengantar mereka skate, aku ingin melihat mereka bermain ice skating sebelum pulang ke Indonesia.

Cuaca sangat dingin sore itu, bahkan angin pun sampai bisa terlihat...mungkin saking besar dan dinginnya.
Ice skating hari Senin gratis, cukup sewa sepatu skating 5 dollar per anak.

Dea yang paling happy, karena ada Nick...gak terasa bidadariku sudah besar.  Tista riang bermain dengan sahabat-sahabatnya Anuki, Mizuho dan Joy.

Sampai sore menjelang malam, mas Agung datang dengan David dan Kalana, selesai seminar sore.  Mas Agung memaksa ingin mencoba ice skating, oke...sebentar saja pesanku.  Dua putaran cukup.  Dan yang hebat, dia langsung bisa meluncur di arena ice skating, dengan gaya yang lucu....kami semua terheran-heran dari balik jendela.  Dua putaran, mas Agung berhenti.  Aku di arena skating sibuk memotret Tista dan Dea dengan teman-temannya.

Sampai Buff Wesman datang dan mengatakan keadaan mas Agung gak bagus.  Haaah?
Kenapa?  saat kutanya mas Agung bilang sesak nafas dan memang kelihatan sulit menarik nafas. Aku cepat-cepat meminta anak-anak untuk menyelesaikan permainannya dan segera pulang, supaya mas Agung bisa istirahat.
Kamipun pulang dengan khawatir..
Namun semua berlalu dengan baik, dan setelah ketegangan mereda, mas Agung dan aku mentertawakan diri sendiri.
"honey...lain kali ingatkan aku ya kalau sudah tua....gak boleh semangat-semangat main yang heboh-heboh...." wkwkwkwkkwkwk......
Terimakasih Tuhan, semua sudah lewat dengan baik.  Semoga kami diberi kesehatan prima untuk menyelesaikan tugas kami sebagai orangtua.

Aku juga menirimkan pesan singkat ke teman-teman yang tadi ada bersama kami, supaya mereka tidak khawatir.  Walaupun di negeri orang kami menemukan teman-teman yang ringan tangan ringan kaki,  Kalana dan Gaya (Srilanka), David dan Cherry (Singapore), Derek dan Buff (USA), Jo dan Ning (Thailand), Hiro dan Kaori (Jepang).
We are not alone, we have a good heart friends here....
Semoga Tuhan melindungi mereka selalu.

Dari Gaya, aku baru tahu ternyata mas Agung sempat pingsan, dan dia ketakutan melihat keadaan mas Agung....Gaya bilang untung ada Kalana dan David dekat mas Agung, jadi gak sampai jatuh ke lantai.

Perut kosong, cuaca dingin, tidak pakai baju dingin lengkap, kegiatan fisik mendadak, klop jadi penyebab semuanya.

Mas...ati-ati....ingat-ingat....not too excited....hehehehehehehehe
Read More
Be the first to comment!

Her Voice

Widya | Thursday, January 30, 2014 |
Dea punya suara yang bagus...menurutku.
Ya...ya...you are her mom...you always think she is good...
Hehehehehe
Mungkin saja itu benar, tapi aku termasuk orang yang cukup jujur, so ....menurutku suaranya indah.  Kalau gak percaya coba klik di menu "her singing".

Aku ingat ketika masih kecil Dea selalu senang menyanyi.  Dia sudah kelihatan berbakat saat usianya 6 bulan.  Saat itu aku dengan Dea naik kereta dari Surabaya ke Jakarta.  Sepanjang perjalanan aku menyanyikan lagu "Topi Saya Bundar" sambil berbahasa tubuh.  Dea melihatku dengan mata bulatnya.  Setelah aku nyanyikan dan gerakkan 3x, dia mulai meniru...meniru gerak gerik....  Ketika lagu sampai pada kata "topi", dia akan memegang kepalanya,  pada kata "saya" dia akan memegang dadanya...begitu seterusnya.
Suaraku...? bagus menurut bayi Dea....menurut penumpang lain sih aku gak terlalu peduli hehehehehehe.

Setelah Dea bisa bicara, dia juga mulai menyanyi.  Hebatnya tidak ada suara false yang terdengar. Pada usia 4 tahun Dea sudah bisa dan hafal lagu-lagu Sherina di album pertama.  Lagu-lagu Sherina bukan lagu anak-anak yang mudah ditiru, nadanya sulit meliuk-liuk.  Tapi Dea menyanyikan dengan bagus, tidak false dan bulat.
Setiap kali disuruh menyanyi dia tersenyum lebar dan langsung beraksi dengan sisir di tangan sebagai mic-nya.

