Loading
Showing posts with label Oleh Oleh. Show all posts
Showing posts with label Oleh Oleh. Show all posts

Sababay Wine

Widya | Saturday, September 29, 2018 |



Suatu sore mas Agung tanya, "honey mau ikut gak, diundang makan sama Bank Mandiri."
iih makaan...ya ikut dong, kalau undangna naik sepeda gak ikut, kecuali roda tiga sepedanya.
Tapi karena hari Minggu kami ke gereja dulu, misa jam terakhir di St Yoseph, Pontianak.  Sebetulnya pulang gereja itu sudah malam buat makan, jam 21 kita baru selesai misa.  mana perutku mendadak mules pula, harus pulang dulu bertapa.  Sebelum berangkat mas Agung nanya dulu, masih pada nunggu enggak.



Ke hotel .....lupa namanya. Naik ke lantai 4, langsung masuk di club dengan suara house music dan DJ kencang sekali.  Aku gak terlalu suka club house music, suaranya keras dengan musik apa itu gak jelas, yang enak di klub seperti ini hanya acara minumnya saja hahahahhaha......  Aku sama mas Agung biasanya ke klub seperti ini kalau ada undangan manten di Surabaya dan kebetulan ketemunya sama teman-teman yang suka clubbing, abis pesta masuk kamar, ganti baju copot sanggul, turun lagi clubbing. Kami pernah sampai jam 4 pagi clubbing, rasanya sudah kangen bantal, tapi ini regu masih pada mau makan nasi cumi pinggir jalan.....alamaaak....kagak lapar eike tapi ngantuuuuuk.  Mana tahu itu nasi cumi paling terkenal sak Surabaya enak apa enggak,....mata sepet.

Back to acara undangan Bank Mandiri, ternyata ada kenalan baru buat kita berdua.  Mas Yohan Handoyo dari Sababay Wine. Surprise betul.....
Beberapa hari lalu dapat kiriman WA grup yang mengabarkan kalau Indonesia sudah punya wine unggulan dari Bali, yang sudah memenangkan beberapa kejuaraan internasional.  Di dunia perlidahan, yang namanya juara wine atau juara kopi atau juara bir, itu pasti betulan spektakuler, karena lidah para juri-juri itu betul-betul sensitif, gak kayak lidah standart kita yang hanya bisa merasakan manis, asem, asin, enak dan gak enak saja.  Lha diantara berbagai kopi aja mereka para ahli kopi itu bisa tahu mana yang enak dan gak enak....padahal kopi itu dicicip tanpa campuran, dikulum dilepeh,.....kalau aku sih pasti bilang pahit semua.
Kenalan dengan orang besar yang masih muda dari perusahaan kebanggaan Indonesia, jadi kesempatan untuk wawancara tentang Sababay.  Seperti biasa aku selalu gak tahu tapi selalu kagum dengan orang-orang berprestasi.  Setelah ngobrol lama dan tukar akun IG, baru tahu kalau mas Yohan ini salah satu ahli wine (sommelier) Indonesia yang disekolahkan ke Perancis atas promosi bapak William Wongso.  Manalah aku tak tahu master gastronomi William Wongso, satu dari sangat sedikit expert kuliner tingkat atas Indonesia dan ahli wine.  Dan sekarang malah kenal, ngobrol dan ketawa-ketawa dengan sommelier Indonesia yang dikenal di dunia.
Indonesia gak punya banyak ahli wine, karena minum wine bukan bagian budaya bangsa ini.

Sababay, diambil dari nama teluk Saba di Bali, dibaca Saba - bey....asal muasalnya bisa dibaca di web lokal rasa internasional http://sababaywinery.com/our-story
Secara garis besar  awal winery ini ada, karena rasa prihatin seorang wanita terhadap nasib petani anggur Bali.  Rasa asem anggur Bali sudah sejak dulu terkenal, sehingga anggur ini berharga murah, hanya 5000 rupiah per kilo dan hanya dipakai untuk kelengkapan sajen saja.  Petani tanam susah payah, tapi harga jual super murah, miskin seumur hidup walau sudah berkeringat.  Ibu Mulyati Gozali yang peduli dengan nasib petani Bali berkeinginan membalik nasib petani Bali.  Kemuliaan dan janji Tuhan, menolong orang lain akan memberikan "kemuliaan" dan rejeki tak putus, bahkan rejekinya bukan hanya dinikmati petani Bali tapi juga bangsa Indonesia, yang saat ini sedang giat-giatnya memposisikan diri di dunia dengan berbagai cara.
Presiden Jokowi sangat mendukung kaum muda dan anak bangsa yang menciptakan apa saja untuk Indonesia Jaya.

Dari mas Yohan ini pula aku baru tahu kalau minuman beralkohol tidak boleh dipromosikan.  Waduh gimana ini mau ngetop di Indonesia ya?  Menurut dia, dengan mengadakan acara seperti makan malam tadi itu cara promosi di Indonesia. Ealaaah....berarti yang tahu hanya kalangan terbatas ya, hanya sesama penggemar wine saja.  Okelah,.....kalau gitu saya yang akan promosi di sosial media saya saja.....hahahahaha......
Mulai saat ini harus minum wine lokal dan promosikan sebanyak-banyaknya.

Wine Sababay dengan 6 jenisnya, kemarin diperkenalkan 3 rasa, 2 jenis Red Wine dan 1 jenis White Wine karena aku makan udang.  Menurut mas Yohan white wine membuat rasa ikan lebih manis, tapi red wine membuat rasa udang jadi pahit tidak enak.  Waktu dia tanya suka white apa red ?, aku jawab semua suka. Mau red atau white libaaaas......mungkin dalam hati dia bilang.."wah ini mah kagak paham wine, asal tenggak aja"  hehehhehehhehehehe....iya sih mas, saya cuma tahu enak dan enak sekali, manis dan sepet.  Sepet aja diminum, apalagi manis, pasti diminum dengan pujian.....


Kabar keren lagi dari Sababay, anggur misa di gereja Katolik akan didukung dari winery teluk Saba Bali....wuiiih keren.  Sekali lagi Tuhan memberikan kemuliaan bagi orang yang memikirkan dan berbuat untuk  orang susah.  Mudah-mudahan akan menjadi anggur misa seluruh gereja Katolik di dunia.

Sukses buat mas Yohan Handoyo, sukses buat Sababay, sukses buat Bali dan sukses untuk Indonesia Satu  (yang belakangan agak kampanye, karena 2019 thn depan pilpres dan Joko Widodo memegang nomo urut 1 😁😁😁)
Read More
Be the first to comment!

Gypsi Wife

Widya | Friday, September 28, 2018 |
Suatu ketika buka FaceBook, melintas postingan mbak Tarti Soeparwoto tentang kelas online patchwork dengan Gypsi Wife.....naah ini dia yang kutunggu. Mbak Tarti seorang quilter dan seniman patchwork yang luar biasa.  Karya-karyanya unik di mataku, aku bisa tahu hasil karya mbak Tarti jika dijejerkan dengan karya quilter lain.  Warna dan desainnya khas, mungkin juga pemakaina bahan batik menjadi ciri khasnya.  Yang jelas hasil karya mbak Tarti itu nyeni dan eyecatching.  Beberapa karyanya malah desain sendiri dari koleksi foto pribadinya.  Memindahkan foto jepretan sendiri ke kain itu sesuatu yang wow banget, tak kan disamai orang lain.  Suatu hari nanti siapa tahu mbak Tarti mau menularkan ilmunya ini....ngareeeep lagi.  Betul-betul seorang master.

Belajar pada seorang master selalu ingin kulakukan, sayang mbak Tarti jauh di Pekan Baru, dengan posisku yang mengikuti suami bertugas menajdi sulitlah untuk diriku belajar pada cik gu yang super ini.  Sampai aku melihat postingan belajar online itu.  Aaaaah ini namanya pucuk dicinta ulam tiba.  Aku memutuskan saat itu juga harus ikut.  Ternyata setelah mbak Tarti pindah ke Jakarta, mbak Tarti ingin tetap menjalin hubungan dengan murid-muridnya di Pekan Baru, dan calon murid sepertiku ini kebagian rejeki belajar pada sang guru.  Terimakasih Tuhan karena menggerakkan mbak Tarti tinggal di Jakarta 😃😃😃.

Gypsi Wife Patchwork menjadi pelajaran patchwork perdanaku dengan cik gu Tarti.  Teman-teman yang belajar di grup yang sama semua sangat berbakat dan pintar-pintar.  Bukan hanya dari cik gu aku belajar, tapi juga dari teman-teman sesama murid yang mungkin malah sebagian besar mereka juga sudah master..... Guruku banyak dan ilmuku jadi banyak juga.

Bahan untuk Gypsi Wife ini aku siapkan sendiri, aku beli dari Bali Batik Iki, karena kata cik gu wanita Gypsi itu berani menabrak-nabrakkan warna, maka jadi kesempatan untukku pakai semua warna yang aku suka.  Toh karya perdana ini akan jadi koleksiku kan.  
Pola Gypsi Wife diberikan setiap hari satu block. Dan dalam satu bulan sudah jadi karya patchwork seukuran tempat tidur.....betul-betul spektakuler untukku, karena ini karya terbesar pertamaku.
Melihat hasilnya aku heran sendiri, ternyata kalau mau, aku bisa bikin karya segede ini dalam sebulan.  Langsung ada penyesalan kenapaaaaa tidak dari muda saja, kemana saja aku dulu....sekarang rasanya aku harus berlomba dengan umur untuk bisa bikin karya-karya besar seperti ini.  Mudah-mudahan mabk Tarti dan teman-temanku sehat semua, aku sehat juga dan kita tetap bisa menjahit bareng sampai rambut kita tak tersisa hitamnya.


Read More
Be the first to comment!

Lace Applique Bersama Adida 4

Widya | Friday, September 28, 2018 |
Suatu hari dihubungi oleh mbak Maria Magdalena, seorang wanita serba bisa yang kukenal melalui Face Book, karena kami berdua menjalankan pendidikan homeschooling untuk anak-anak kami.  Serba bisa dan punya minat yang banyak di bidang ketrampilan, sepertinya sama kayak aku, wanita geleman kalau berurusan dengan bikin yang cantik-cantik.  Blognya http://www.limeleaves.biz/ bahkan sudah menjadi blog bisnis.  Disana beliau menjual desain dan hasil karyanya. Yang bikin aku kagum dan pengin bisa lagi itu adalah kemampuannya untuk membuat desain sendiri.  Mungkin suatu hari dia mau jadi mentor desain crafting dengan komputer....ngareeep.

Kalau kita sudah pernah bikin patchwork, kita akan tahu untuk membuat desainnya bukan hal mudah.  Menyamakan pola satu dengan pola lain hingga membentuk gambar yang bagus itu tidak gampang.  Ukuran tidak sama hasilnya pasti tidak akan ketemu dengan gambar-gambar di sebelahnya.  Menjahit desain orang saja tidak mudah, memilih kain yang cocok, bisa bikin kepala  nyut-nyutan, apalagi membayangkan desain dibuat dengan cara manual dan trial and error saja perut langsung mules, kepala langsung pusing.  Ilmu belum sampai kesana.

Melalui pesan FB messenger mbak Maria menawarkanku untuk ikut belajar online menjahit Lace Applique.  Appliquenya aku tahu dan sudah pernah bikin saat aku masih SMP. Tapi embel-embel Lace nya itu tidak tahu.  Seperti biasa, sesuatu yang belum kuketahui selalu memancing penasaran. Aku iyakan untuk bergabung di Adida 4 bersama teman-teman lain dari berbagai kota.

