Loading

Golden Anniversary

Widya | Friday, June 08, 2018 |
27 Juli 2017

Wedding anniversary papa Sam dan mama Yuli. Perkawinan emas papa dan mama kami rayakan di R2R, Pasar Minggu.  Sungguh kami bersyukur karena papa mama bisa merayakan perkawinan emas dalam keadaan sehat dan bahagia.

Perkawinan adalah sekolah kehidupan, yang baru mengenal kata lulus bila keduanya sudah tutup usia.  Sekolah dimana setiap penghuninya belajar untuk bertenggang rasa, saling mendukung, mendoakan, menumbuhkan kebiasaan baik dalam berpikir, berkata dan bertindak.  mendidik, mengasuh dan membesarkan generasi-generasi baru yang akan membawa nilai-nilai kebenaran dan welas asih kepada dunia baru.

Papa adalah laki-laki yang berpikir luas, memakai lógika dan data menyampaikan logikanya kepada orang lain dengan cara yang mudah dimengerti.  Pria yang sabar dan penyayang.  Papa selalu mengajarkan welas asih dan kesederhanaan dengan contoh.  Dengan pangkat terakhir sebagai Brigadir Jendral di masa keemasan Angkatan Darat Orde Baru, papa adalah tentara sederhana.  Belau bilang kita diajarkan untuk berdoa "berikanlah kami rejeki secukupnya", maka tugas kita sebagai manusia adalah berdoa setiap hari supaya cukup.  Tidak memiliki hutang yang membebani pikiran di masa tua.  Papa juga ayah yang rela berkorban bukanlah sekedar kata-kata.  Tak peduli lelah karena bekerja, papa selalu menjemputku pulang kerja tengah malam.  Bahkan di usia 70 papa selalu tampil pertama menawarkan diri untuk menjemput dan mengantar cucunya.  Gelisah kalau cucunya belum pulang ke rumah.  Tetap terjaga dan baru bisa nyenyak tidur bila semua orang sudah di dalam rumah. Hidup haruslah dihitung mbak.....kapan mau menikah, kapan mau bekerja, kapan mau punya anak, kapan pensiun.  Jangan asal mengalir, sudah mau pensiun anak-anak masih kecil itu memberatkan.
Papa juga yang mengajarkan, membesarkan anak-anak itu harus memperhatikan kejiwaan anak-anak bukan materi.  Aku ingat ketika menabrakkan mobil sampai rusak berat, pertanyaan papa yang pertama, "kamu masih berani nyetir mbak?", papa tidak mempedulikan mobilnya yang penyok.  Kata beliau bisa diperbaiki, tapi memperbaiki mental surpaya percaya diri lagi itu sulit.

Papa juga suami siaga.  Di usia pensiun papalah yang memasak, katanya "mama sudah masak puluhan tahun, sekarang giliran papa.." Waktu Dea lahir, aku ingat papa yang tiap hari mengantarkan ASI ke kamar bayi.  Olahraga di rumah sakit, karena tidak mau meninggalkan istri, anak dan cucunya sendiri.  Selalu berupaya membantu.  Kata mama, harga dirinya juga tinggi.  Awal pernikahan selalu berkelahi kalau ibu mertuanya mengirim makanan ke rumah. Lucu ya.......

Mama, wanita mandiri yang mengajarkan kami untuk menjadi wanita yang berani dan selalu mau mempelajari banyak hal.  Dalam banyak hal, mama adalah sosok  yang dapat kami andalkan.  Selalu bersemangat belajar hal baru.  Penolong dan pendoa yang setia bagi suami dan anak-anaknya.  Perawat yang teliti dan cerewet.  Sejak papa sakit jantung, mama yang selalu memaksakan diet dan menyiapkan obat.  Mungkin kalau mama lemah dan malas berantem, papa tak akan sesehat sekarang. Mama juga wanita yang tahan sabar dan mau berpayah-payah berupaya membantu orang lain, mendengarkan kebawelan dan kenyinyiran orang lain.
Kata mama, dalam pernikahan jangan takut untuk berkelahi, beradu argumentasi, karena disitu penyesuaian untuk mencapai kedudukan yang setara.  Dan ternyata ajaran mama ini aku dengar lagi di kursus Marriage Encounter.  Setiap orang memiliki batas sabar.  Yang terbaik adalah mengkomunikasikan semua masalah, tidak memendam masalah.  Karena memendam masalah dengan bersikap menerima, ibarat menumpuk magma di perut bumi, tinggal tunggu waktu untuk meledak saja.