Namun semakin besar terlebih di usia remaja, aku semakin jarang mendengarkan suaranya yang indah.  Dia hanya menyanyi kalau moodnya sedang datang, atau justru kalau tidak ada orang lain yang dengar.  Kadang kalau dia menyanyi di panggung pada acara-acara kecil, aku suka kaget, ..."kapan dia belajar lagu itu...ini pertama kali dengar dia menyanyi lagu itu...."

Sekarang Dea suka merekam suaranya di Sound n Cloud app.  Akhirnya aku buka akun di situ juga demi menjadi followernya.  Semua nyanyiannya di situ aku simpan di blog ini.  It is my treasures.

Keep singing n recording girl.  Always love to hear your voice.....
Read More
Be the first to comment!

Working Girl

Widya | Wednesday, January 22, 2014 |
gotcha.....!!   (paparazzi mom..)
Bermula dari kegagalan mencari kelas bahasa Perancis di college setempat, karena penuh, aku menyarankan Dea untuk bekerja saja.
Aku tidak mau Dea menyia-nyiakan kesempatan tinggal di Amerika setahun hanya duduk di depan TV doing nothing.

Seperti prinsip yang aku tanamkan kepada anak-anak, bekerja atau belajar, no leisure for the whole year....
Aku percaya dengan bekerja dia akan mendapatkan banyak pengalaman, berbahasa Inggris setiap hari, menjalin hubungan dengan orang lain baik teman sekerja, teman sebaya, orang tua.  Mengerti cara bekerja yang menyenangkan semua orang. Disiplin dengan waktu dan aturan di tempat kerja.  Mengelola uang. Menghargai jerih payah orang lain.
Aku minta dia untuk melamar sendiri pekerjaan tersebut.

Dea tidak bisa bekerja yang mendapatkan gaji, karena dia tidak memiliki Social Security Number. Pilihan yang ada adalah pekerjaan-pekerjaan yang mendapatkan tips sebagai pemasukan, baby sitter, dll.  Kadang dia menjadi baby sitter.  Menjadi baby sitter memberikan dia pengalaman bergaul dengan anak yang lebih muda, memakai cara berkomunikasi khusus karena mereka berbeda bahasa, berupaya supaya anak-anak itu betah bersamanya selama ditinggal orangtua mereka.

Akhirnya Dea menjadi bagger di Commisary, toko besar serba ada milik Angkatan Laut Amerika. Aku berpesan padanya, untuk bekerja dengan senyum dan gembira, bicara dan bertingkah yang baik.  Jam kerjanya mulai jam 09.00 pagi hingga pukul 15.00 sore.  Pekerjaannya membantu memasukkan barang ke dalam tas plastik dan membawakannya ke kendaraan pelanggan.

Menjadi kejutan, kebahagiaan dan kebanggaan untukku dan mas Agung, karena di akhir hari kerjanya Dea tanpa diminta menyerahkan semua uang hasilnya bekerja seharian untuk disimpan. Untuk membeli sesuatu, Dea masih meminta ijin untuk memakai uangnya sendiri.  Dia juga tidak boros.  Aku senang dia tidak tumbuh jadi gadis yang semaunya sendiri dan menjadi gadis muda yang penuh pertimbangan. Dea bisa menahan diri untuk tidak membelanjakan semua uangnya dan menghargai jerih payahnya sendiri.

Aku juga senang karena dia tidak minder dengan pekerjaannya, berangkat dengan senang hati, bergaul dengan banyak orang dengan mudah.  Uang yang dihasilkan cukup banyak.  Aku tanyakan apa triknya dia bisa dapat uang sebanyak itu.  Dan dia bilang..."aku ajak bicara ma...kalau aku lihat dia beli dog food, aku tanya anjingnya jenis apa, cerita juga kalau aku punya anjing 3 di Indonesia.  Kalau orangnya beli makanan bayi, aku tanya anaknya laki apa perempuan, umur berapa....  Pokoknya aku ajak ngobrol.  Tadinya mau kasih 1 dollar jadi 5 dollar..."
Smart as usual....my girl.

Salah satu teman bertanya, .."apakah tidak masalah mbak, anak-anak bekerja seperti itu?"
Masalah..?  Malu maksudnya...?
Tidak...semua pekerjaan yang tidak melanggar hukum agama, hukum negara dan mengganggu ketertiban umum adalah pekerjaan baik.  Anak-anak masih muda, pilihan dan kesempatan mereka masih terbatas, apapun yang tersedia selama tidak melanggar hukum tiga tadi selalu lebih baik daripada duduk di depan TV dan minta uang pada orangtua.