Proses belajar dan menjahit bersama ini akan berlangsung selama 6 bulan, satu pola setiap bulan. Pola akan dikirimkan melalui email yang harus kita cetak, kita rangkai menjadi pola utuh.  Untuk merangkai pola utuh ini juga harus agak mikir sedikit, karena pola yang dikirim hanya potongan seperempat pola, sehingga mencetak dan mengcopy dengan sistem cermin harus dilakukan.  Pola jadinya ternyata cukup besar.  Setiap anggota menyiapkan kain sendiri sesuai selera warna masing-masing.  Kain gelap dan terang untuk membedakan Lace dan Backgroundnya, dan kain berwarna lain untuk bunga di tengah Lace.  Setiap pola Lace dibuat untuk 2 bulan, namun bunga di tengah berbeda setiap bulan.  Menjadi kewajiban semua peserta untuk menyelesaikan satu pola setiap akhir bulan dengan mengirimkan foto jadi.  Tidak dapat menyelesaikan satu pola, maka otomatis akan dikeluarkan dari grup wa dan tidak dapat mengikuti pola berikutnya.  Keharusan untuk selesai ini membuatku semangat mengerjakan.  Tanpa deadline mungkin proyek ini tak kan selesai sama sekali.

Satu hal yang membuat proyek ini sebetulnya bisa diselesaikan tepat waktu adalah pembuatannya dengan tangan, semua dijahit dengan tangan, tanpa mesin.  Sehingga potongan kain, jarum dan benang bisa kita bawa kemana saja dan jahit kapan saja.  Aku biasa membawa jahitan ini ke kegiatan organisasi, menemani suami nonton TV, atau saat berkendaraan.

Perjalanan belajar ini memiliki cerita berbeda-beda. Di bagian lace sejak awal tak ada kesulitan. Namun di aplikasi bunga menemukan kesulitan.  Sebetulnya sudah pernah belajar bikin batang itu harus dengan kain yang dipotong serong supaya bisa lengkung, tapi teori itu lupa, sehingga di lace pertama batang bunganya kaku.  Di pola bulan kedua batang sudah berbeda cara pembuatannya hingga lebih bagus.  Tapi aplikasi bunga belum presisi seperti milik teman-teman lain.   Ternyata ada perbedaan cara.  Seharusnya pola bunga dan daun semua digambarkan juga di kain background, kemudian potongan-potongan kain itu ditempelkan sesuai pola gambar tadi.  Dan itu tidak kulakukan, maka bunga yang terjahit posisi dan jarak tak sesuai pola yang diberikan.  Di pola ketiga hal itu baru diperbaiki.

Namun aku tak pernah membongkar pekerjaan yang salah.  Biarlah itu jadi pelajaran dan malah bisa dilihat kembali sambil mempelajari kesalahan dalam perjalanan.
Hasil bergabung dengan Adida 4 aku simpan di https://www.instagram.com/p/BboKc6olun3/?taken-by=ide_dan_jemari

Terimakasih mbak Maria Magdalena, terimakasih teman-teman Adida yang selalu saling menyemangati.  Menanti untuk perjalanan menjahit bersama berikutnya.
Read More
1 Comment so far

Cerita Seru Jalagita sepanjang April dan Mei 2018

Widya | Friday, June 08, 2018 |


April 2018 adalah bulan tersibuk untuk Jalagita.  Diawali dengan tampil di HUT Dharma Pertiwi tanggal 17.  Ini kali ketiga kami tampil di acara puncak HUT Dharma Pertini, dengan ibu ketua umum Dharma Pertiwi yang baru, ibu Nani Hadi Cahyanto.  Sebagai satu-satunya wakil dari unsur Jalasenastri, kami bertekad untuk tidak tampil memalukan.  Dan hasilnya kami mendapatkan kesempatan untuk tampil kembali di Istana Bogor dalam rangka hari Kartini tanggal 21.  Ibu Nora Ryamizard, ketua panitia hari Kartini Nasional yang juga adalah istri menteri pertahanan di kabinet Kerja presiden Joko Widodo, yang meminta kami untuk tampil bersama tim Orchestra TNI AL.  Kami takin AL dan Jalasenastri sangat banaga, karena tim orkestra dan kolintangnya menjadi satu-satunya hiburan di Istana.  Kami bermain bersama mengiringi peragawati dari TNI Polri.

Seusai tampil kami mendapatkan kesempatan yang membahagiakan,.......berfoto bersama presiden Joko Widodo dan ibu Irina.  Lucu kejadiannya.  Saat itu kami belum beranjak pulang karena masih ingin betfoto-foto di sekitar istana  Tak sengaja aku menoleh ke ahah istana, dan tampak presiden kebanggaan Indonesia sedang berfoto dengan istri-istri menteri Kabinet Kerja.  Otomatis, aku berbalik dan melambai-lambaikan selendang minta foto, mau maju tapi dilarang paspampres....tapi tak mau menyerah aku teriak-teriak....paaak.....paak.... dan ibu Yudo ikut juga berteriak-teriak.....diingatkan oleh Ketua Umum Jalasenastri ibu Ade Supandi, untuk tidak berteriak-teriak, tapi kami bandel.....hahahahahahha......akhirnya presiden memberi kode untuk berbaris di depan beliau.....wuuuiiiih langsung lari secepat kilat diikuti anggota Jalagita, ibu Yudo Margono, ibu Ade Supandi, ibu Ari Atmaja, ibu Chiko Irawan, mbak Widi, Kiki Denni Hendrata, Yuni Iwan.......hahahhhahahahha......lupakan status, yang pending bisa foto dengan Presiden di Istana Bogor.
Melihat kami bisa berfoto dengan presiden, tim orkestra juga tak mau kalah, mau ambil posisi menggantikan tempat kami.   Hari yang tak kan terlupakan untuk Jalagita.

Aku sempatkan untuk pulang ke Pontianak sebentar, karena ketua usum Dharma Pertiwi akan berkunjung ke Pontianak.  Tapi baru turun dari pesawat ada pesan masuk untuk segera kembali ke Jakarta besok pagi karena Jalagita harus rekaman, perintah KSAL.  Aduuuuh.....langsung malam itu juga mengumpulkan kasi-kasi dan waket Korcab XII di rumah, untuk membicarakan persiapan apa såja yang perlu dilakukan.  Sampai jam 0100 dinihari, rapat selesai.  Dan sudah diputuskan oleh ibu Waketum, ibu Ina Taufiqurahman bahwa ketua daerah Armabar ibu Yudo akan berada di Pontianak selama kunjungan Ketum Dharma Pertiwi.  Mungkin sepanjang sejarah ya baru ini ada ketua Korcab digtntikan Ketut Daerahnya.  Mohon maaf ya mbak Vero.....bukan maksud hatiku.   Terimakasih banyak mbak Vero.  Aku sungguh beruntung memiliki senior-senior yang sangat memahami dan mau membantu.  Kunjungan berlangsung sukses, dan ketua Daerah juga happy karena anggota Korcab XII semua siap.  Terimakasih ya ibu-ibu sayang.  Thanks to my love too for supporting me.

Kembali ke Jakarta pagi hari dengan pesawat jam 0600, badan sudah mulai merasa tidak nyaman. Batuk, pusing dan demam.  Dari bandära langsung menuju Cilandak untuk latihan.  Kami hanya punya hari ini saja untuk latihan, sebelum besok rekaman di kantor PP.  Agak santai karena rekaman kami tak perlu menghafal semua lagu, bisa melihat partitur, walau begitu pukulan tetap tak boleh salah.

Rekaman berjalan lancar, walau kepala terasa berat dan demam masih tak mau pergi. Dari semula hanya 10 lagu, kami teruskan sampai 13 lagu  yang sudah menjadi koleksi Jalagita.  Pukul 1830 rekaman selesai.  Rencananya rekaman ini akan menjadi isi goodie bag saat pisah sambut KSAL.  Sungguh suatu kehormatan untuk Jalagita.

Dari rekaman, tak lama berselang kami harus mengisi acara Navy Gathering and Dinner, Tribute for Admiral Ade Supandi.  Kami memainkan tiga lagu, Mojang Priangan, Wanita dan Yamko Rambe Yamko dengan koreografi yang rancak.  Sayang sound system tak  begitu bagus, sehingga makantar/penyanyi tak bisa mendengarkan kolintang, terasa seperti susul-susulan.  Begitu juga makantar menyanyi dengan suara yang kadang keras kadang pelan.  Dengan tamu seluruh perwira Angkatan Laut dari seluruh Indonesia sungguh sayang tak bisa tampil maksimal karena sound system kurang baik.

Masih berlanjut dengan penampilan di kantor PP , karena ibu Ketum Jalasenastri mengundang ibu Ketua Umum Dharma Pertiwi,  Ketua Umum Persit KCK, Ketua Umum Pia AG untuk meresmikan museum Bintarti dan gedung Jala Kriya.  Dua lagu baru Balada Pelaut dan Don't  Forget To Remember.......ini penampilan paling kocak selama karier Jalagita.  Lagu Balada Pelaut, 7 pemain semua hilang ketukan, hanya bass dan melodi satu bermain lancar.  Kami semua saling melihat dan senyum selebar mungkin, geli karena kami betul-betul tidak paham bagaimana harus memukul alat kami.  Ternyata kalau ada pemain yang salah tempo dan ketukan, pemain lain tak akan mendapatkan ritme yang pas walaupun kuncinya hafal.  Betul-betul aransemen mantap pak Boy sang maestro.  Yang bikin lucu lagi, makantar tak menyadari bahwa pemain di belaag mereka tidak memukul dengan benar....hahahahahhahahaha
Di lagu kedua giliran makantar seperti penyanyi sakit gigi, masuknya ragu-ragu, ucapannya tidak jelas, karena lagunya tidak hafal.  Pemain ?  ooooh mulus .....semua notasi terpukul dengan baik.

Penutup kegiatan Jalagita sepanjang April - Mei 2018 adalah tampil di acara memorandum Ketua Umum Dharma Pertiwi tanggal 25 Mei 2018.  kami hanya memainkan satu lagu "Wanita" ciptaan Ismail Marzuki, yang kami mainkan dengan manis sebagai kado penutup bagi Ketua Umum Jalasenastri yang akan melakukan serah terima jabatan kepada ketua umum baru ibu Manik Siwi Sukmaaji





Read More
Be the first to comment!

Jalagita 2017

Widya | Friday, June 02, 2017 |
Suatu kali di awal April, aku mendapat telepon dari ibu waketum Jalasenastri, Ibu Ina Taufiqurahman.  Ibu teteh biasa beliau di sapa, meminta tim Jalagita 2016 untuk tampil di HUT Puncak Dharma Pertiwi tgl 18 April.  Kami hanya memiliki waktu 6x latihan untuk menyiapkan 3 buah lagu.  Aku langsung menghubungi setiap pemain untuk segera menyiapkan diri berlatih kembali.

Pada saat gladi bersih, dari 3 lagu yang sudah kami siapkan, hanya 1 lagu yang boleh dibawakan, dan diminta untuk menyiapkan 1 lagu lain.  Secepat kilat kami melatih lagu Aryati, yang sesungguhnya belum pernah kami mainkan dalam grup ini.  Hanya pemain dari Armabar saja yang pernah berlatih lagu ini.  Walaupun sambil ngomel, karena lagu-lagu yang boleh dan tidak boleh dimainkan seharusnya dikomunikasikan sejak awal, kami berusaha keras supaya tampil baik dan tidak memalukan Jalasenastri dan khususnya tidak memalukan kami sendiri sebagai juara pertama tahun lalu.  Akhirnya penonton pun terheran-heran, karena kami tampil maksimal dengan koreografi gerakan dan tarian pula.  Mereka pun akhirnya berkata ....."memang kalau pemain profesional itu beda ya....."😂

Jalagita tahun ini beranggotakan ibu-ibu Jalasenastri dari wilayah Barat dan Timur sekaligus.  Sungguh komplit kalau hendak dikatakan mewakili Jalasenastri.  4 orang dari Armabar, 1 dari Pushidros, 2 dari Lantamal III Jakarta, 3 dari Pasmar 2, 2 dari Kodiklatal Surabaya.
Kali ini, komandan regunya aku, karena mas Agung sudah menjadi Pati.  Ibu Trusono sebelumnya adalah komandan regu kami, namun beliau sudah tidak bermain lagi, karena pak Trusono sudah menyandang pangkat bintang tiga.  Mungkin dianggap terlalu senior.  Anggota termuda kami hanya berselisih jarak 5 tahun dari Dea, lebih cocok jadi anak daripada rekan.....😆

Selesai menunaikan tugas tampil di Dharma Pertiwi, ibu teteh memberikan tugas baru mengikuti lomba kolintang piala Ibu Negara di Semarang.  Tugas yang kami terima dengan jantung berdegup kencang.  Konsultasi dengan pak Boy Makalew, pelatih kami bukan membuat kami tenang, malah semakin jantungan.  Bagaimana tidak ?  Pak Boy mengatakan, biasanya untuk lomba nasional seperti ini, persiapan 3 bulan, tapi kami hanya punya waktu kurang lebih 1 bulan såja.  Pak Boy juga memiliki jadwal yang padat karena tim-tim binaan pak Boy juga akan mengikuti lomba dalam rangka HUT Jalasenastri.  Akhirnya pak Boy meminta koleganya pak Berty Rarun untuk membantu melatih kami.  Total waktu latihan kami hanya bisa berlatih 18 kali saja.  Setelah berjalan beberapa kali, kamipun merasa perlu bimbingan pelatih vokal, dan akhirnya Daniel Papilaya yang baru berusia 25 tahun menjadi pelatih vokal Jalagita.