Kepribadian papa dan mama yang berbeda itu membuat mereka berdua menjadi pasangan yang awet, dan menjadi panutan kami dalam berumah tangga.  Tekad mereka berdua untuk saling membantu, mendengar, dan mendukung membuat papa dan mama mampu mencapai perkawinan emas dengan keadaan sehat dan gembira.  Sesuatu yang bukan biasa-biasa saja dan layak dirayakan dengan ucapan syukur kapada Tuhan YME karena telah mengijinkan dua orang hebat menjadi orangtua dan panutan kami.

Happy anniversary pa, ma.....love you both always.
Read More
Be the first to comment!

Sulungku ikut Pageant

Widya | Friday, June 08, 2018 |
September 2016

 Sudah agak lama sebetulnya peristiwa ini, hampir dua tahun lalu.  Inget banget Dea minta ijin untuk ikut pemilihan MrMs LSPR, putri kampus kalau jaman dulu.  Dia bilang ingin tahu aja ma.  Dia tabu betul aku tak terlalu suka dengan lomba-lomba yang menjual kecantikan dan keunggulan fisik.  Lomba yang akan diikuti oleh orang-orang yang tak sempurna fisiknya.  Untukku perempuan harus dilihat sebagai pribadi yang utuh, sejajar dengan kaum pria, teman diskusi yang menyenangkan.  Dan anak-anak perempuanku sangat aku harapkan menjadi wanita yang berisi, tidak saja cantik fisik namun juga cerdas dan berkarakter baik.  Cantik luar dalam.

Saat itu  aku ijinkan karena Dea bilang teman-teman dan dosennya mendukung dia.  Tapi aku bilang, jaagan mengunggulkan fisikmu, persiapkan diri lebih baik di sesi tanya jawab bukan di semi lenggak lenggok.  Sempat marah-marah, karena dia harus menurunkan berat badannya banyak sekali, aku tidak mau dia konsentrasi pada bentuk tubuhnya yang sudah baik secara berlebihan, aku mau dia sehat dan memiliki wawasan cantik yang seimbang.  Sempat aku ancam, kalau dia masih sibuk memikirkan bentuk badan, aku akan datang ke kampusnya untuk meminta pencabutan dirinya di acara tersebut.  Belum lagi pulang larut malam hampir setiap hari.  Bikin emaknya ketar ketir.....Mungkin Dea juga stress karena harus mengikuti semua aturan kampusnya tapi juga menghadapi emaknya yang selalu siap perang.  Sahabat Dea yang menjadi ketua panitia juga aku kirim ceramah, untuk memperhatikan waktu, supaya teman-teman perempuannya tidak mengalami hal-hal yang buruk di jalan akibat pulang larut malam.  Buki kalau ketemu aku selalu berusaha menghindar......hahhhahahahahaha.....dia kira mungkin aku tak tahu.
Dea selalu bilang, semua di kampus sudah kenal mama....😂

Di babak semifinal, aku nonton mereka beraksi.  Masing-masing mempertunjukkan kelebihan yang dimiliki.  Ada yang menyanyi, menari, memanah, pidato, presentasi membuat kopi, dan lain-lain.   Dea tampil paling santai, celana jeans dengan kemeja kotak-kotak yang sering dipakainya terikat di pinggang, menyandang gitar.  Hehehehehehe......anak ini percaya dirinya besar.  Dia hanya meminta yang memang dia tidak punya, seperti sepatu dengan heel 12 cm.  Selebihnya dia memakai yang dia punya. Mental baja.
Tapi yang membanggakan di sesi tanya jawab, dia menjawab lancar dalam bahasa Inggris, hampir sepanjang lomba dia berbahasa Ingeris.  Jawabannya tidak memutar, tidak mengada-ada dan jelas.