Aku selalu bilang pada semua teman-teman kalau Dea kerja di Commisary....tanggapan mereka positif.  Orang Barat menghargai sekali anak muda yang mau kerja keras.
Dea sudah jadi promosi anak muda Indonesia juga suka kerja keras...
hmmm


Read More
2 Comments so far

Sut Jepang

Widya | Sunday, January 19, 2014 |
Cerita ini terjadi saat anakku yang besar kelas 5 SD....


Di meja makan suatu siang,..."kenapa koq ingin punya suami bule?"...
"Iya ma..mereka kan cakep-cakep dan aku nanti bisa tinggal di negara lain..."
Dalam hatiku..."lho koq motivasinya cari bule mirip sama orang-orang yang mau cari green card tho?"....

Abis itu mikir...seandainya percakapan ini terjadi di generasi atasku atau mungkin juga di keluarga lain, mungkin hasilnya gak akan sesantai ini....anak-anak selalu bicara apa adanya...

Eh mereka masih lanjutkan....
"ma kita berdua besok kalau sudah besar mau punya suami bule"....
"tapi mereka itu jarang mandi lho...!" kataku sambil cengar cengir....alasan yang sangat payah....
aku teruskan..."lagian mereka beda budaya lho ...nanti kamu susah ketemu mama, harus ijin dulu
kalau mau nginep di rumah mbak Dea atau adik...mana pasti jauh lagi....kalau mama rindu bagaimana dong...?"
"ongkosnya mahal...papa mama kalau sudah pensiun gak punya uang banyak-banyak dik, mbak.."
Efek homeschooling...susah sekali mau berpisah sama anak-anak.

Bungsuku yang selalu spontan...tiba-tiba punya ide....."mbak Dea kita suit yuk...siapa nanti yang urus mama kalau kita sudah besar..."
Aku melongo lihat polah mereka....dan mereka langsung suuuit ala Jepang, batu jari gunting.... dengan kemenangan si kakak.
Dengan sportif si bungsu langsung bilang....."iyaaa kalah....kamu cari bule kalu gitu mbak, tapi nanti anaknya kasih aku satu ya.....aku cari orang Jawa aja biar bisa dekat mama...!"

Si kakak sorak-sorak....."horeee....aku dapat bule...!"....mungkin sedang mengkhayal punya pasangan seperti penyanyi grup Westlife idolanya...halaaaah mbaak....kamu koq lucu sekali tho sayang....

"Mama nanti tinggal sama aku ya.." kata si mungil santai sambil melanjutkan suapannya....dan aku juga ikut gaya kakaknya.....
"horeeee mama tinggal sama Tista, jadi bisa terus ciumin kamu ya dik....."

Tapi aku sangat yakin mereka anak-anak manis yang tidak akan meninggalkan orangtuanya kesepian, karena mereka dibesarkan dengan cinta
Kututup percakapan itu dengan......"mama selalu mendoakan kalian dapat pasangan yang seiman, yang takut Tuhan, mencintai kalian dan keluarga, memiliki masa depan yang baik, jujur, rajin dan bertanggung jawab, penuh kasih dan sbar, berasal dari keluarga baik-baik yang harmonis...."

I love you girls....
Read More
Be the first to comment!

Dinner at home

Widya | Sunday, January 19, 2014 |
Ketika berangkat ke Amerika, kami sudah tahu akan ada kebiasaan dinner di rumah teman-teman internasional. Saat itu kami memutuskan tidak akan mengundang siapapun ke rumah, karena dari cerita teman yang sudah berangkat, mereka juga tidak mengundang orang untuk makan di rumah.
Tapi dengan berjalannya waktu dan banyaknya undangan yang kami terima, kamipun berubah pikiran.  Roso orang Jawa mulai bermain....."gak enak makan terus tapi gak pernah ajak makan di rumah"....hehehehehehe

Undangan pertama yang akan datang adalah para sponsor kami...Robert n Michelle Flynn dan Jim n Betsy Sullivan.  Hanya 2 pasang keluarga dan 3 anak kecil yang akan jadi tamu kami, tapi rasanya seperti mengundang banyak orang....maklum tidak pernah mengundang orang makan dan harus masak sendiri siapkan sendiri tanpa pembantu.  Di Jakarta, untuk makanan biasanya pesan, untuk atur-atur rumah ada orang lain yang bantu.
Belum lagi bayangan undangan yang sudah pernah kami terima jadi referensi, meja makan tidak ada yang datar-datar saja, semua ditata dengan indah.