Lagu wajib Ilir-ilir karya Sunan Kalijogo, menjadi tantangan sendiri.  Karena mayoritas pemain orang Jawa, kami menyadari, lagu ini tidak dapat dibawakan secara sembarangan.  Lagu yang berisi petuah dan memiliki daya magis ini kami mainkan dengan baik dengan koreografi gerakan yang manis dan sopan.  Aransemen lagu ini temakan waktu hampir 5 menit sendiri, maka untuk lagu pilihan Melati di Tapal Batas, hanya memiliki waktu sekitar 3 menit saja, karena kami dibatasi waktu tampil 9 menit untuk dua buah lagu.  Aransemen Melati di Tapal Batas juga ciamik, sayang waktunya terbatas, andai lebih lama, aku yakin pak Berty akan membuatnya lebih cantik lagi.

Latihan yang berlangsung setiap hari, membuat daya tahan pemain jatuh silih berganti.  Kami harus banyak berdoa dan berusaha untuk dapat memainkan aransemen yang bagus dan rumit.  Menjaga kesehatan, saling mendukung, saling melatih di pukulan-pukulan sulit, saling bersabar hati, saling mengingatkan pantangan masing-masing.  Ketatnya jadwal, meninggalkan anak-anak yang sedang ujian atau ulangan umum sungguh menguras emosi sebagian besar anggota tim, antara menjalankan tugas organiskas dan tugas mendampingi anak-anak di saat-saat pentingnya, membuat emosi naik dan turun.  Namun sebagai ketua tim, aku sungguh terbantu dengan karakter anggota tim yang positif dan ceria.  Tak ada hal yang tidak dapat kami diskusikan bersama.  Mulai dari membuat gerakan, memilih asesoris, merekayasa kostum, memilih menu makan dan lain-lain.

Kerja keras, dan kekuatan batin kami akhirnya berbuah manis.  Jalagita berhasil meraih juara pertama Kategori A dan berhasil merebut piala bergilir Ibu Negara dari juara bertahan Kemuning Putih dari Bea Cukai.  Selain itu, Jalagita juga berhasil meraih aransemen terbaik dari semua kategori.  Hadiah indah buat pelatih kami Pak Boy Makalew dan Pak Berty Rarun.

Video diunggah ke Youtube oleh pemain melodi Jalagita, Arba Joevita




Read More
Be the first to comment!

Camping di Tanakita Camping Ground

Widya | Wednesday, July 20, 2016 | |
Tanakita camping ground berada di kawasan taman nasional Gede Pangrango.  Kalau kita dari Jakarta  ke Sukabumi melalui Ciawi, terus saja ikuti jalan utama ke Sukabumi.  Melewati kawasan berikat pabrik-pabrik, pasar-pasar tradisional, kawasan wisata Lido, Sekolah Polisi Negara Lido hingga menemui Polres Cisaat.  Sebelum Polres Cisaat itu belok kiri, melewati Pusat Pelatihan Icuk Sugiarto, pebulu tangkis nasional. Terus menanjak hingga masuk gapura Kawasan Taman Nasional Gede Pangrango.

Awal mengajak papa dan mama yang sudah berusia cukup lanjut, ada keraguan, karena biasanya daerah camping ini menanjak untuk sampai lokasi tenda.  Tapi ketika kendaraan kami bisa parkir di sisi area tenda, semua kekhawatiran sirna. Kami datang cukup pagi, karena kami berangkat jam 0500 pagi dari Ciangsana Cibubur, sehingga kurang lebih jam 0900 kami sudah tiba lebih dulu di Tanakita. Cepat-cepat kukirim pesan pendek ke mama, mengabarkan kemudahan dan kenyamanan yang bisa dinikmati orang-orang usia lanjut.  Mobil hanya parkir sementara di sisi area kemah, untuk menurunkan orang dan barang saja, nanti mobil akan diparkirkan oleh petugas ke tempat parkir yang sudah tersedia.
Satu lagi kemudahan, kalau tidak ingin mengalami macet di sepanjang jalan ke Sukabumi, bisa naik taksi dari Jakarta ke Stasiun Bogor, dan naik kereta ke Cisaat. Nanti dijemput oleh angkot yang sudah kita koordinasikan dengan pengelola Camping Ground sebelumnya.  Cukup membayar 100rb rupiah untuk satu angkot.

Camping di Tanakita, tidak perlu membawa logistik sendiri, kopi dan teh tersedia 24 jam, self service.  Makan pagi, siang dan malam plus 3 kali snack sudah disediakan.  Termasuk acara api unggun dengan jagung bakar dan wedang ronde.  Pokoknya gak sempat kelaparan.  Tapi kalau takut tidak bisa makan atau punya makanan kesenangan sendiri, bisa bawa dan masak sendiri.  Dapurnya boleh dipinjam.  Yang paling menarik makan pagi, selain nasi dan kelengkapannya, disiapkan bahan pan cake dengan kompor buatan sendiri.  Bisa membuat pancake sendiri, tentu saja anak-anak yang plaing senang.  Mereka bisa pura-pura sedang berjualan pancake dengan melayani pesanan anggota keluarga.

Kami memilih 4 tenda di pojok, 2 menghadap Selatan, 2 menghadap Barat, sehingga masih ada wilayah kosong di pojok area kami, untuk nanti kegiatan memasak dengan kompor percobaan papanya Alda.  Untuk setiap rombongan disediakan satu tour guide yang akan mengantar kami kemana kami mau dan menawarkan kegiatan apa saja yang bisa kami lakukan.  Tour guide kami bernama Asep, sopan dan komunikatif serta ringan tangan.
Tenda yang disediakan bisa muat untuk 3 matras tidur, dan disiapkan juga sleeping bag yang wangi dan bersih supaya tidak kedinginan di malam hari.

Setelah beres-beres tenda, kami berjalan ke danau Situgunung yang berjarak 700meter dari area tenda.  Saat berangkat sih enak, jalannya datar dan menurun.  Tapi ketika pulang, lumayan berat di tanjakan untukku yang sedang flu, nafas satu-satu.......aigoooo
Danau Situgunung indah, karena kami camping di bulan puasa, maka danau sepi. Tapi dengan sepinya itu danau jadi menarik, memberikan ketenangan. Kami banyak mengambil gambar di sini.  Papa dan mama kuat lho berjalan pulang pergi.  Tapi kalau tidak kuat ada jasa ojek.  Aku tidak berani pakai jasa ojek, karena jalannya berbatu, takut tergelincir.  Jalan kaki saja sekalian olahraga.

Dari danau itu kami kembali ke tenda dan charter angkot ke sungai. Sungainya bersih dan ada area tenda di pinggirnya. Area ini lebih sepi, karena hanya berisi sekitar 6 tenda saja.  Air sungai yang dingin tidak menyurutkan keinginan mas Agung untuk berenang di sungai.  Disediakan teh panas dan singkong goreng.....uuuuh enaknya dingin-dingin minum teh panas dan singkong goreng.  Lokasi ini juga lokasi terakhir kalau kita mau ikut tubbing.  Namun kami tidak ikut tubbing karena Dea mau ujian, Alda mau balet.  Tubbing di sini berbeda dengan tubbing di Gua Pindul Yogyakarta yang berair tenang.  Tubbing di Cisaat ini, setiap orang memakai ban sendiri dan meluncur sendiri-sendiri mengikuti arus sungai, meliuk di bebatuan.  Tentu saja alat keselamatannya lengkap, mulai dari pelindung kepala, lutut dan lengan plus pelampung.

Kembali ke tenda, anak-anak dan Albert uji coba kompor buatan yang sudah melalui 9x percobaan pembuatan.  Buat indomie.  Kompor berhasil, namun harus dipikirkan lagi penghalang angin, supaya apinya tidak mati.  Dan jawabannya ketemu saat makan pagi membuat pancake keesokan harinya. Albert sudah memotret kompor buatan Tanakita untuk dicontoh.  Kita pakai di camping berikutnya ya Bet.....

Makan malam dengan menu super banyak......rasanya juga enak. Oh iya snack sore itu Combro dan Pisang Goreng.....kesenangan mas Agung.  Saat makan malam, diiringi musik gitar dan penyanyi yang ternyata para petugas di situ.  Rupanya setiap petugas harus memiliki banyak kemampuan selain menjadi guide, juga bisa memasak, menyanyi, mengemudikan kendaraan.  Selesai makan, karena keluargaku suka musik semua, maka bergabunglah memeriahkan suasana sampai tengah malam.  Sempat terpotong sebentar untuk jalan-jalan melihat kunang-kunang.
Von Trapp dari Bulak Rantai.......senang rasanya melihat Dea, Tista, Alda, Ledy, Albert n mas Agung menyanyi bareng-bareng.

Kesempatan berkumpul dengan keluarga besar sungguh mahal dan berarti.  Mengingat papa dan mama yang sudah berusia diatas 70 tahun, tapi masih sehat, bisa jalan-jalan bersama dan melihat papa mama tersenyum senang, sungguh kemewahan.  Di antara kesibukan yang membuat kami jarang bisa bertemu, menginap semalam bersama sungguh istimewa.  Semoga Tuhan masih memberikan kesempatan kepada keluargaku untuk bisa berlibur bersama-sama lagi.
Syukur kepada Tuhan, saat papa mama masih sehat, anak-anak kami juga sudah dewasa untuk bisa mengingat peristiwa-peristiwa yang menyenangkan bersama eyangnya.
Read More
Be the first to comment!

Main Kolintang

Widya | Wednesday, July 20, 2016 |
Kolintang alat Musik tradisional dari Menado, Sulawesi Utara.  Terbuat dari kayu yang tersusun dari nada rendah ke nada tinggi.  Dalam satu set terdapat 9 alat dengan nama dan bunyi yang berbeda.  Kesembilan alat itu dimainkan dengan cara dipukul, namun memiliki variasi pukulan yang berbeda dan saling mengisi sehingga menjadi lagu yang indah. Bermain kolintang tidak bisa saling meniru pukulan alat lain, masing-masing pemain harus menghafal pukulannya sendiri.