Di babak selanjutnya, aku yakin dia akan masuk di babak akhir, karena di sesi tanya jawab, saingannya hampir tidak ada.  Rata-rata tidak lancar menjawab dalam bahasa Inggris dan kemudain mengubah ke bahasa Indonesia dengan jawaban yang berputar-putar.
Dan sebagai ibu aku lebih suka dan bangga di sesi yang memperlihatkan isi kepala dan keluasan wawasan.

Dea tidak memenangkan kejuaraan, walaupun masuk di lima besar.  Tapi untukku dia juara kami.  Lomba-lomba seperti ini jarang yang bersifat adil, lebih banyak menyesuaikan selera juri dan mungkin juga pesanan.  Tapi babak tanya jawab tidak bisa dicurangi, karena semua mendengar pertanyaan dan jawabannya.  Ada salon pemenang yang menurutku lebih cocok jadi juaranya tapi ternyata tidak dapat.  Dan yang menjadi juara Mr  menurutku tidak cocok.  Untuk juara Ms bagus tidak ada kritik.

Pengalaman untuk bidadari kami.  Dan kami semua bangga karena Dea tampil cantik sekali.
Read More
Be the first to comment!

Cerita Seru Jalagita sepanjang April dan Mei 2018

Widya | Friday, June 08, 2018 |


April 2018 adalah bulan tersibuk untuk Jalagita.  Diawali dengan tampil di HUT Dharma Pertiwi tanggal 17.  Ini kali ketiga kami tampil di acara puncak HUT Dharma Pertini, dengan ibu ketua umum Dharma Pertiwi yang baru, ibu Nani Hadi Cahyanto.  Sebagai satu-satunya wakil dari unsur Jalasenastri, kami bertekad untuk tidak tampil memalukan.  Dan hasilnya kami mendapatkan kesempatan untuk tampil kembali di Istana Bogor dalam rangka hari Kartini tanggal 21.  Ibu Nora Ryamizard, ketua panitia hari Kartini Nasional yang juga adalah istri menteri pertahanan di kabinet Kerja presiden Joko Widodo, yang meminta kami untuk tampil bersama tim Orchestra TNI AL.  Kami takin AL dan Jalasenastri sangat banaga, karena tim orkestra dan kolintangnya menjadi satu-satunya hiburan di Istana.  Kami bermain bersama mengiringi peragawati dari TNI Polri.

Seusai tampil kami mendapatkan kesempatan yang membahagiakan,.......berfoto bersama presiden Joko Widodo dan ibu Irina.  Lucu kejadiannya.  Saat itu kami belum beranjak pulang karena masih ingin betfoto-foto di sekitar istana  Tak sengaja aku menoleh ke ahah istana, dan tampak presiden kebanggaan Indonesia sedang berfoto dengan istri-istri menteri Kabinet Kerja.  Otomatis, aku berbalik dan melambai-lambaikan selendang minta foto, mau maju tapi dilarang paspampres....tapi tak mau menyerah aku teriak-teriak....paaak.....paak.... dan ibu Yudo ikut juga berteriak-teriak.....diingatkan oleh Ketua Umum Jalasenastri ibu Ade Supandi, untuk tidak berteriak-teriak, tapi kami bandel.....hahahahahahha......akhirnya presiden memberi kode untuk berbaris di depan beliau.....wuuuiiiih langsung lari secepat kilat diikuti anggota Jalagita, ibu Yudo Margono, ibu Ade Supandi, ibu Ari Atmaja, ibu Chiko Irawan, mbak Widi, Kiki Denni Hendrata, Yuni Iwan.......hahahhhahahahha......lupakan status, yang pending bisa foto dengan Presiden di Istana Bogor.
Melihat kami bisa berfoto dengan presiden, tim orkestra juga tak mau kalah, mau ambil posisi menggantikan tempat kami.   Hari yang tak kan terlupakan untuk Jalagita.