Selain putar otak untuk dekorasi, karena peralatan terbatas, tidak mungkin meminta terus kepada pemilik rumah untuk melengkapi supaya sempurna, juga putar otak untuk menu yang bisa disiapkan dengan mudah dan dapat diterima orang-orang yang tidak berlidah Asia.  Belum lagi ada pantangan-pantangan dari teman-teman kami.  Pernak-pernik yang belum lengkap kami cari di toko thrift shop Saver....toko barang bekas...bahasa kerennya Second Hand....tempat lilin, piring makan, mangkuk-mangkuk, hiasan meja, taplak.

Akhirnya untuk undangan pertama ini, kami memilih Soto Ayam lengkap, Empal Daging, Semur Daging Cincang, untuk makanan utama.  Risoles ragout untuk makanan pembuka. Puding Coklat saus Vanila dan Peach untuk hidangan penutup. Masakan Jawa Tengah yang manis bukan keahlianku, karena di rumah keluarga besarku yang berasal dari Jawa Timur kami tidak pernah makan lauk-lauk yang bercita rasa manis.  Maka Empal Daging yang harus memiliki rasa manis jadi tantangan....akan jadi enak apa jadi hancur.  Belum lagi menggoreng daging yang berbalur gula merah, pasti minyak akan berlimpah warna hitam gula merah yang lengket dan mengambang, pokoknya untukku masakan ini menyebalkan.  Aku bilang ke mas Agung, "this is the first and the last, I will never cook this Empal again, wasting my oil and my patient....."
Kata Dea..."gak apa ma, bule gak tau rasa Empal yang bener kayak apa....yang penting empuk dan bisa dirasakan manis dan gurih asinnya, sudahlah...."
She is more like me to handle stress....que sera sera...whatever will be will be...
But thanks mb Dea....you comfort me a lot.
Empal buatanku akhirnya jadi...dan rasanya lumayan, bisa dinikmati dengan nasi panas....

Untukku kali pertama ini tidak terlalu memuaskan, ada beberapa hal yang belum pas....masih ada kekurangan di sana sini.  Risoles seharusnya dipanaskan dengan microwave sebentar setelah digoreng atau sebelum di goreng, karena disimpan di kulkas.  Dari kulkas langsung digoreng, dari luar oke tapi dalamnya tidak panas, hanya hangat....not good.  Kuah Soto seharusnya kuning jernih tapi kali ini lebih coklat, mungkin kesalahan merebus ayam atau memilih panci, belum ketemu solusinya.  perkedel kentang, kentang bule ini gak bagus dibuat perkedel, karena rasanya bening berair...kentangnya kalau dihancurkan ada nuansa bening....dan benar hancur ketika digoreng, jadi sepertinya sisa kentang akan kubuat pastel tutup saja jadi bisa disendok.  Mungkin harus memakai kentang yang kecil-kecil seperti kentang untuk rendang.....tapi berapa tahun ngupasnya yaaa...

But it is oke.... Senang semua sudah berlalu dengan baik.  Anak-anak sangat membantu, baik saat persiapan, saat berlangsung dan sesudahnya.  Mereka bisa jadi tuan rumah yang baik untuk menemani anak-anak kecil supaya tidak berulah dan bisa bersikap manis.  Mas Agung juga sibuk mengatur dan membersihkan ruangan, membeli kekurangan sampai harus bolak balik supermarket 3x.
Pesta ini membuat keluarga kami belajar bekerja sama secara positif.




Read More
Be the first to comment!

Wredhatama

Widya | Sunday, January 19, 2014 |
Ini cerita yang sudah lama terjadi, kira-kira 6 tahun lalu, ketika Tista masih berusia 9 thn.  Unik dan sebelum lupa, aku tuliskan di sini.

Lebaran, adalah perayaan kemenangan umat Islam setelah berpuasa 30 hari. Pada perayaan Idul Fitri, kebiasaan keluarga besar mas Agung adalah berkunjung ke kakak ibu di Bogor, pakde Karto dan bude Tin, seorang pensiunan perwira Kopaskas AURI dan kepala sekolah TK Meksindo Bogor.  Di sana pasti bertemu dengan saudara-saudara yang hanya kami jumpai setahun sekali. Ya, saudara-saudara itu kebanyakan adalah kakak adik dan keponakan bude yang bersilahturahmi ke rumah pakde bude.  Rumah pakde dan bude menjadi rumah inti keluarga besar bude, karena ibu bude Tin tinggal bersama beliau.