Kesempatanku bermain kolintang datang ketika ada lomba yang diselenggarakan oleh Dharma Pertiwi, dalam rangka ulangtahun Dharma Pertiwi tahun 2016.  Kebetulan aku menjadi ketua seksi budaya di kepengurusan  Daerah Jalasenastri Armada Barat, yang bertanggung jawab untuk lomba kolintang mewakili Jalasenastri.  Awalnya yang bermain untuk alat kolintang jenis Cello bukan diriku, namun mencari pemain lain sunguh sulit.  Akhirnya kupaksa diriku untuk bisa menghafalkan kunci lagu dan pukulannya.  Karena ini untuk lomba, maka aransemen dibuat lebih sulit.
Sementara rekan-rekan lain sudah berlatih 5 kali, aku harus mengejar dalam semalam untuk menguasai alatku.  Sepanjang malam aku menghafalkan partitur dan mendengarkan rekaman yang ada.
Cara belajarku yang menghafalkan kunci C dimainkan sekian kali sebelum pindah ke kunci berikutnya, membuat aku harus menghafal sekian kunci dan sekian not.
Aku bukan seorang pemain musik yang bisa mendengarkan lagu lalu menyesuaikan kuncinya....aku menghafal semua isi partitur dan bermain dengan menghitung.
Sering not-notnya aku bunyikan, dengan pelafalan berbeda tapi bunyinya sama.....nada do sol mi pindah ke kombinasi re fa la tapi bunyinya sama.....mas Agung dan anak-anakku yang sangat musikal tertawa melihat dan mendengar caraku belajar.
Ingat jaman SMA dulu saat aku menghafal partitur paduan suara dalam mobil sepanjang jalan ke sekolah, mungkin saking tidak tahan mendengarkan suaraku, papa bilang...."mbak kamu itu membunyikan nada sol sama mi koq sama..." .....hahahahahahaha......
Caraku menghafal ini juga tidak bisa sambung dengan teman-teman yang lebih musical, kalau kita mau menyamakan nada, mereka akan bilang syair atau bagian lagunya....sementara aku tidak hafal syair dan bagian lagu, aku akan tanya di partitur halaman berapa bagian yang mana, dan merekapun bingung menjawabnya.......ternyata setiap orang memiliki cara sendiri untuk menghafalkan.

Lagu yang kami mainkan saat itu, Manuk Dadali dan Dari Sabang Sampai Merauke.  Alat yang biasa kami pakai berlatih dan alat yang akan dimainkan saat lomba ternyata berbeda ukuran.  Sebagai pemain amatir, perbedaan alat bisa membuat kami lupa semua not dan pukulan.  Hati kami sempat panik.  Sepertinya harus berlatih dengan alat yang memiliki ukuran yang sama dengan alat yang akan dimainkan itu.  Akhirnya kami pindah tempat latihan dari Armabar ke Pasmar di Cilandak.  Agak lumayan mengobati kepanikan.  Usaha dan latihan kami tidak sia-sia, tim gabungan  Jalasenastri meraih juara pertama.  Horeeeeeee.........

Setelah perlombaan itu, Armabar tetap meneruskan berlatih sebagai persiapan lomba berikutnya.  Di bawah asuhan pelatih senior pak Boy Makalew kami menyiapkan 2 buah lagu Neng  Geulis dan Nenek Moyangku.  Lawan terberat kami tim Pasmar 2, yang sebagian anggotanya adalah teman-teman seperjuangan kami saat lomba di Dharma Pertiwi.  Kami saling tahu kemampuan masing-masing.  Pelatih kami pak Boy, memegang 4 tim, juga mengatakan hal yang sama.  Tim Armabar akan menjadi lawan terberat tim Pasmar 2, tergantung mana yang lebih siap saat lomba, dengan aransemen yang hampir sama sulitnya di lagu wajib Nenek Moyangku.  Lomba yang kontroversial, salah satu juri bukan juri yang menguasai atau dapat bermain kolintang.  Saat kami naik panggung, ketika melirik barisan juri, hati kecilku sudah berbisik ada sesuatu yang akan merugikan tim kami.  Dan bisikan hatiku menjadi kenyataan, kami kalah total, bahkan dari tim dengan aransemen sederhana dan penyanyi bersuara false.  Tidak satupun nomor kami raih.  Setelah mendengarkan rekaman lomba, semakin jelas kalau lomba ini layak mendapat julukan lomba yang kontroversial.

Kekalahan tim kami, malah membuat kami bertekad berlatih terus dengan aransemen yang semakin sulit.  Dan aku memang minta kepada pelatih untuk memberikan aransemen lagu yang sulit dan lebih rumit.  pelatih kami memberikan lagu Logika yang aransemennya keriting.  Memerlukan 6 kali pertemuan untuk mengerti alur bermainnya.  Dan karena kami akan tampil lagi di acara intern, latihan dipacu menjadi setiap hari di minggu terakhir plus masih ditambah satu lagu baru lagi yang lebih mudah.  Total kami harus menghafalkan 2 lagu baru dan 2 lagu lama. 4 lagu.....!!!
Untuk pemain profesional mungkin ini bukan hal yang sulit.  Tapi aku baru bermain alat ini di usia menjelang 50 tahun, dan ini adalah prestasi.
Ternyata otak kita kalau dipaksa dengan semangat dan keinginan bisa menghafal dengan baik.

Bermain musik itu mencerdaskan kata para ahli, mungkin aku akan merasakan manfaatnya dalam beberapa tahun ke depan.


Read More
Be the first to comment!

2016......Jadi Guru

Widya | Saturday, February 06, 2016 |
Hal baru yang aku senang kerjakan adalah handycraft.    Sesuatu yang aku temukan belakangan setelah aku mencintai kegiatan membaca dan kemudian memasak.  Membaca sudah jadi makanan pokok sejak aku kecil, kemudian di usia 12 tahun aku mulai suka memasak, tiada hari tanpa praktek resep baru.  Jadi koki dan kerja di hotel adalah impianku yang tidak pernah berubah, dan aku memang sempat jadi koki di Aryaduta Jakarta saat masih bergabung dengan Hyatt.  Kemudian hari-hariku disibukkan dengan mengurus anak-anak. Setelah anak-anak besar, mereka memasak sendiri dengan selera mereka masing-masing, kegiatan memasakku pun berhenti setelah sempat jualan kue dan roti beberapa tahun sambil antar jemput anak-anak.
Baru di tahun 2010, aku mulai belajar patchwork dan segala hal yang berhubungan dengan kain dan mesin jahit, yang kemudian berlanjut ke clay, wire weaving.  Di Amerika aku belajar knitting dan tatting untuk melengkapi crochet yang sudah pernah aku tekuni sebelumnya.  Mama bilang ..."padahal dari dulu kamu sudah mama kenalkan dengan hal-hal ini, tetapi koq gak pernah tertarik....."  Aku juga gak tahu kenapa selalu terlambat menyadari potensi lain dalam diri sendiri.  Hal yang paling akhir aku pelajari adalah wire weaving, shibori dan paling belakang decoupage.

Kemana selama ini hasil karyaku....? aku simpan atau aku bagi-bagi untuk souvenir atau kado Natal. Mungkin hal ini yang bikin mas Agung suka ngomel, koq semua dipelajari tapi gak ada yang kelihatan.  Iya gak kelihatan wong barangnya kalau gak dipakai sendiri ya di kasihkan ke orang....hehehehehe.

Paruh ketiga tahun 2015, aku ditugaskan oleh Jalasenastri untuk membuat pelatihan bagi ibu-ibu Jalasenastri di lingkungan Armada Barat.  Bersama adik-adikku, dik Yanti Oke dan dik Yuli Monang, kami memberikan demo pelatihan pembuatan kotak souvenir dan gantungan kunci, yang kemudian dilanjutkan dengan pelatihan perorangan. Saat itu aku hanya bertindak sebagai fasilitator saja.  Adik-adikku yang mengajar 2  ketrampilan itu.  Dari kegiatan itu, aku dan adik-adikku kemudian berpikir untuk bergabung, dan melanjutkan kegiatan kami ke tahap berikutnya, mengingat penugasan suami tidak selalu di Armabar.  Tapi itu cerita lain yaaaa......

Awal tahun 2016, 2 orang teman ingin belajar wire weaving. Rasanya maju mundur untuk menentukan biaya belajar.  Mengingat di luar biaya belajar wire weaving tidak ada yang murah. Paling murah 500rb.  Aku ingat punya keinginan untuk menularkan ilmu dengan biaya yang tidak terlalu tinggi, supaya banyak orang mau belajar. Aku hitung-hitung biayanya, dan aku coba menawarkan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Dan mereka mau.  Murid pertamaku, 2 orang wanita cantik yang belajar wire weaving.....senaaaang sekali rasanya....bukan karena uangnya tapi karena bisa berbagi ilmu dan mereka menyenangi hal baru yg mereka pelajari.

Kemudian aku iseng membuat decoupage di atas tas, berhasil cantik sekali.  Iseng juga aku pasang di grup wa.  Tidak lama, banyak yang minta belajar, jadilah 3 grup....sekali lagi tersenyum melihat kegirangan murid-muridku menguasai hal baru.....
Ditengah-tengah menikmati kegembiraan mereka itu, aku berpikir ...."apa lagi ya yang bisa aku tularkan".....
Jadi guru itu harusnya selalu selangkah di depan muridnya, tidak bisa stop berpikir dan berkarya.  Jadi guru itu menyenangkan dan penuh tantangan.

eeeh.....tapiiiii kan aku sudah lama jadi guru untuk anak-anakku ya......?!?!

"Who dares to TEACH must never cease to LEARN"
Read More
Be the first to comment!

Pagi Pertama di Beijing

Widya | Thursday, September 24, 2015 |
late post, 9 Juli 2015

Setelah delay berjam-jam akhirnya bisa juga berangkat dari Jakarta dengan pesawat Garuda no penerbangan GA890 jam 4 pagi.  Berangkat sejak kamis siang dengan maksud terbang jam 22.35, akhirnya malah berangkat berbarengan dengan mas Agung berangkat ke kantor jam 0430 pagi…..hahahahahahha….
“kita berangkat bareng papa berangkat kantor juga nih….” hehehehehehehe.....ngerti gitu gak usah berangkat malam ya....

Penerbangan 6 jam kurang lebih, dan tiba jam 11.30 siang di Bandara Beijing Capitol International yang besar dan luas…..begitu turun dari pesawat disambut langit berwarna krem muda seperti langit Jakarta, dan hembusan angin panas lengkap dengan matahari yang terik.....fiyuuuuuh.
Pesawat juga berhenti di tempat yang jauh, jadilah kami naik bis ......

Tidak tampak warna negeri kaum komunis yang identic dengan warna kelabu, wajah muram tanpa senyum dan polisi bertebaran.  Just an ordinary international cosmopolitan city.  Masyarakatnya memakai baju warna warni, dan berbicara dengan suara yang sangat keras….dan jarang tersenyum.  Kebiasaan meludah sungguh mengganggu pendengaran dan pemandangan.

Jalan-jalan di Beijing besar dan lebar.  Pemandu wisata mengatakan Beijing saat itu sedang macet karena hari kerja, tapi menurut mataku sih macetnya belum sebanding dengan Jakarta.  Pemerintah mengatur mobilitas kendaraan, hanya mobil pemerintahan dan kendaraan umum boleh berjalan setiap hari di jalan-jalan kota.  Kendaraan pribadi boleh melintasi Beijing, sesuai jadwal yang ditentukan oleh dua angka terakhir mobilnya, setiap hari memiliki dua nomor yang berbeda, misalnya nomor akhir 19 boleh jalan hanya hari Senin, nomor akhir 28 boleh jalan hanya hari Selasa, dan seterusnya.  Masyarakat Beijing hanya boleh memiliki kendaraan maksimal 2 kendaraan setiap keluarga, tidak lebih.  Jalan besar saja pembatasan kepemilikan mobil diberlakukan.....harus dicontoh nih.
Kendaraan di Beijing berjalan di sisi berbeda dengan Indonesia, setir kiri.

Ada keuntungan dengan delay pesawat, kami tidak harus mengunjungi dan berjalan panas-panasan di lapangan Tiananmen yang luas itu.  Langsung menuju istana kaisar di Forbidden City.  Tentu mengurangi kelelahan….hehehehehehehe.  The Forbidden City memiliki luas hampir 10 hektar, dibangun 600 tahun yang lalu.  Jalan-jalannya yang asli sejak 600 th lalu masih bisa dilihat, kuat sekali karena dibangun dengan 15 lapisan batu di bawahnya.  Bangunan istana juga terbuat dari kayu yang masih kokoh berdiri.  Menakjubkan…..
Yang spektakuler adalah istana istri kaisar yang berjumlah hampir 6000 orang, terbayang deh intrik –intrik diantara ribuan istri itu.  Setiap istri memiliki ruangan sendiri, pelayan sendiri dan pengawal sendiri.  Bukan hanya istri-istri itu yang berseteru tetapi pelayan dan pengawalnya juga terlibat dalam intrik.  Jika setiap hari kaisar mengunjungi satu istri, maka diperlukan 20 tahun untuk mengunjungi para istri secara merata.....tahun ke 21 baru kembali kepada istri pertama....hehehehehehehe
Ada ruangan hukuman, yang digunakan untuk tinggal istri kaisar yang dihukum.  Istri yang terhukum ini tidak boleh berhubungan dengan orang lain, benar-benar diasingkan, dan menurut kisahnya, baisanya mereka akan bunuh diri karena tidak tahan dengan kesepian dan keterasingan.
Benar-benar megah dan spektakuler bangunan istana kaisar Tiongkok ini, berjalan di dalamnya sungguh sebuah olahraga yang memeras keringat.  Cantik.....? wis lupakan....yang tersisa hanya wajah-wajah mengkilat.....