Aku sempatkan untuk pulang ke Pontianak sebentar, karena ketua usum Dharma Pertiwi akan berkunjung ke Pontianak.  Tapi baru turun dari pesawat ada pesan masuk untuk segera kembali ke Jakarta besok pagi karena Jalagita harus rekaman, perintah KSAL.  Aduuuuh.....langsung malam itu juga mengumpulkan kasi-kasi dan waket Korcab XII di rumah, untuk membicarakan persiapan apa såja yang perlu dilakukan.  Sampai jam 0100 dinihari, rapat selesai.  Dan sudah diputuskan oleh ibu Waketum, ibu Ina Taufiqurahman bahwa ketua daerah Armabar ibu Yudo akan berada di Pontianak selama kunjungan Ketum Dharma Pertiwi.  Mungkin sepanjang sejarah ya baru ini ada ketua Korcab digtntikan Ketut Daerahnya.  Mohon maaf ya mbak Vero.....bukan maksud hatiku.   Terimakasih banyak mbak Vero.  Aku sungguh beruntung memiliki senior-senior yang sangat memahami dan mau membantu.  Kunjungan berlangsung sukses, dan ketua Daerah juga happy karena anggota Korcab XII semua siap.  Terimakasih ya ibu-ibu sayang.  Thanks to my love too for supporting me.

Kembali ke Jakarta pagi hari dengan pesawat jam 0600, badan sudah mulai merasa tidak nyaman. Batuk, pusing dan demam.  Dari bandära langsung menuju Cilandak untuk latihan.  Kami hanya punya hari ini saja untuk latihan, sebelum besok rekaman di kantor PP.  Agak santai karena rekaman kami tak perlu menghafal semua lagu, bisa melihat partitur, walau begitu pukulan tetap tak boleh salah.

Rekaman berjalan lancar, walau kepala terasa berat dan demam masih tak mau pergi. Dari semula hanya 10 lagu, kami teruskan sampai 13 lagu  yang sudah menjadi koleksi Jalagita.  Pukul 1830 rekaman selesai.  Rencananya rekaman ini akan menjadi isi goodie bag saat pisah sambut KSAL.  Sungguh suatu kehormatan untuk Jalagita.

Dari rekaman, tak lama berselang kami harus mengisi acara Navy Gathering and Dinner, Tribute for Admiral Ade Supandi.  Kami memainkan tiga lagu, Mojang Priangan, Wanita dan Yamko Rambe Yamko dengan koreografi yang rancak.  Sayang sound system tak  begitu bagus, sehingga makantar/penyanyi tak bisa mendengarkan kolintang, terasa seperti susul-susulan.  Begitu juga makantar menyanyi dengan suara yang kadang keras kadang pelan.  Dengan tamu seluruh perwira Angkatan Laut dari seluruh Indonesia sungguh sayang tak bisa tampil maksimal karena sound system kurang baik.

Masih berlanjut dengan penampilan di kantor PP , karena ibu Ketum Jalasenastri mengundang ibu Ketua Umum Dharma Pertiwi,  Ketua Umum Persit KCK, Ketua Umum Pia AG untuk meresmikan museum Bintarti dan gedung Jala Kriya.  Dua lagu baru Balada Pelaut dan Don't  Forget To Remember.......ini penampilan paling kocak selama karier Jalagita.  Lagu Balada Pelaut, 7 pemain semua hilang ketukan, hanya bass dan melodi satu bermain lancar.  Kami semua saling melihat dan senyum selebar mungkin, geli karena kami betul-betul tidak paham bagaimana harus memukul alat kami.  Ternyata kalau ada pemain yang salah tempo dan ketukan, pemain lain tak akan mendapatkan ritme yang pas walaupun kuncinya hafal.  Betul-betul aransemen mantap pak Boy sang maestro.  Yang bikin lucu lagi, makantar tak menyadari bahwa pemain di belaag mereka tidak memukul dengan benar....hahahahahhahahaha
Di lagu kedua giliran makantar seperti penyanyi sakit gigi, masuknya ragu-ragu, ucapannya tidak jelas, karena lagunya tidak hafal.  Pemain ?  ooooh mulus .....semua notasi terpukul dengan baik.