Ibu bude akrab dipanggil mbah Sempur dan sudah berusia 90 tahun lebih, beliau masih sehat secara fisik, masih bisa makan dan jalan, namun sudah pikun. Mbah Sempur wafat pada usia 99 tahun.
Mbah Sempur wanita yang cantik, bahkan hingga tua pun tetap cantik seperti priyayi jaman dulu dengan kulit terang dan bersih.
Selalu tersenyum, tapi hanya ditemani pakde, bude dan orang-orangtua sebaya ibu mertuaku. Generasi yang lebih muda dari pakde bude hanya menyalami dan setelah itu menghindar. Semua tidak sabar untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama setiap beberapa menit....hehehehehe.
Untuk Tista yang berhati lembut, hal itu menjadi catatan khusus di benaknya.

-------------------------------------------------  end  -------------------------------------------------------------

Suatu ketika aku dan Tista sedang membuat prakarya bersama, kami berdua memiliki hobbi dan kesenangan yang sama, crafty....  Sambil berkarya kami mengobrol tentang dirinya, tentang perasaannya, cita-citanya, tentang kami berdua, tentang mimpi yang bisa kami bagi, juga tentang uneg-uneg kami berdua.  Hubungan aku dan mas Agung dengan anak-anak sangat dekat.  Namun hubunganku dengan putri-putriku lebih akrab, karena kami sama-sama perempuan.  Istimewa dengan Tista, karena dia tidak pernah menyimpan rahasia atau uneg-uneg dariku.  Dea juga dekat, namun Dea lebih tertutup dari Tista, baru akan bercerita kalau dia yakin ceritanya memiliki happy ending.  Dengan Dea, aku harus bertanya-tanya lebih banyak.  Tapi dengan Tista tidak perlu mengkorek-korek, dia akan cerita apa saja yang ingin dia ceritakan.

Diantara obrolan itu, terjadi percakapan menarik :
Aku :  Tis, kalau besok mama sudah tua, mama ikut kamu aja boleh ?
Tista  : boleh ma....iya mama sama aku ya...tapi kalau mama sudah tuaaaa sekali kasihan kalau                ikut aku terus
Aku  :  kenapa kasihan....?
Tista : iya nanti mama sendirian, anak-anakku gak ada yang mau temani mama....
Aku  : koq bisa begitu ya...
Tista : iya ma....nanti mama sama anakku pasti gak nyambung kalau ngobrol, kayak eyang yang             di Bogor itu,...sendirian terus....
Aku  : kan ada kamu...? kamu gak mau ngobrol sama mama ?
Tista : aku kan kerja ma....paling bisa temani mama cuma Sabtu - Minggu, terus Senin sampai                 Jumat mama sepi gak ada yang temani mama
Aku  : terus...kalau gitu solusinya apa ya..?
Tista : mama tinggal di panti Jompo aja....
Aku  : kenapa tinggal di panti Jompo ?
Tista : iya ....kalau di panti Jompo kan semuanya tua, jadi mama pasti nyambung ngobrolnya,                 mama gak akan kesepian, ada yang urus juga...terus mama bisa kerjakan prakarya sama               teman-teman mama....
Aku  : ohhh gitu ya....bagus tuh alasannya Tis, tapi kalau pantinya jelek mama gak mau....yang               mahal ya ....
Tista : iya dong...yang mahal, yang bagus....nanti aku carikan yang paling bagus buat mama...
Aku  : siapa yang bayar....mama kan gak punya uang banyak kalau sudah tua...
Tista : mbak Dea sama aku yang bayar....
Aku  : terus mama gak ketemu kamu dan mbak Dea dong....
Tista : ketemu ma....setiap Sabtu Minggu mama aku jemput, gantian sama mbak Dea.  Kita                     nonton, makan di restoran sama-sama dengan mbak Dea, terus mama tidur sama aku....
Aku  : oh gitu ya.....setuju....tapi yang bagus lho Tis....ya janji....
Tista : pasti ma.....
Aku  : I love you sayang
Tista : I love you too mama.....


Shocking....? Mungkin...
Tapi untukku tidak...dia punya analisa bagus yang masuk akal.  Dari hasil pengamatan harus ada solusi....dan untuk anak usia 9thn itu solusinya....
Dia tidak mau mamanya kesepian dan ditinggalkan sendiri dalam keramaian karena pikun atau tidak memiliki topik yang menarik untuk kedua pihak.