Dari istana kaisar, menyusuri sungai buatan yang merupakan barikade untuk menghalangi musuh mendekati tembok istana, kami menuju bus untuk melanjutkan ke tujuan berikutnya....Mall di tengah kota.  Kami memutuskan tidak akan belanja dan melihat mall yang bisa kami nikmati di Jakarta, tapi kami akan melakukan kegiatan favorit kami....wisata kuliner...!!!
Jajan tanpa disertai kemampuan berbahasa Mandarin jadi pengalaman seru sendiri….berusaha dengan bahasa tarzan, gambar ….semua daya dikerahkan.  Senyum lebar jadi andalan pokoknya. Berbeda dengan masyarakat yang bukan pedagang, penjual apa saja selalu punya senyum lebar yang menyenangkan. Ada satu makanan yang belum pernah disantap anak-anak,  akar teratai  yang krius-krius dan jadi favorit baru mereka.

Menjelang malam kami menuju teater akrobatik.  Pertunjukkan akrobatiknya  sungguh mendebarkan.  Ada pertunjukkan dua roda raksasa seperti mainan hamster dengan dua pemain pria yang berlari-lari di bagian dalam dan luar roda,  semua penonton menahan nafas setiap putaran rodanya bertambah cepat dan meninggi.  Puncak pertunjukkan ini adalah permainan  roda gila, berupa tong besi raksasa yang bisa berputar, dan diisi oleh 6 motor yang masuk satu per satu. Para pengemudi motor harus bisa menjaga kecepatan dan jarak antara motor supaya tidak bertabrakan, menegangkan karena areanya sempit untuk menampung 6 motor, sehingga ada motor yang berjalan di bagian atas, tenga dan bawah tong.   Rupanya ini yang dicontek oleh pemain roda gila di pasar malam- pasar malam tanah air.  Hanya ini dikemas dengan bagus dan menarik sebagai sebuah pertunjukkan.  Yang menarik dan indah adalah pertunjukkan sepeda, para pengendaranya wanita,  mereka bisa megendarai satu sepeda dengan 10 wanita cantik yang membentuk bunga.

Akhirnya malampun harus berakhir yang ditutup dengan makan malam bebek Peking.  Sudah terlalu malam untuk ukuran makan malam kami.  Dengan menu sebagian besar daging, terlalu berat.  Tapi rasa makanannya enak.  Yang tidak enak pelayanannya.  Masih beberapa meja yang makan, namun lampu2 dimatikan dan meja-meja dirapikan, taplak diangkat.  Hal yang ajaib….jadi seperti diusir….. kemungkinan karena sudah larut.  

Perut kenyang, hati senang, tubuh lelah, mata sudah setengah menutup, kamipun menuju hotel, untuk mandi dan istirahat malam.  Selamat malam semuaaaa.........



Read More
Be the first to comment!

Jalan-jalan ke Cina

Widya | Friday, July 31, 2015 |


Cina, negara besar dengan sejarah yang sangat tua.
Sejak belajar sejarah dunia di sekolah dulu, aku selalu ingin pergi ke tempat-tempat yang dituliskan dalam buku sejarah itu.  Cina adalah salah satunya.  Tempat-tempat lain akan menyusul.....#fingercross

Tour 8 hari dengan AntaVaya ini akan diawali di kota Beijing, ibukota Republik Rakyat Cina.  Layaknya ibukota negara besar, Beijing memiliki jalan-jalan yang sangat lebar dan gedung-gedung besar.  Pengendara kendaraan berjalan di sebelah kanan, seperti di Amerika.  Satu lagi yang sepertinya mencontoh Amerika, nomor darurat di Beijing 119, Amerika memiliki nomor darurat yang terkenal di dunia 911. Mungkin itu demi kemudahan....?
Menurut tour leader kami Jenny, Beijing berusia muda, baru ratusan tahun.  Hanya 2 dinasti Cina yang pernah bertahta di Beijing.  Kami tinggal dua malam di Beijing.  Dua ikon Cina yang akan dikunjungi di Beijing yaitu Tembok Cina dan Forbidden City.  Selain kedua tempat terkenal itu, kami juga akan ke Temple of Heaven yang merupakan altar Dewa Langit, melihat Akrobat, mengunjungi Summer Palace yang merupakan istana musim panas permaisuri Tze Shih.
Ada 2 toko pemerintah yang wajib didatangi setiap rombongan tour, toko obat herbal dan toko Giok, yang merupakan komoditas ekspor terkenal dari Cina. Ini cara pemerintah Cina mempromosikan produk andalannya.

Kota berikutnya yang akan didatangi adalah Hangzhou.  Perjalanan dari Beijing ditempuh dengan bullet train selama 6 jam.  Kecepatan bullet train ini mencapai 307 km/jam.  Kami disambut oleh Akiong dan Hasan, pemandu wisata kami, anak muda Cina yang fasih bahasa Indonesia.  Hangzhou memiliki sejarah lebih tua dari Beijing, dan terkenal dengan orang-orangnya yang rupawan.  Namun sepanjang di Hangzhou kami tidak bertemu dengan orang-orang rupawan itu hahahahahahahaha. Menurut Hasan, ada 4 kota yang sejarahnya berusia ribuan tahun, Guangzhou yang terkenal dengan masakan lezatnya, Huangzhou yang terkenal dengan orang-orang rupawannya, Suzhou terkenal dengan suteranya dan Xi An.  Zhou berarti kota.
Situs wisata yang kami kunjungi di Hangzhou adalah West Lake yang terkenal dengan legenda ular putihnya dan Jenderal Yu Fei Temple.

Esok pagi kami menuju Suzhou, hanya beberapa jam saja dari kota Hangzhou.  Suzhou juga kota dengan sejarah ribuan tahun, terkenal dengan sutra dan industri pakaian berbahan sutra.  Menurut Hasan, semua calon pengantin dari Cina membeli pakaian pengantinnya di Suzhou.  Di kota ini kami mengunjungi Tiger Hill, Lingering Garden dan Hanshan Temple.  Ada tiga toko pemerintah yang kami kunjungi di kota ini, toko Sutera, toko Giok dan toko teh.  Giok di kota ini berbeda dengan Giok di Beijing.  Giok di toko ini selain berasal dari Cina juga berasal dari Myanmar.  Myanmar adalah negara satu-satunya di dunia yang memiliki giok jenis keras dan berkualitas premium.

Dari kota Hangzhou dan Suzhou yang tua dan hijau, kami menuju Shanghai, New York di Cina. Shanghai adalah kota yang paling kaya di Cina, pusat perdagangan dan bisnis.  Jalan-jalan di Shanghai besar-besar, gedung-gedungnya tinggi.  Sungguh lautan beton.  Dibandingkan dengan dua kota terdahulu, kota ini lebih angkuh dan gersang.  Di kota ini kami akan mengunjungi TV tower, Museum Madame Tussaud, Yu Garden dan Nanjing Road yang dipenuhi toko-toko merek dunia.

Ada tiga hal yang sama di kota-kota yang kami datangi, orang Cina berbicara dengan suara yang keras, seperti orang berkelahi, mereka suka sekali meludah dan toiletnya hampir pasti pesing.
Menurut Akiong, ini sudah lebih baik daripada beberapa tahun lalu.  Enam tujuh tahun lalu, dia harus menyewa toilet rumah orang dan memintanya untuk membersihkan dulu, dan wisatawan yang mau masuk bayar setengah Yuan.  Kata Akiong itu karena orang Indonesia memiliki 3 ciri, shopping, sleeping, dan siauw pen alias pipis.  Hanya turis Indonesia yang selalu menanyakan toilet di setiap perhentian.  Toilet urusan utama dan pertama.....hahahahahahahaha.
Jangan lupa bawa tissue basah dan kering sendiri kalau ke toilet di Cina plus masker untuk menghadang aroma semerbak.


Read More
Be the first to comment!

Kisah di Bandara Soekarno Hatta

Widya | Thursday, July 09, 2015 |

Terimakasih ya pa ...ma....sudah ditraktir.

Delay berjam-jam, di bandara Soeta.  Seharusnya penerbangan GA890 menuju Beijing berangkat pukul 21.35 hari Kamis.  Namun karena ada Gunung meletus di Jawa Timur, penerbangan kami ditunda hingga pukul 04.15 pagi hari Jumat.  Anak-anak bilang..."jiaaah ini sih bersamaan dengan papa pergi ke kantor dong.....tahu gitu kita tidur di rumah aja..."

Karena penerbangan ini ke Beijing, sudah tentu sebagian besar penumpang berasal dari Cina daratan yang tidak berbahasa Inggris apalagi berbahasa Indonesia.
Pertempuran memperebutkan selimut, membuat petugas jengkel.  Ada seorang ibu yang nekat mengambil selimut sendiri, dan lalu ditegur oleh petugas....tapi kita semua ketawa sakit perut lihat ibu itu dengan cueknya membuka selimut di bawah pandangan jengkel petugas.....
Kata si ibu....." kamu ngomong apa sih gua kagak ngerti"....dan petugaspun berlalu tanpa hasil.....wkwkwkwkwkwkwkwk.......

Alda latihan balet supaya pantat gak pegel duduk terus.....Dea n Tista sibuk dengan utak atik kamera bikin video.... Bapak-bapak tua latihan Tai Chi menghilangkan pegal....pasangan-pasangan muda nonton film dari laptop atau main game.

Bandara ini mungkin tidak punya lounge dengan kamar-kamar untuk antisipasi pesawat terlambat atau menunggu penerbangan berikutnya yang masih panjang.  Susah buat tidur kalau harus pakai kursi tegak begini.  Beberapa  pelayanan juga masih harus diperbaiki, petugas yang kurang ramah, rest room yang hanya ada di ruang tunggu dan tidak bisa digunakan jika kita belum diijinkan masuk ke ruang tunggu, tidak ada cafe di area keberangkatan setelah security check....kita harus keluar lagi kalau mau beli makanan atau mau memakai rest area...

Petugas yang bertugas mulai dari security, imigrasi, front office dan petugas-petugas lain tidak satupun yang melayani dengan ramah.  Semua memakai raut muka jutek dan suara yang biasa kita dengar jika kita naik metromini.....suara kondektur.  Sungguh bukan wajah Indonesia yang pantas disodorkan pada tamu-tamu asing.  Perlu perbaikan besar....supaya tidak keberatan seragam dan dasi.

Tempat sampah dan kebersihan rest room jorok.....sedikit lebih baik dari terminal bis atau pelabuhan. Tapi masih jauh dari pantas untuk ukuran bandara internasional.
Semoga bisa segera diperbaiki oleh pemerintahan baru yang memiliki slogan "perubahan".....

Cina.....here we come....

Read More
Be the first to comment!

Reuni SMP

Widya | Friday, September 12, 2014 |
29 Agustus - 31 Agustus 2014....

Reuni SMP di Balikpapan.

Setelah hampir 30 tahun lalu meninggalkan SMP dan kota penuh kenangan, akhirnya aku kembali ke sana.  Sebenarnya reuni ini direncanakan pas Valentine, tapi aku masih di Amerika, dan teman-temanku tersayang berbaik hati untuk mengundurkan tanggalnya setelah aku kembali ke tanah air.