Penutup kegiatan Jalagita sepanjang April - Mei 2018 adalah tampil di acara memorandum Ketua Umum Dharma Pertiwi tanggal 25 Mei 2018.  kami hanya memainkan satu lagu "Wanita" ciptaan Ismail Marzuki, yang kami mainkan dengan manis sebagai kado penutup bagi Ketua Umum Jalasenastri yang akan melakukan serah terima jabatan kepada ketua umum baru ibu Manik Siwi Sukmaaji





Read More
Be the first to comment!

Galau dan Jawaban Anak Remaja

Widya | Sunday, October 29, 2017 |
Lama tidak menulis karena banyaknya kegiatan dan kemauan....

Tista, akhirnya diterima di Akpar NHI dan sekarang sudah di semester tiga yang merupakan semester magang.

Ingat cerita lalu, saat dia tidak diterima di dua kali tes penerimaan STPB dan lalu diterima di Akpar NHI.  Kala itu aku tanyakan mengapa dia bisa gagal di sekolah pertama dan bisa berhasil di sekolah lainnya, padahal cara masuk dan bidang yang diinginkan sama.  Jawabannya lucu sekali, "aku salah berdoa ma." 
"maksudnya bagaimana dik?"
"iya, aku kan novena, di doa novena itu aku selalu minta masuk NHI, aku pikir sama aja kan."
"lho kenapa kamu gak minta masuk STPB?"
"susah penyebutannya, kepanjangan juga."
"nah sekarang adik tahu kan kalau berdoa tidak bisa asal-asal."
"iya....aku paham."

Berjalannya waktu dia sangat menikmati proses belajar dan berteman. Tak terasa sekarang sudah semester tiga.  Saat akan magang, dia mengatakan ingin magang di Kempinski.  Tapi aku mengatakan dia harus berusaha magang di Ritz Carlton.
"Tapi ma, akta teman-teman dan senior-seniorku, magang di Ritz itu kerja rodi."
"adek, orang yang mengatakan kerja rodi itu pemalas, magang hanya digunakan sebagai syarat kuliah saja. Kalau orang yang ingin belajar dan mendapatkan banyak pengalaman harus bekerja di tempat yang sangat sibuk.  Tinggal tergantung bagaimana cara kita berpikir saja."
"Ritz itu hotel mahal, hanya orang kaya yang bisa bayar, dan orang kaya tidak memiliki permintaan standart.  Mereka selalu minta yang aneh-aneh dengan kualitas wah, karena bisa bayar.  Magang di termpat seperti itu kamu akan kaya ilmu, kaya pengalaman.  Capek bukan alasan. Lama kelamaan kamu akan menikmati dan senang disana."
Akhirnya memang si bungsu ini berhasil mendapatkan tempat magang di Ritz Carlton Pasific Place.
Karena bekerjanya fisik dan berdiri berjam-jam, maka sangat lelah kalau dia harus pulang berjam-jam ke Cibubur.  Tista kost bersama temannya di Tulodong.  Hanya 7 menit naik gojek.

Minggu pertama dia magang, kembali dia mengeluh.
"ma, aku sepertinya salah jurusan."
"kenapa ? kamu capek?"
"bukan capek ma, kalau pekerjaanya panjang aku gak masalah."
"lalu apa yang membuat kamu berpikir kalau salah jurusan?"
"itu ma, aku gak pernah berhasil bikin coklatnya mengkilat, temperednya tidak pernah pas, susah sekali.  Pdahal aku sudah pakai trik yang mama ajarkan, tapi tetap kadang bisa kadang gak bisa.  Sering-sering sih tidak bisa."
"biasa dek kalau belum bisa.  Mentormu marah?"
"enggak, kak Desi gak marah, tapi aku merasa bersalah.  Aku jadi memperlambat kerja kak Desi."
"oalaaaaah malaikat mama.  Kamu itu magang nak, magang itu belajar.  Adek selama ini kan gak pernah bikin coklat secara profesional begitu.  Kalau masih ada salah tidak apa.  Koki senior itu menjadi master coklat perlu waktu lama dan belajar kemana saja.  Adek baru seminggu sudah ingin secanggih master coklat, ya tidak mungkin.  Cita-citamu baik tapi tidak bisa dicapai dalam waktu seminggu.  Semua itu perlu jam terbang untuk tahu pas dan tidaknya."
"satu lagi, kesan itu kamu berangkat belajar, bukan berangkat kerja.  Jadi belajarlah sebaik-baiknya dan sekeras-kerasnya.  Namanya belajar ya pasti akan menemukan kesalahan-kesalahan.  Hadapi saja dan tetap semangat."