Panti Jompo sendiri termasuk dalam mimpi yang ingin kumiliki.  Ingin punya panti Jompo yang bagus, bersih, lengkap, ada kolam renang, ada ruang olahraga, ada ruang prakarya, ada perpustakaan, ada klinik, ada salon kecil, ada dapur dan ruang makan yang indah.  Semua penghuninya bisa melakukan hobinya masing-masing di situ.  Panti yang berada di lingkungan yang hijau, sejuk dan bersih sangat nyaman untuk orang-orang tua menghabiskan sisa usia dengan rekan sebayanya.

Wredhatama.....

Read More
Be the first to comment!

Happy New Year

Widya | Wednesday, January 01, 2014 |
Banyak peristiwa sudah terlalui sepanjang 2013.
Akhir tahun 2012 (Nov 20) mas Agung menyelesaikan pendidikan 9 bulannya di Sesko TNI Bandung. Setiap week-end mas Agung kembali ke Jakarta dan kamipun hafal dengan rasa masakan restoran Bakmi Golek Cibubur yang menjadi tempat rendevouz dengan teman yang memiliki mobil untuk kembali ke Bandung, sampai terucap...."tidak akan ke  Bakmi  Golek lagi setahun....wis mblenek...." hehehehehehe.
Setelah dijalani ya akhirnya selesai dengan baik juga, Puji Tuhan.

Awal tahun 2013 kami disibukkan dengan urusan rumah baru yang tak kunjung selesai walaupun sudah hampir setahun lebih dibangun, bersaing dengan lama waktu pembangunan mall Cibubur yang baru milik Ciputra Group....
Bertujuh dengan Dolfi sekeluarga kami menempati rumah lama yang terasa sempit karena tubuh keluarga Dolfi juga besar-besar.  Bersaing merebutkan ruang dengan dus-dus yang belum bisa dibongkar karena tidak ada tempat. Wis kayak pengungsi tenanan.....
Namun akhirnya kamipun  masuk rumah baru yang lebih besar dan memang terasa besar karena kami tidak punya perabot pada bulan Maret 2013.  Puji Tuhan..

Tahun 2013 juga aku lupa tanggal dan bulannya, Dea di terima di London School. Urusan administrasi dan open house London School semakin menguatkan pilihanku dan Dea untuk meneruskan menggali ilmu di LSPR.
Tista juga menyelesaikan ujian SMPnya di SMP PGRI Ciputat dengan nilai yang baik.  Urusan pendidikan anak-anak juga berlalu dengan lancar.  Puji Tuhan

Tengah tahun 2013, kabar baik dan kabar buruk.  Bertepatan dengan kesibukkan kami mempersiapkan keberangkatan ke Amerika karena mas Agung ternyata mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan setingkat Lemhanas di NCC, Naval War College, Rhode Island USA, kami juga harus bersedih dengan kecelakaan lalu lintas yang menimpa Kristin.
Sekolah di hot-seat every navy officer around the world want membanggakan dan menyenangkan. Dari tuturan teman-teman internasional dan direktur sekolah, pendidikan ini menjadi idaman setiap perwira di negara masing-masing, dan para  perwira Angkatan Laut Amerika.  Berusia tua dengan program studi yang sangat baik membuat pendidikan di sini diakui oleh berbagai negara. Membanggakan keluarga besar kami, mas Agung bisa mendapatkan kesempatan belajar di sini.
Menyenangkan, karena ini kesempatan bagi aku dan anak-anak untuk bisa merasakan kehidupan dan pengalaman di negeri adidaya, yang pasti juga menjadi negara tujuan dalam mimpi setiap orang untuk bisa mengunjungi.  Dan kami memiliki kesempatan 11 bulan tinggal dan melihat negeri besar dan super power ini. Puji Tuhan.