Perjalanan pulangku dimulai jam 0430 pagi di Bandara Halim PK dengan pesawat Citilink, anak perusahaan Garuda.  Pesawatku baru akan terbang pukul 0810, tapi karena aku pergi bersama mas Agung supaya supir tidak bolak balik, akhirnya subuh sudah meninggalkan rumah dan anak-anak. Rencananya aku akan berangkat bersama Pius Edwin dan Lisa Hamdali, namun sampai pesawat berangkat aku hanya bersama Lisa.  Pius tidak kutemukan.
Citilink punya kebiasaan unik, di awal dan akhir penerbangan selalu melemparkan pantun. Pantun pertama terlambat aku catat, tapi di ujung pendaratan pantun perpisahan sempat aku catat..."Burung Cendrawasih terbang keliling, terimakasih telah terbang bersama Citilink"
dan "Kucing kurus mandi di papan, selamat datang di Balikpapan"....
Kebiasaan yang unik .....mengundang senyuman....
Penerbangan ke Balikpapan ditempuh kurang lebih 2 jam.  Menjelang Balikpapan, dari atas terlihat banyak penambangan minyak lepas pantai.  Kami mendarat di bandara Sepinggan. Bandara internasional baru.  Disana sini poster-poster tentang Kalimantan banyak dan masih bagus sekali.

Melca menjemput kami berdua, dan kami pun menyempatkan diri untuk berfoto di bawah poster-poster tentang Kalimantan yang masih kinyis-kinyis itu.....  Menjelang pintu keluar, ada 3 orang laki-laki di ujung jalan, ternyata penjemput kami bertambah, Willy, Edwin dan Hotma.....senangnya hatiku melihat mereka.  Dan kamipun mendengar kabar tentang Pius yang batal berangkat karena kecelakaan yang dialami saudaranya.

Kota minyak ini dari atas nampak semrawut, sama seperti kota-kota lain di Indonesia.  Jalan-jalannya kecil.  Sangat di sayangkan, padahal kalau pemda mau, kota ini adalah kota baru sehingga penataannya akan lebih mudah.  Jalan-jalan seharusnya dibuat besar-besar yang dapat terlihat dari angkasa.  Rumah, kantor, sekolah, pusat belanja seharusnya dibangun dengan sistem blok, bukan dibiarkan tumbuh secara alami.  Jika jumlah kendaraan meningkat, maka Balikpapan akan menjadi kota macet berikutnya setelah Jakarta, Bandung dan Bogor.

Hari ini kami menjemput Handi dan kemudian Erry serta Didi yang akan dijemput Rita.  Makan siang di rumah makan seafood, disana ketemu dengan lebih banyak lagi teman-teman masa kecil yang sekarang sudah hampir setengah abad, namun kelakuan kami masih sama dengan ketika masih bersekolah dulu.  Setelah itu kami menuju penginapan, namun atas rayuan Edwin dan Yayok, aku memutuskan untuk menginap di rumah Jenny saja bersama Ita, Willy, Hotma, Yayok dan Edwin.  Teman-teman yang lain akan menginap di guest house yang sudah disiapkan panitia. Namun makan malam Jumat ini akan diadakan di rumah Jenny.
Terimakasih Jen, Yayok, Melca, mb Ike yang sudah belanja dan masak buat kami semua.

Makan malam ini menunya meriah, tapi perutku sudah kembung duluan....gak terlalu nafsu buat makan.  Kesempatan ini juga kami pakai untuk mematangkan rencana esok hari.  Erry, pak Lurah membuka rapat kecil, didampingi Willy.  Akhirnya kami semua sepakat besok ke sekolah tanpa sharing terlalu banyak.  Erry adalah ketua OSIS kami dahulu, pria yang selalu menajdi saingan Rubby untuk menjadi peringkat pertama.  Dan kedudukan mereka berdua sulit digoyahkan. mereka juga tidak pernah digabung dalam satu kelas.  Kalau digabung mungkin yang lain lebih terintimidasi.....hehehhehhehehe......

Read More
Be the first to comment!

The Ball

Widya | Wednesday, July 09, 2014 |
Menjelang penutupan pendidikan ada pesta dansa yang diupayakan oleh siswa-siswa NCC.  Pesta dansa ini menjadi gengsi setiap angkatan, maka setiap angkatan berusaha untuk membuat yang terbaik yang dapat diupayakan.  Pemilihan gedung dan menu dilakukan secara voting  yang dikirim melalui email dan dicantumkan di papan pengumuman sekolah.  Tista dan Dea kecewa karena pesta dansa kali ini hanya melibatkan orangtua saja.  Lha bayarnya mahal nak....hehehehhehehe...

Pada pesta dansa ini para pria akan mengenakan seragam pesta Angkatan Laut yang mengenakan dasi kupu-kupu dan ikat pinggang putih.  Soal ganteng dan gagah tidak perlu ditanya, semua pria berseragam selalu tampil meyakinkan.  Banyak kemiripan dalam seragam ini juga, entah kenapa Angkatan Laut seluruh dunia seperti melaksanakan doktrin "Seaman Brotherhood" dengan bangga.  Beberapa negara memiliki seragam berbeda, namun kebanyakan memiliki seragam yang sama.  Kebanggaan Angkatan Laut yang mungkin tidak ada di angkatan-angkatan lain.  Perwira marinir Amerika memiliki seragam berbeda, mantel hitam berlist dan bermanset merah, sungguh anggun dan gagah, mereka tampil seperti perwira kerajaan.  Marinir Amerika berbeda dengan marinir Indonesia.  Marinir Amerika adalah angkatan tersendiri di luar Angkatan Laut Amerika, sedangakan marinir Indonesia tergabung dalam Angkatan Laut Amerika maka seragamnya memiliki kesamaan dengan Angkatan Laut.
Para wanita tampil anggun dengan gaun malam yang panjang, berwarna warni dan indah.  Mereka tampil istimewa mendampingi para pangeran masing-masing.  Sungguh pemandangan yang menyenangkan.

Untukku kebiasaan memakai gaun panjang di acara-acara Angkatan Laut tidak ada, maka aku juga tidak memaksakan harus memiliki gaun yang hanya akan kupakai sekali.  Kali ini aku memakai gaun hitam panjang, dan atasan sifon pink yang salah satu ujungnya kutarik ke atas dan kusematkan bros perak pemberian ibu Didit.  Jadi mirip-mirip baju bodo.  Teman-teman dari Asia Tengah tampil dengan pakaian Sari mereka yang terkenal.  Semua cantik-cantik dan penuh senyum.

Sebelum santap malam, foto bersama dengan latar belakang laut menjadi momen yang mengesankan.  Sungguh penuh warna warni.  Aku menyukainya, karena semua acara berbeda dengan yang biasa terjadi di tanah air.  Di Indonesia semua acara 99% dilaksanakan dalam gedung berAC, selain karena panas juga karena tidak ada tempat bagus yang memiliki halaman luas yang indah...atau sebaliknya...?!
Sedangkan di Amerika, kalau cuaca tidak hujan, acara di luar ruangan selalu menjadi pilihan utama.  Karena itu mereka berusaha untuk memelihara lingkungannya sehingga sedap dipandang dan indah dinikmati.

Teman santap malam sudah diatur sedemikian rupa oleh panitia. Tidak menjadi masalah karena aku bisa bicara dengan semua orang dan sungguh menyenangkan mendapat kesempatan untuk bisa bicara dengan teman yang berbeda di setiap kesempatan.  Hal ini mendekatkan hubungan satu dengan yang lain, dan kamipun mengenal setiap pasangan lebih dekat.  Teman semejaku kali ini pasangan Charlotte - Charlsten dari Denmark, pasangan Gayathri - Kalana dari Srilanka, pasangan  Barbara - Nick Faurot dari Amerika.

Setelah santap malam, para pasanganpun dansa dengan iringan musik yang kadang enak kadang tidak enak.  Jazz bukan musik favoritku. Dan jazz juga bukan musik yang bisa dipakai menari dengan menyenangkan, tapi malam ini menari bukan keberuntunganku, karena hampir semua lagu dibawakan dalam irama jazz.  Hanya bisa menari di beberapa lagu saja.
Sesuai kebiasaanku, melakukan apa saja harus senang dulu, tidak bisa berbasa basi utnuk melakukan hal yang tidak aku sukai hanya demi menyenangkan orang lain.
Apalagi dansa, bagaimana melangkahkan kaki kalau ketukannya tidak bisa ditangkap telinga.
So bagian dansa menjadi titik terlemah di acara ini untukku....too bad.


Read More
Be the first to comment!

Graduation

Widya | Tuesday, July 08, 2014 |
Newport, Friday ...20 June 2014
Big day....

Hari ini sangat spesial karena hari ini si bungsu berusia 15 tahun...(panjang umur, sehat dan bahagia selalu cantik) dan pendidikan mas Agung di NCC selesai.

Rangkaian acara dimulai dengan coffee morning yang dihadiri atase laut dari semua negara yang mengirimkan siswanya untuk belajar di USA.  Kami mendampingi atase laut Indonesia, mas Halili dan mbak Dewi....(thanks for supporting us my friend) di acara coffee morning yang diadakan di Mahan Room.
Rasa bangga, bahagia dan haru menyelimuti semua orang...karena inilah saat terakhir kami berjumpa sebelum mulai besok satu per satu semua akan meninggalkan USA untuk kembali ke tanah air masing-masing.

Tenda besar  yang didirikan di halaman berumput luas pinggir pantai sungguh pengalaman baru yang indah dan tak terlupakan.  Mengingat semua wisuda di tanah air selalu diadakan di dalam gedung.  Jembatan lengkung Newport menjadi latar belakang.  Cuaca sangat bersahabat, langit biru cerah, matahari bersinar dan angin sejuk menyenangkan.  Udara terasa begitu ringan.

Keluarga para siswa dan sponsor menempati sayap-sayap tenda menghadap panggung besar tempat President NWC dan pejabat NWC berada.  Para wisudawan akan menempati bagian tengah tenda.
Setelah seluruh tamu menempati tempat masing-masing, maka arak-arakan dosen, siswa dan seluruh staff NWC memasuki tenda.  Diawali dengan kelompok profesor, para pengajar yang pagi itu mengenakan jubah kebesaran masing-masing.  Setiap jubah memiliki tanda-tanda berbeda sesuai dengan peringkat pemakainya.  Seseorang yang memegang Bachelor's degree memakai jubah yang sederhana dengan lengan lurus.  Seseorang dengan Master's degree memakai jubah yang lebih rumit dengan lengan bermanset.  Sedangkan pemegang Doctor's degree memakai jubah yang dihiasi ornamen di depan dan sekitar leher serta memiliki 3 garis berwarna di lengannya.  Panjang topi jubah juga berbeda sesuai peringkat akademik masing-masing.  Demikian juga warna topi jubahnya berbeda warna sesuai dengan bidang ajarnya.
Di belakang para staff NWC berbaris para perwira siswa yang nampak gagah dengan pakaian putihnya...(Summer White Uniform).

Sedikit tentang NWC....NWC didirikan tahun 1884 di Newport, dan menjadi "the oldest war college in the world".  NWC telah berumur lebih dari 100 tahun, dibesarkan oleh Commodore Stephen B. Luce dan Captain Alfred Thayer Mahan.  Kurikulumnya dibuat menantang sekaligus berharga.  Untuk militer profesional, pendidikan di NWC tak tertandingi.  Di akreditasi sejak tahun 1991 oleh New England Association of Schools and Colleges, diijinkan untuk memberikan Master's degree di bidang National Security and Strategic Studies bagi setial lulusannya.

Yang menarik lagi di dalam rangkaian acaranya ada doa pembuka (Invocation) dan doa penutup (Benediction) yang dibawakan Chaplain of NWR yaitu Chaplain Douglas E.Rosander.  Menarik karena bagi kebanyakan orang Indonesia, bangsa Amerika adalah bangsa yang sangat sekuler.  Namun hari ini terbukti bahwa hal tsb tidak 100% benar adanya.  Chaplain Douglas membawakan doa dalam bentuk umum, tidak bersifat Kristiani, Moslem, Budha atau Hindu.