Setelah hampir 3 bulan berlalu, dia kembali dengan senyum, "ma aku gak salah jurusan.  Aku senang disini.  Aku mau belajar lebih banyak lagi ma.  Nanti kalau libur aku les ya ma."
"beres sayang.  Mana mungkin mama suruh kamu kesitu kalau bidangnya tidak sesuai dengan kecintaanmu."

Hari-hari dipenuhi dengan kerja keras, bukan sering lagi over time, hampir tiap hari.  Tapi semua dia hadapi dengan senyum dan semangat.  Sekarang ceritanya selalu berwarna pelangi ceria.
"ma, aku saja yang diajak untuk outside catering"
"ma, kakak A ingin aku masuk bagian ini."
"ma, aku tadi hanya sendiri, tapi aku bisa, walaupun deg-degan takut salah."

Tapi ada lagi yang belum bisa terjawab sekarang....
"ma, aku gak mau kerja di hotel"
"lalu kamu mau kerja apa?"
"aku mau jadi youtubber saja."
"bidang food culinary dek?"
"iya....."
"oh oke...itu juga keren. Kerja di hotel hanya salah satu pilihan bukan the only option sayang."

Mari kita lihat kemana galau-galau itu akan terjawab sayang.
Read More
Be the first to comment!

Jalagita 2017

Widya | Friday, June 02, 2017 |
Suatu kali di awal April, aku mendapat telepon dari ibu waketum Jalasenastri, Ibu Ina Taufiqurahman.  Ibu teteh biasa beliau di sapa, meminta tim Jalagita 2016 untuk tampil di HUT Puncak Dharma Pertiwi tgl 18 April.  Kami hanya memiliki waktu 6x latihan untuk menyiapkan 3 buah lagu.  Aku langsung menghubungi setiap pemain untuk segera menyiapkan diri berlatih kembali.

Pada saat gladi bersih, dari 3 lagu yang sudah kami siapkan, hanya 1 lagu yang boleh dibawakan, dan diminta untuk menyiapkan 1 lagu lain.  Secepat kilat kami melatih lagu Aryati, yang sesungguhnya belum pernah kami mainkan dalam grup ini.  Hanya pemain dari Armabar saja yang pernah berlatih lagu ini.  Walaupun sambil ngomel, karena lagu-lagu yang boleh dan tidak boleh dimainkan seharusnya dikomunikasikan sejak awal, kami berusaha keras supaya tampil baik dan tidak memalukan Jalasenastri dan khususnya tidak memalukan kami sendiri sebagai juara pertama tahun lalu.  Akhirnya penonton pun terheran-heran, karena kami tampil maksimal dengan koreografi gerakan dan tarian pula.  Mereka pun akhirnya berkata ....."memang kalau pemain profesional itu beda ya....."😂

Jalagita tahun ini beranggotakan ibu-ibu Jalasenastri dari wilayah Barat dan Timur sekaligus.  Sungguh komplit kalau hendak dikatakan mewakili Jalasenastri.  4 orang dari Armabar, 1 dari Pushidros, 2 dari Lantamal III Jakarta, 3 dari Pasmar 2, 2 dari Kodiklatal Surabaya.
Kali ini, komandan regunya aku, karena mas Agung sudah menjadi Pati.  Ibu Trusono sebelumnya adalah komandan regu kami, namun beliau sudah tidak bermain lagi, karena pak Trusono sudah menyandang pangkat bintang tiga.  Mungkin dianggap terlalu senior.  Anggota termuda kami hanya berselisih jarak 5 tahun dari Dea, lebih cocok jadi anak daripada rekan.....😆