Kristin adalah adik ipar kami nomer tiga, memiliki wajah dan postur menarik sebagai anggota Korps Wanita Angkatan Laut Indonesia, bersuara indah karena dia penyanyi dari Surabaya yang pernah ke Jepang sebagai hadiah kemenangan mengikuti lomba menyanyi di kotanya.  Kristin dan Punjung memiliki 2 anak perempuan yang masih muda, Vanda duduk di kelas 5 SD dan Ocha yang baru akan masuk TK.  Kristin, wanita yang banyak tersenyum, renyah tertawa membuat keluarga besar kami terasa lengkap dangan canda dan lagu. Dia juga ibu yang tergolong sabar menghadapi putri-putrinya...terutama kalau dibandingkan dengan diriku... :-)
Kristin mengalami kecelakaan motor ketika mencari susu untuk Ocha.  Motornya tersenggol motor lain.
Mas Agung dan dik Punjung membawa Kristin ke RSAL Mintohardjo. Kristin koma selama 3 hari.
23 Juli 2013, jam 03.00 dini hari telepon mas Agung berdering, dan putus.  Tak lama telponku berdering dan dengan cepat kusambar....di ujung aku hanya mendengar teriakan dik Punjung menyebut namaku dan Kristin.  Tanpa banyak kata aku menutup telpon dan segera berkemas ke Rumah Sakit.  Kebetulan mama papa tidur di rumah.  Aku menitipkan urusan packing yang belum selesai pada mama, dan kamipun berangkat ke RS dalam diam.
Kristin pergi mengahdap Bapa di surga di hari yang sama ketika kami juga harus terbang ke Amerika pada malam harinya.
Dalam kedukaan kami tetap bersyukur karena memiliki kesempatan mengurusnya hingga akhir. Memandikan, mendoakan dalam misa arwah sebelum ke makam, mendampingin dik Punjung menerima tamu-tamu pembesar angkatan laut.
Semoga engkau bahagia di surga dik.  Kami mencintai dan merindukanmu selalu.
Pukul 20.00 kami berangkat ke Amerika diantar mama papa n Anton.

Amerika, negeri baru. Mas Agung mulai belajar, bertemu teman baru. Tista mendapat pengalaman belajar di SMA negeri Middletown, Dea bekerja di Commisary.
Bertemu dengan om dan tante yang lama tidak jumpa, berjumpa dengan sepupu yang sudah lama tinggal di Amerika.  Mengenal budaya dan kebiasaan-kebiasaan baru.  Belajar knitting dan patchwork dengan orang-orang tua yang murah hati dan hangat.
Puji Tuhan.

Akhir tahun kami merayakan Natal dengan misa malam Natal di gereja Katholik ritus Timur, sungguh kekayaan rohani baru yang memperkaya pengetahuan kami.  Liburan di taman hiburan paling terkenal di seluruh dunia Disney World Orlando, Sea World Orlando dan Universal Studios Orlando. Mengendarai kendaraan Kia Sedona 2005 dengan light engine yang terus menyala, melewati perbatasan 5 negara bagian. Tidur dalam dingin di rest area sekitar Savannah. Mengunjungi museum yang sungguh spektakuler, monumen Abraham Lincoln, Capitol House dan kantor kedutaan Indonesia di Washington DC.  Bertemu dengan dubes Indonesia Bpk Dinno Patti Jalal yang terkenal, berkenalan dengan mas Helmi Johanes penyiar VOA yang ngetop sekeluarga.
Dan akhirnya kami menutup 2013 di rumah athan Indonesia Brigjen TNI Witjaksono, dapat kenang-kenangan sanggul dan tas batik....(terimakasih ibu Etti).
Walaupun kondisi Dea dan mas Agung tidak terlalu sehat karena terserang batuk dan masuk angin tapi kami sungguh bersyukur karena Tuhan sudah begitu baik dan selalu menyertai perjalanan kami hingga hari ini.

Semoga tahun 2014 akan menjadi tahun yang membawa berkat dan anugerah lain untuk kami, untuk keluarga besar kami, untuk teman-teman dan sahabat kami dan untuk bangsa kami Indonesa.

HAPPY NEW YEAR 2014......

Read More
Be the first to comment!

Love Letter

Widya | Wednesday, November 06, 2013 |
Surat cinta adalah salah satu bentuk komunikasi yang sering digunakan sepasang kekasih untuk menyampaikan isi hati, pikiran, kerinduan, cita-cita dan harapan.  Di jaman sekarang sudah tidak banyak pasangan yang menulis surat cinta.  Pasangan sekarang memakai SMS atau bentuk sosial media lain di alat komunikasi masing-masing.  Namun satu yang tidak berubah, isi surat cinta.

Isi surat cinta tidak berubah dari jaman dulu hingga sekarang.  Harapan, cinta, perhatian, mimpi.
Dulu semasa pacaran hingga pernikahan awal, aku biasa berkirim surat dengan pacar yang kemudian menjadi suamiku kini.  Surat-surat kami susul menyusul.  Dapat dikatakan perkenalan kami terjalin melalui surat, karena kami tinggal berjauhan, lain kota kadang lain negara.  Begitu juga setelah menikah, surat-suratan tetap kami lakukan karena tugas suami yang tidak selalu berada di sisiku.