Siswa yang diwisuda pada kesempatan ini adalah siswa NCC, NSC, College of Naval Warfare, College of Naval Command and Staff,  College of Distance Education, Naval War College Program at Naval Postgraduate School Monterey.
Proficiat officers....!!

Foto-foto dengan latar belakang pantai, jembatan dan yacht menjadi acara favorit berikutnya sebelum kami berkumpul di Ward Room untuk snack dan say goodbye to each other.  Tista sangat menantikan acara ini, untuknya teman adalah segalanya... Last chatting n taking pictures dengan deraian airmata kesedihan dan kegembiraan yang bercampur baur.
Semoga persahabatan kita akan selalu terjalin akrab teman-teman.....we will never forget our 11 month together in USA.....

We wish you all a happiness life, success career, healthy and full of joy for very long time.....
Until we meet again......
Read More
Be the first to comment!
Widya | Tuesday, July 08, 2014 |
"Please wear costume ladies " ... said Dana Nagler, from Israel ... .

Oooh my God ... it is always difficult for me to find costume ...
Probably because it is not accustomed to have the costume party in Indonesia . Parties in Indonesia  ... if not wear standard glamorous dress or wear kebaya ... Kind of boring .... hahahahaha

Children are most the pleased person to have party with the dress code .. they browse the rock n roll costume ....like what the heck ? Year is not limited .
So if they want to use the Beatles style , Grease , or any band is OK .
They've been busy looking for clothes here and there.
Dea bought purple boots , a black leather mini skirt , black T-shirt with the words "Up Town Girl" .... she mentioned which singer she imitated the style is .. but my ears still not familiar at all .
Tista , choose a off shoulder dress with tulle underneath, but then she decided too open , and then she add  black bolero to cover her shoulders . Perhaps of Rock n Roll party at earlier times ...

Mas Agung and I still confuse with the costumes . Until the last second we still did'nt know what to wear.
Finally mas Agung were wearing a white shirt and jeans , tie with the trumpet motif , and UK -style baret ... it seems like the boys first appearance when dating years ago.... sleeves rolled up ... ( Dea's sugestion)
I ended up wear a low-necked black cardigan that I 've never used before , skirt pleats wide black skirt, black lace tank top under the cardigan .... an extra hippie headband ... Tista said it was Hobo style... what is Hobo ?

Finally we went to Fort Adam ...
The room was transformed to a discotheque floor ... the interior designer was Dana Nagler , Charlotte of Denmark and Gaya of Sri Lanka . The food are pizzas...any kind of pizzas.
They provide soft drinks ... and we brought wine also ... because alcoholic beverages are expected to bring for sharing ...... hehehehehehe

It was great to see my friends again after a week  I did'nt meet anyone.
The costumes were all kinds .... they always most advanced to wear costumes if requested . Although I do not really know which artist or band where the ideas come from , but it was all fun to look at .
Yeah...at least we wear costume....minimalist costumes hahahahhaha

The show ?  of course .....dancing .. ... eating ... drinking .... talking .everuthing with "ing"...
For who don't like dance,  yes it was definitely tormented all-out ...
But for me .... ooh this was good .... good song , good food , dance all nigt and good drink too ....

David from Singapore asked me... " Is Greg like dancing ? "
Yes ... he is ... we all like dancing ... right-side brain family ....
Read More
Be the first to comment!

The Most Likely To Never Play Hockey

Widya | Saturday, June 21, 2014 |

Black and Night party....it means close to the end of our journey......

Diadakan menjelang penutupan pendidikan, dengan tema Black and Night....sesuai tema, maka dresscode dan dekorasi ruangan semua hitam putih. Warna hitam dan putih adalah warna yang sangat kontras, menjadi warna dasar untuk merubah warna lain menjadi lebih gelap atau lebih terang.   Hitam juga dapat menggambarkan tentang kematian, sesuatu yang sudah berlalu.... sebaliknya dengan putih yang melambangkan hidup baru, kesucian dan sesuatu yang menjelang.

Undangan pesta kali ini melibatkan para siswa dan istri, serta sponsor dan istri.  Hidangan seperti biasa .. hidangan ringan dan minuman beralkohol dan tidak beralkohol.  Masing-masing dalam hati merasakan sedikit kesedihan di balik kegembiraan dan gelak tawa malam ini.  Persis seperti acara tahun baru....

Malam ini setiap siswa mendapatkan penghargaan khusus, sesuai hasil pengamatan sehari-hari direktur NCC dan staffnya.  Aku mengagumi kejelian mereka memandang setiap siswanya dan kemampuan menterjemahkan keistimewaan masing-masing dalam kata.
Ada yang mendapat gelar story teller, ada yang dapat gelar Mr gadget, ada yang mendapat gelar everlasting chimney....
Dengan sedikit narasi yang diucapkan Capt Perry Yaw dan Commander Derek Wessman, semua orang menebak-nebak kira-kira siapakah pemegang gelar yg dinarasikan itu.....
Sungguh acara yang menyenangkan hati....karena visualisasi pembagian gelar ini membawa semua orang kembali kepada perjalanan yang sudah dilalui selama 11 bulan bersama....kaledeiskop.....
Mas Agung mendapat gelar kehormatan "The Most Likely To Never Play Hockey"...didasarkan dari kejadian mas Agung main skate pertama kali saat winter, semangat tinggi tapi kemudian pingsan yang disaksikan sendiri oleh Derek.....

Black and Night, Old and New, Now and Tomorrow......






Black n Night Party


Read More
Be the first to comment!

Online Shopping

Widya | Thursday, May 08, 2014 |
"Keahlian" baru di Amerika...belanja online.  Duduk di depan internet, browsing semua situs belanja, tentukan barangnya, bayar....beberapa hari kemudian barang sudah di depan rumah....
Ya, di Amerika kalau kita belanja online, maka barang akan dikirim ke rumah, dan bila kita tidak ada di rumah, barang akan ditinggalkan di depan pintu.  Mungkin karena sangat aman, sehingga mereka terbiasa melakukan itu, padahal rumah di Amerika tidak memiliki pagar. Entah di seluruh Amerika begitu atau hanya di Rhode Island.

Situs yang paling sering aku datangi tentu saja Amazon....benar-benar toko online palugada...."apa lu perlu gua ada".....semua ada  dan bisa dipesan melalui Amazon.  Aku suka ke Amazon karena selain kelengkapan barangnya, kita juga bisa baca review barang yang ingin kita beli, jadi bisa menjadi pertimbangan sebelum membeli.  Ongkos kirim tidak ada. Pengiriman barang sangat cepat walaupun kita memilih yang free ongkos kirim.  Kalau ada komplain, Amazon juga cepat mengganti barangnya tanpa ba bi bu.....apalagi ngeles...
Awalnya aku memesan Kindle dan ebook dalam bahasa Inggris, yang banyak di antaranya gratis, atau sangat murah, kurang dari 1 dollar.  Hampir semua buku-buku yang disarankan oleh Charlotte Mason, aku punya ebook-nya... juga buku-buku baru yang disenangi Dea dan Tista....setidaknya kami punya buku-buku berbahasa Inggris.
Namun kemudian berkembang ke pemesanan alat-alat crafting....
Sebenarnya ingin belanja alat listrik juga, namun mengingat listrik yang berbeda dengan di Indonesia, aku tidak pernah beli alat-alat listrik.

Situs-situs lain yang sering aku datangi Scrapbook.com....tempat belanja alat-alat untuk scrapbook. Puncher, embelishment, tools.  Untuk belanja alat-alat merajut atau quilting aku suka pergi ke Jo Ann atau WEBS..... Hanya satu situs fashion yang sering aku datangi yaitu Vera Bradley....ooooh I always love her bags.  Bunga warna warni dengan jahitan yang sangat rapi dan kuat. Pengalaman buruk dengan tas berbahan kulit atau imitasi yang jarang aku pakai kulitnya rusak semua, aku beralih memakai tas kain Vera Bradley.  Lebih cocok untuk Indonesia yang lembab.

Dua perusahaan yang sering dipakai untuk mengantar barang adalah Fedex dan UPS.  Setiap kali kita belanja online, maka toko online akan mengirimkan email lengkap tentang pemesanan barang dan nomor tracking barang di perusahaan shipping.  Kita bisa mengikuti perjalanan barang yang kita pesan.  Setiap kali pengiriman barang langsung ingat dua perusahaan ekspedisi besar di Indonesia, yang sulit di ikuti perjalanan barangnya......Kalau pasar bebas jadi, kemungkinan dua perusahaan itu akan mati tergilas Fedex dan UPS....karena kalah efisien, kalah modern dan mungkin juga kalah harga......

Sepertinya ini akan jadi kebiasaanku kalau pulang ke Indonesia....online shopping....hehehehehehe

Mas Agung kalau lihat paket di depan rumah..."pesan apa lagi honey?"
Aku...: ..."uuupsss....ketahuan deh..."
Anak-anak :......"maaaaaaa......belanja lagiiii????"

Terimakasih ya mas......hehehehehhe
Read More
Be the first to comment!

Broadway

Widya | Monday, May 05, 2014 |
Salah satu cita-cita yang ingin dipenuhi adalah nonton seni teater di Broadway, New York. Setelah berbulan-bulan tinggal di Amerika, akhirnya datang juga kesempatan untuk nonton pertunjukkan yang terkenal ini.

Teater-teater yang mementaskan seni pertunjukkan yang memadukan nyanyian dan akting ini terletak di sekitar Time Square.  Daerah Time Square, New York adalah tempat yang disukai anak-anak muda, dan tidak pernah sepi walaupun malam hari.  Tadinya aku berpikir hanya ada satu gedung teater yang bernama Broadway....ternyata salah....Broadway adalah nama jalan tempat gedung-gedung teater itu berada.  Salah pikir yang kedua, aku mengira pertunjukkan ini seperti pertunjukkan film yang tayang beberapa kali dalam sehari.  Ternyata salah besar....semua pertunjukkan hanya berlangsung sekali sehari, dengan jam pentas yang sama....jam 20.00 dan berakhir jam 22.30....  Ya ..... setiap gedung teater dengan pertunjukkan  yang berbeda akan pentas di jam yang sama.  Sehingga kami hanya bisa menonton satu pertunjukkan sehari.
Harga tiket pun mahal, terutama untuk pertunjukkan yang tidak pernah kekurangan penonton.

Anak-anak ingin menonton "Wicked" karena pemeran utamanya Idina Monzel menang di Academy Award untuk pengisi suara film kartun "Fozen".  Wicked diambil dari cerita Wizard of Oz....sangat populer, dengan jumlah kursi yang selalu fully booked.  Wicked tidak pernah "on sale"....sehingga ketika kami ingin membeli tiket, yang tersisa hanya yang mahal 112 dollar per orang dengan posisi duduk yang tidak terlalu bagus.  Pertunjukkan di Broadway memiliki harga yang tidak sama, tergantung tingkat kelarisan....semakin banyak yang nonton maka tiketnya juga tidak pernah turun harga......
Akhirnya kami kembali ke "TKTS" booth di Time Square, untuk mencari tiket diskon.  Dari semua pertunjukkan yang turun harga hanya "Phantom of The Opera" yang familiar.  Dan kami mendapat harga 90 dollar per orang.  Rupanya turun harga itu bukan harga jadi murah, namun mereka menjual tiket kursi kelas 112 dollar menajdi 90 dollar.  Tetap mahal....tapi ini pertunjukkan bagus dan terkenal....jadi que sera sera.....dan lagi kesempatan nonton opera bersama anak-anak itu jauuuuh lebih mahal.
Oh ya ....hati-hati di sekeliling booth TKTS ini, karena banyak calo...dengan harga yang tidak murah teriming-iming calo, bisa-bisa uang melayang tontonan tak dapat,...rugi....
Setiap hari tiket murah di TKTS ini tidak sama, karena mereka menjual kursi-kursi yang tidak terjual sebelumnya....maka untuk Wicked, Lion King, Spiderman, Les Miserables, Mathilda, tidak bisa kita dapatkan tiketnya di booth ini.....