Selesai menunaikan tugas tampil di Dharma Pertiwi, ibu teteh memberikan tugas baru mengikuti lomba kolintang piala Ibu Negara di Semarang.  Tugas yang kami terima dengan jantung berdegup kencang.  Konsultasi dengan pak Boy Makalew, pelatih kami bukan membuat kami tenang, malah semakin jantungan.  Bagaimana tidak ?  Pak Boy mengatakan, biasanya untuk lomba nasional seperti ini, persiapan 3 bulan, tapi kami hanya punya waktu kurang lebih 1 bulan såja.  Pak Boy juga memiliki jadwal yang padat karena tim-tim binaan pak Boy juga akan mengikuti lomba dalam rangka HUT Jalasenastri.  Akhirnya pak Boy meminta koleganya pak Berty Rarun untuk membantu melatih kami.  Total waktu latihan kami hanya bisa berlatih 18 kali saja.  Setelah berjalan beberapa kali, kamipun merasa perlu bimbingan pelatih vokal, dan akhirnya Daniel Papilaya yang baru berusia 25 tahun menjadi pelatih vokal Jalagita.

Lagu wajib Ilir-ilir karya Sunan Kalijogo, menjadi tantangan sendiri.  Karena mayoritas pemain orang Jawa, kami menyadari, lagu ini tidak dapat dibawakan secara sembarangan.  Lagu yang berisi petuah dan memiliki daya magis ini kami mainkan dengan baik dengan koreografi gerakan yang manis dan sopan.  Aransemen lagu ini temakan waktu hampir 5 menit sendiri, maka untuk lagu pilihan Melati di Tapal Batas, hanya memiliki waktu sekitar 3 menit saja, karena kami dibatasi waktu tampil 9 menit untuk dua buah lagu.  Aransemen Melati di Tapal Batas juga ciamik, sayang waktunya terbatas, andai lebih lama, aku yakin pak Berty akan membuatnya lebih cantik lagi.

Latihan yang berlangsung setiap hari, membuat daya tahan pemain jatuh silih berganti.  Kami harus banyak berdoa dan berusaha untuk dapat memainkan aransemen yang bagus dan rumit.  Menjaga kesehatan, saling mendukung, saling melatih di pukulan-pukulan sulit, saling bersabar hati, saling mengingatkan pantangan masing-masing.  Ketatnya jadwal, meninggalkan anak-anak yang sedang ujian atau ulangan umum sungguh menguras emosi sebagian besar anggota tim, antara menjalankan tugas organiskas dan tugas mendampingi anak-anak di saat-saat pentingnya, membuat emosi naik dan turun.  Namun sebagai ketua tim, aku sungguh terbantu dengan karakter anggota tim yang positif dan ceria.  Tak ada hal yang tidak dapat kami diskusikan bersama.  Mulai dari membuat gerakan, memilih asesoris, merekayasa kostum, memilih menu makan dan lain-lain.

Kerja keras, dan kekuatan batin kami akhirnya berbuah manis.  Jalagita berhasil meraih juara pertama Kategori A dan berhasil merebut piala bergilir Ibu Negara dari juara bertahan Kemuning Putih dari Bea Cukai.  Selain itu, Jalagita juga berhasil meraih aransemen terbaik dari semua kategori.  Hadiah indah buat pelatih kami Pak Boy Makalew dan Pak Berty Rarun.

Video diunggah ke Youtube oleh pemain melodi Jalagita, Arba Joevita




Read More
Be the first to comment!

Akhirnya Kenal Infus Juga

Widya | Thursday, March 02, 2017 |
"Ma, aku demam, tapi demamnya hanya tiap malam saja." Dea berkata lemas pada Minggu malam.  Aku menempelkan tangan ke dahinya..."tapi gak terlalu panas mbak, kalau minum paracetamol nanti badanmu dingin.  Istirahat saja, kamu capek banyak kegiatan."
Esok malamnya, terulang lagi keluhan yang sama.
Selasa pagi aku berangkat ke Yogya sampai Kamis, karena aku menganggap demamnya hanya masuk angin saja.
Rabu malam, Dea kembali mengeluh demam dan ada benjolan di lehernya.  Aku memintanya ke dokter besok pagi dan dek darah.  Aku minta pak Heno, pengemudi di rumah kami untuk mengantar dan mendampingi Dea.
Dalam perjalanan pulang ke Jakarta, Dea kembali mengirimkan berita di whatsapp, kalau hasil tes darahnya thypus.
"oke mbak, kalau hasilnya seperti itu, mbak Dea gak bisa lanjutkan kegiatan hari ini.  Kamu ke kampus hanya untuk mengisi KRS lalu pulang.  Kegiatan lain kamu delegasikan ke temanmu saja."