Kini setelah jaman semakin bertambah maju, kami berdua sudah memakai alat komunikasi yang semakin canggih, kebiasaan surat menyurat tetap kami lakukan.  Ya setidaknya aku paling sering mengiriminya surat melalui email, yang bisa langsung dibaca di cellphone kami.
Mengirim surat membuat kami jarang bertengkar, dan aku merasa sangat efektif.

Dalam  perjalanan perkawinan tentu banyak hal yang belum tentu sesuai.  Tentang anak, gaya hidup, kebiasaan, harapan, pekerjaan, hubungan, keluarga besar dan lain-lain. Aku ingat pesan ahli bijak bestari, "jangan menyimpan masalah, karena daya tahan manusia terbatas.  Selesaikan semuanya sebelum menjadi tak tertahankan dan meledak tak terkendali."  Namun untuk mencapai kesepakatan bukan hal yang mudah, karena manusia pada dasarnya tidak ingin berada di posisi kalah atau terdesak.

Surat menjadi pilihanku untuk menyampaikan maksud.  Berbicara secara langsung terkadang hanya membuat masing-masing pihak bertambah panas dan jengkel, sementara maksud sesungguhnya belum tersampaikan. Ada banyak kendala dalam komunikasi langsung, nada suara, mimik wajah, sikap tubuh, waktu tidak tepat, dan lain sebagainya.
Aku mensiasatinya dengan surat.  Surat menghilangkan semua kendala yang terdapat dalam komunikasi langsung.  Waktu membaca bisa dipilih sesuai kesempatan, tidak ada nada memojokkan terdengar, tidak mimik tak enak untuk dilihat.
Setelah mengirim surat, bila masalahnya memerlukan diskusi lebih lanjut, kami mencari waktu untuk bicara dengan nyaman.  Menjadi nyaman karena 90% isi pikiran sudah diketahui pasangan, hanya mencari 10% keseimbangan lanjutan.

Tapi di atas semua itu karena kami berdua saling menyayangi dan mau saling menyenangkan.  Ada pepatah lain, "marriage is not about you, it is about the person you love, you want make her/him happy and to share everything in the future with her/him"


I love letters....
Read More
Be the first to comment!

Selamat Ulangtahun Sayang

Widya | Saturday, October 19, 2013 |
Bulan lalu, tgl 6 September 2013 anakku tersayang akan berusia 17 tahun....
Begitu cepatnya waktu berlalu, rasanya ingin kembali ke masa lalu, ketika kamu masih bayi sayang....

17 tahun lalu, kamu lahir membawa kebanggaan dan kebahagiaan bagi mama, papa dan semua keluarga besar....yangti yangkung tante dan om....
mb Dea lahir dengan berat 3.5kg, bayi cantik berkulit putih, pipi merah dengan mata yang dihiasi alis indah....kelahiranmu gak ditunggui papa, karena papa layar....tapi papa menitipkan nama Amadea...."seseorang yang mencintai Tuhan"....dan karena mama ingin kamu menjadi anak pintar maka nama Saraswati ditambahkan...
Saraswati adalah dewi buku dan ilmu pengetahuan dalam mytologi Hindu...
Bunda Maria menjadi pelindungmu seumur hidupmu.....
maka namamu adalah sebuah doa supaya kelak kau menjadi anak perempuan pandai yang taat pada Tuhan seperti Bunda Maria yang menjadi pelindungmu.....

Begitu besar dan banyak harapan ditumpukan padamu sayang.....
Dan mb Dea tidak mengecewakan...bayi lucu yang pandai, dengan tawa tergelak2 dan suara empuk menggemaskan....
Mb Dea cepat bicara, bisa menyanyi dan mengerti banyak kata dalam usia sangat muda......
Sungguh anak yang berbakat....dan menyenangkan.....

Sekarang mama rindu saat2 kau tertawa tergelak2, menari berputar2, menyanyi dengan merdu dan berani ....

Semakin besar mb Dea menjadi remaja yang kalem.....ah sayang....kemana gelak tawamu yang empuk....
Semakin besar, semakin cantik.....

Mama papa selalu mendoakan yang terbaik untukmu sayang, semoga mb Dea semakin bijaksana, selalu dalam lindungan Tuhan, mampu meraih cita2 dan memberikan banyak kebaikan dan kebahagiaan bagi orang lain.......

U re will remain my sweet baby forever my dear.....

Semoga Tuhan memberikan semua yang kau perlukan dan menjagamu dengan penuh cinta jiwa dan raga.....

Love u always
Read More

Translate

Button

Warna Warni Perjalanan