Phantom of The Opera, dimainkan di Majestic Theatre, dan tahun ini adalah tahun ke 25 pertunjukkan ini sudah dimainkan.  Dengan lagu-lagu ciptaan Andrew Llyod Weber, dan penyanyi-penyanyi kelas dunia yang dapat menyanyikan nada tinggi dengan bunyi yang halus, tata lampu, koreografi, sound effect maupun trik pertunjukkan yang canggih, "Phantom of The Opera menjadi tontonan yang tidak boleh dilewatkan.

Banyak kecerdasan-kecerdasan unik pada pertunjukkan opera.  Pencipta dan penata lagu, penyanyi yang bisa berakting dan bernyanyi sekaligus memiliki wajah rupawan, membuatku tak henti-hentinya mengagumi hasil karya Tuhan di setiap individu yang terlibat dalam pertunjukkan Iconic ini.
Suasana malam hari, patah hati, marah, takut, cemas, gembira semua bisa digambarkan melalui suara musik dan penyanyi yang begitu indah.
Pertunjukkan 2,5 jam ini juga mampu membuat si bungsu berurai airmata...."ceritanya sedih ya dik...?"

Broadway is a must see....you will never regret it.

The next show we want to see is 'Les Miserable"......






PS  :  terimakasih ya mas, sudah membawa kita semua ke negeri paman Sam dan punya kesempataan melihat seni pertunjukkan berkualitas dunia.....
Read More
Be the first to comment!

Mount Morris

Widya | Friday, May 02, 2014 |
Perjalanan kembali dari Niagara ke New Jersey ditempuh kira-kira 4 jam kurang lebih.  Tapi ingat saat pergi ke Niagara dari Middletown, kalau lihat "EZ Pass line"...langsung komentar....."bayar lagi....?" ...hahahahahha....bayar tol koq sering banget, belum lagi ngantuknya karena perjalanan yang panjang lurus datar......
Dengan keengganan bayar tol dan menghindari ngantuk kami memilih untuk ambil jalan non tol saja, karena jarak tempuhnya hanya berbeda 20 menit saja.

Setelah keluar dari Niagara, dan berhenti di perhentian pertama, giliranku untuk menyetir, karena masih siang...mas Agung kebagian saat gelap.  Seperti biasa kami selalu pergi dengan mengandalkan GPS dan GPS tidak pernah menginfokan situasi perjalanan, hanya jarak tempuh, kecepatan, dan arah jalan.  Begitu perjalanan dimulai, langsung hujan mendera.....dan lebih mengejutkan ternyata perjalanan ini memotong gunung, dengan tanjakan dan turunan yang panjang.  Setiap kali kami selalu melihat ujung jalan ada di puncak tinggi dan panjang....
Ditambah mendung tebal, hujan yang berhenti dan stop dan lanjut lagi....plus hujan salju di puncak2 tertinggi.....aku ngeri juga.....  Turunan panjang takut gak bisa rem, tanjakan panjang takut gak bisa naik.  Belum lagi buta situasi alam Amerika, takut ada tornado dengan cuaca buruk seperti itu....(soale gak tau apa ada tornado di wilayah itu).....akhirnya jalan sambil berdoa sepanjang jalan tak putus.

Pemandangan di sepanjang jalan Mount Morris sungguh indah.....bukit lembah hijau, kincir angin raksasa, ladang pertanian yang luas, rumah-rumah pertanian yang dibangun di atas bukit, di kaki lembah, sungai berliku-liku jernih, danau-danau kecil di tepi rumah.....benar-benar membuat kami tidak sempat terbuai kantuk....hanya melongo kagum dengan alam indah ini.  Rumah-rumah penduduk di situ berjauhan jaraknya.
Yang bikin kagum, untuk wilayah di pelosok seperti itu, jalan yang kami lalui demikian mulus lengkap dengan tanda-tanda lalulintas, marka jalan persis seperti di jalan-jalan utama Amerika. Jalan-jslsn ini hanya lebih kecil dari jalan utama tetapi tetap dapat dilalui truk-truk besar.  Sangat kokoh.  Ini membuat tanjakan dan turunan tidak berat, baru sadar kalau itu panjang setelah melirik spion.....atau sebelum dilalui.
Andai jalan-jalan kampung di Indonesia seperti ini, pasti ekonomi lebih maju.  Petani dan peternak tidak sulit membeli kebutuhan pertanian atau peternakannya dan menjual hasilnya dengan lancar.
Andai jalan-jalan seperti ini menghubungkan setiap kota dan desa di seluruh wilayah Indonesia, pasti pendidikan, roda ekonomi, penelitian dan turisme lebih pesat.  Tidak ada wilayah yang tidak bisa di jangkau manusia.
Dan kalau itu terjadi, dunia silahkan bersiap-siap menghadapi macan Asia yang sebenarnya......

Melewati jalan-jalan desa ini juga membuat kami melihat hal yang tidak kami lihat di kota...."menjemur pakaian di halaman".....wooooow.....itu langka.  Di kota besar menjemur pakaian, kalau tetangga tidak suka bisa jadi masalah.  Bahkan di Indonesia orang-orang juga beralih pelan-pelan untuk memakai mesin cuci yang bisa langsung kering.
Sungai-sungai jernih mengingatkan sungai di tanah air yang tercemar....orang-orang mendirikan MCK, membuang sampah, di ujung lain memancing...uuuppppsss....
Tapi di sini, sungai itu benar2 seperti urat nadi manusia yang belum kena penebalan pembuluh darah karena kebanyakan makanan berlemak, bersih dari sampah dan manusia....hanya ada air dan ikan.

Tiba di perhentian terakhir sebelum memasuki senja, kami makan di restauran kecil yang lengkap menyediakan jasa laundry, lounge untuk supir-supir istirahat, mesin foto kopi dan mini market.  Jangan bayangkan tempat supir singgah di tanah air yang kotor, dengan makanan yang tidak dijamin kebersihannya plus musik dangdut Pantura yang kata-katanya "horor".  Ini benar-benar tempat singgah yang bersih dengan makanan yang sangat layak dan kamar mandi standart Amerika dengan tissue, air dan sabun, kering dan wangi.
Tista bilang...."ma...kenapa orang-orang ini lihat kita terus...?"
Aku tadinya tidak memperhatikan, jadi melihat sekeliling dan aku tahu jawabnya....karena hanya kami saja satu-satunya orang dengan warna kulit dan penampilan berbeda.....hahahahaha....kurcaci dari negeri mana nih....
Kalau kita jalan di Amerika melalui jalan tol, maka di setiap perhentian istirahat, bensin dan makan, kita kana menemukan banyak wajah internasional.  Namun ini jalan desa, tidak banyak turis melalui jalan ini, terutama turis dari negeri antah berantah seperti kami.....(orang Amerika tidak belajar geografi dunia di sekolah, kecuali mereka perlu).....

Perjalanan senja dilanjutkan oleh mas Agung dan ajaibnya....terang !!!....tidak ada hujan....dan tidak ada lagi tnajakan dan turunan panjang.  Kami memulai perjalanan di lembah gunung-gunung hingga tiba di New Jersey....
Mas Agung bilang...."memang giliran honey selalu dapat yang sulit...." hahahahhaha

Spring Break Holiday "21 April - 26 April 2014"


Read More
Be the first to comment!

New York

Widya | Sunday, April 27, 2014 |

New York kota besar yang sibuk dipenuhi gedung-gedung tinggi.  Seperti Jl Sudirman di Jakarta dengan skala lebih besar, lebih tinggi lebih banyak dan lebih sibuk. Layaknya kota lain di daratan Amerika, jalan-jalan di New York juga terbagi dalam blok-blok. Orang lalu lalang tak putus-putus, di setiap persimpangan, di setiap trotoar.  Berpakaian rapi dan necis cenderung klimis. Laki-laki dengan setelan kemeja, dasi, jas, celana panjang yang mengecil di ujung kaki dengan kombinasi warna yang berani sambil menenteng tas dan berkaca mata hitam dengan potongan rambut rapi adalah pemandangan yang lazim.  Perempuan di sini juga memakai sepatu berhak tinggi, berkacamata hitam, dengan gaun kerja dilapisi coat cantik.  Tidak ada yang berjalan lambat, semua berjalan dengan langkah lebar dan cepat.  Mobil-mobil saling salip saling potong dan saling membunyikan klakson.

Parkir juga menjadi keahlian sendiri.  Mencari parkir bukan saja sulit tetapi harus memperhatikan banyak aturan, tidak boleh di depan jalan masuk, tidak boleh di depan hidran air, harus memperhatikan jam parkir yang diijinkan di setiap jalan.  Triknya bila menemukan spot parkir yang belum berlaku jamnya, maka pengemudi akan berada di dalam mobil sampai saatnya tiba. Polisi tidak akan memberikan tiket tilang selama pengemudi ada di dalam mobil.  Polisi lalulintas New York memiliki mobil yang unik, seperti bajaj untuk memudahkan manuver di jalan-jalan sempit.  Kata om Yoyok...."disini harus sabar mencari parkir.."  dan karena kebetulan kami sedang liburan, waktu tidak jadi masalah.  Bayangkan bila kita dibatasi waktu dan harus berputar-putar masuk keluar blok terdekat hanya untuk mencari parkir....pasti isinya suntuk dan mau marah.

Antar wilayah di New York dihubungkan dengan tunnel bawah air dan jembatan.  Ada banyak pilihan tunnel yang dapat kami lalui bila kami ingin ke New York dari rumah om Yoyok di New Jersey, dan semuanya bayar sekitar 13 dolar untuk sekali jalan.  Bila mobil terisi penuh lebih dari 2 orang, maka mobil dapat didaftarkan ke perusahaan toll dan setiap kali harus bayar lapor di loket "car pull" maka akan mendapat diskon, hanya bayar 3 dolar. Dengan kemacetan tentu bensin harus penuh setiap kali mengawali peralanan.  So ....memiliki mobil sama dengan mahal.  Seperti di Jakarta, kita harus mengatur agenda sedemikian rupa supaya efisien, tidak bisa bolak balik.....

Pembangunan di New York selalu saja ada, sehingga jalan-jalan juga tidak selalu mulus dan lancar karena banyaknya proyek pembangunan itu.  Saat kami datang pembangunan kompleks WTC yang diruntuhkan teroris belum rampung.  Demikian juga pembangunan di Time Square, belum lagi di wilayah-wilayah lain.

Sekolah-sekolah di New York berada di antara gedung-gedung tinggi.  Lapangan-lapangan sekolah atau taman bermainnya dibatasi dinding kawat, persis seperti banyak sekolah di Jakarta. Mungkin aman tapi jelas tidak nyaman dibandingkan kota-kota lain di Amerika yang mendirikan sekolah dengan halaman super luas agak masuk dari tepi jalan, orang umum hanya melihat sekolah dari kejauhan saja.  Namun di New York, anak-anak yang sedag beraktivitas di lapangan bermainnya bisa dijangkau dari balik pagar.  Memudahkan penyusupan obat bius, drug dan segala macam yang negatif.  

Taman kota, Central Park dan taman-taman kecil lain banyak bertebaran di New York.  Semua gratis, semua bisa memakai fasilitas hijau kota tersebut.  Dengan ukuran taman yang besar dan keramaian manusianya, untukku yang sudah pernah jadi ibu, suasana ini bukan suasana yang damai, selalu waspada dan intens mengawasi anak-anak bermain, supaya tidak hilang di keramaian orang.

New York juga rumah untuk kebebasan.  Segala jenis kebebasan boleh.  Maka kehidupan LGBT menjadi trademark kota ini.  Perkawinan sesama jenis bisa diekspose di taman-taman kota.  Dan mereka tampan-taman dan cantik-cantik plus terkenal.  Di setiap jalan kita bisa menemui pasangan-pasangan sejenis yang indah dipandang.  Untuk yang tahu perintah Allah, kota ini melawan semuanya, dan menyulitkan untuk memberi ajaran moral yang sesuai dengan yang kita percaya.  Namun di kota inilah uang, kesenangan, glamour berkumpul.  

New York adalah tipikal kota besar yang tidak sabar, ambisius dan hedonis....indah dipandang di waktu malam....
Read More
Be the first to comment!

Translate

Button

Warna Warni Perjalanan