Selama week end, Dea hanya istirahat saja.  Mas Agung menelepon temannya yang dokter untuk meminta obat. Kami tak membawanya ke rumah sakit.  Aku bilang ke Dea, kita akan ke rumah sakit, kalau Senin keadaannya belum juga berubah.

Minggu sore mas Agung pulang ke Surabaya. Aku tak mengantarnya.  Mas Agung pergi dengan pak Heno.  Dea semakin parah, perutnya terasa sakit.  Di rumah kebetulan  ada papa, mama, Ledy, Albert dan Alda.  Akhirnya kami semua memutuskan untuk opname saja.  Dibantu semua orang, aku menyiapkan semua keperluan menginap di RS cambial menunggu pak Heno datang.
Aku pikir, aku akan ke RS hanya dengan pak Heno saja, tapi ternyata semua juga mau ikut.  Jadilah kami berangkat dengan dua mobil.

Di perjalanan, aku mengabarkan ke mas Agung, kalau aku membawa Dea ke RS.  
Hujan yang sudah turun sejak Januari menemani perjalanan kami.  
Melewati Jagorawi, mendadak aku dapat ide untuk belok ke Cilandak saja, ke Rumah Sakit Marinir Cilandak. RSAL Mintohardjo terlalu jauh,  dan melewati wilayah ganjil genap di hari kerja akan menyusahkan kalau pak Heno harus mengantar sesuatu.
Perubahan rute mendadak ini mengakibatkan Albert tak sempat masuk jalur Cijantung.  Sorry ya Bet.😄

Karena kami tak membawa surat pengantar untuk BPJS, maka kami memilih masuk melalui UGD.  
"Mas, aku ke Cilandak. Mas bisa bantu untuk masuk ke RSMC, mungkin mas Wayan bisa kontak temannya di sini." aku mengabari lewat whatsapp.
Dea tak memiliki kartu berobat, karena memang tidak pernah berobat ke rumah sakit.  Siapa gitu ya yang suka pergi ke rumah sakit kan.
Tak lama kami sudah mendapat kamar di Paviliun Cempaka kamar V2.
Kamarnya besar, memiliki meja makan dan 2 sofa, kamar mandi di dalam.  TV besar dengan acara TV kabel.  Seperti apartemen.
Akhirnya pakai infus juga mbak.

Aku sudah membawa perlengkapanku selama menunggu, sulaman, buku, laptop.  Bersyukur aku punya hobi yang bisa aku lakukan dalam keadaan paling membosankan sekalipun.
Namun senjata pembunuh waktu ini tak membantuku saat masuk angin.  Hari Rabu pagi mendadak perutku melilit, diare dan muntah.  Waduh gawat banget kan, punya tanggungan ngurus orang sakit, malah ikut sakit.  
Aku wa mama, tanya obat apa yang bisa meredakan perutku.  Mama sudah seperti apoteker di rumah,  mungkin karena terbiasa mempelajari keluhan penyakit dan obat yang diminum.
"Pankreoflat, neuroboon dan mylanta mbak.." wa mama.
Resepnya manjur. Sore perutku sudah enakan.

Satu hal yang lucu, karena badannya gak enak, nafsu makannya juga turun.  Akhirnya porsi makan menu rumah sakit tidak pernah habis.  
Sayang kalau dibuang, akhirnya setiap menu makanan datang langsung aku bagi dua.  Separo untukku, dimakan dengan sambal Roa kiriman mbak Helen.....rasanya ya enak saja.
Sorry ya mbak mama makannya pakai sambel.....hehehehehehe
Mungkin nanti aku juga jadi langsing, karena makan bubur terus.

Ayo mbak....berjuang biar cepat pulang kita.  Nanti langsung creambath, refleksi dan makan enåk ya mbak.  Tapi sehat Ndulu.







Read More
Be the first to comment!

Translate

Button

Warna Warni Perjalanan