Loading

2016......Jadi Guru

Widya | Saturday, February 06, 2016 |
Hal baru yang aku senang kerjakan adalah handycraft.    Sesuatu yang aku temukan belakangan setelah aku mencintai kegiatan membaca dan kemudian memasak.  Membaca sudah jadi makanan pokok sejak aku kecil, kemudian di usia 12 tahun aku mulai suka memasak, tiada hari tanpa praktek resep baru.  Jadi koki dan kerja di hotel adalah impianku yang tidak pernah berubah, dan aku memang sempat jadi koki di Aryaduta Jakarta saat masih bergabung dengan Hyatt.  Kemudian hari-hariku disibukkan dengan mengurus anak-anak. Setelah anak-anak besar, mereka memasak sendiri dengan selera mereka masing-masing, kegiatan memasakku pun berhenti setelah sempat jualan kue dan roti beberapa tahun sambil antar jemput anak-anak.
Baru di tahun 2010, aku mulai belajar patchwork dan segala hal yang berhubungan dengan kain dan mesin jahit, yang kemudian berlanjut ke clay, wire weaving.  Di Amerika aku belajar knitting dan tatting untuk melengkapi crochet yang sudah pernah aku tekuni sebelumnya.  Mama bilang ..."padahal dari dulu kamu sudah mama kenalkan dengan hal-hal ini, tetapi koq gak pernah tertarik....."  Aku juga gak tahu kenapa selalu terlambat menyadari potensi lain dalam diri sendiri.  Hal yang paling akhir aku pelajari adalah wire weaving, shibori dan paling belakang decoupage.

Kemana selama ini hasil karyaku....? aku simpan atau aku bagi-bagi untuk souvenir atau kado Natal. Mungkin hal ini yang bikin mas Agung suka ngomel, koq semua dipelajari tapi gak ada yang kelihatan.  Iya gak kelihatan wong barangnya kalau gak dipakai sendiri ya di kasihkan ke orang....hehehehehe.

Paruh ketiga tahun 2015, aku ditugaskan oleh Jalasenastri untuk membuat pelatihan bagi ibu-ibu Jalasenastri di lingkungan Armada Barat.  Bersama adik-adikku, dik Yanti Oke dan dik Yuli Monang, kami memberikan demo pelatihan pembuatan kotak souvenir dan gantungan kunci, yang kemudian dilanjutkan dengan pelatihan perorangan. Saat itu aku hanya bertindak sebagai fasilitator saja.  Adik-adikku yang mengajar 2  ketrampilan itu.  Dari kegiatan itu, aku dan adik-adikku kemudian berpikir untuk bergabung, dan melanjutkan kegiatan kami ke tahap berikutnya, mengingat penugasan suami tidak selalu di Armabar.  Tapi itu cerita lain yaaaa......

Awal tahun 2016, 2 orang teman ingin belajar wire weaving. Rasanya maju mundur untuk menentukan biaya belajar.  Mengingat di luar biaya belajar wire weaving tidak ada yang murah. Paling murah 500rb.  Aku ingat punya keinginan untuk menularkan ilmu dengan biaya yang tidak terlalu tinggi, supaya banyak orang mau belajar. Aku hitung-hitung biayanya, dan aku coba menawarkan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Dan mereka mau.  Murid pertamaku, 2 orang wanita cantik yang belajar wire weaving.....senaaaang sekali rasanya....bukan karena uangnya tapi karena bisa berbagi ilmu dan mereka menyenangi hal baru yg mereka pelajari.

Kemudian aku iseng membuat decoupage di atas tas, berhasil cantik sekali.  Iseng juga aku pasang di grup wa.  Tidak lama, banyak yang minta belajar, jadilah 3 grup....sekali lagi tersenyum melihat kegirangan murid-muridku menguasai hal baru.....
Ditengah-tengah menikmati kegembiraan mereka itu, aku berpikir ...."apa lagi ya yang bisa aku tularkan".....
Jadi guru itu harusnya selalu selangkah di depan muridnya, tidak bisa stop berpikir dan berkarya.  Jadi guru itu menyenangkan dan penuh tantangan.

eeeh.....tapiiiii kan aku sudah lama jadi guru untuk anak-anakku ya......?!?!

"Who dares to TEACH must never cease to LEARN"
Read More
Be the first to comment!

Menjelang 50 tahun....

Widya | Sunday, January 17, 2016 |
The purpose of life is not to be happy - but to matter, to be productive, to be useful, to have make some difference that you have lived at all.  Leo Rosten

Perjalanan liburan ke Yogya mempertemukan kami dengan bude Tien yang sudah 22 tahun tidak pernah berjumpa.  Bude Tien adalah kakak perempuan ayah mertuaku.
Pertanyaan pertamanya,...."hayo mbak tebak umur bude berapa?" sambil tersenyum rahasia.
Kami semua menatap bude Tien dan berusaha berhitung.  Kalau dilihat dari penampilan bude seperti wanita berusia 55 tahun yang baru saja memasuki usia pensiun, kerut-kerut di wajahnya halus, tak tampak flek kehitaman, geraknya masih lincah dan bicaranya masih jelas, tegas bersemangat.  Namun kalau menghitung usia seharusnya sudah di atas 75 karena ayah mertua kalau masih ada kira-kira berusia 78 an.   Tak ada yang menyahut.....
Bude dengan riang menyebut angka 80 tahun.....dan kami semua melongo dengan mulut lebar, mata kagum dan berbinar.....
Langsung lontaran pertanyaan muncul...."kok bisa eyangti tidak kelihatan tua?"...."rahasianya apa bude?'....
Bude menjawab, " gampang, yang penting tetap aktif, gembira apapun yang terjadi, bergerak, jangan pernah mau tua. Yangti tidak pernah mau merasa tua, mau tetap muda dan sehat...doakan begitu terus ya mbak...cucu2..."
Semasa mudanya bude Tien seorang bidan di Senduro, yang wilayah kerjanya cukup luas. Dengan aktifitasnya menjadi bidan, tentu saja kegiatan seminar, pelatihan, rapat kesehatan di wilayahnya selalu diikuti.  Kiriman foto terakhir yang kami terima di Facebook kemarin, bude sedang berenang di Bali....aiyaaaaaaiiii......fighting bude....!!

Pulang ke rumah, segera ambil komputer dan browsing tentang awet muda.  Siapalah yang tak mau hidup sehat dan senantiasa terlihat muda walaupun usia menanjak terus.
Dari hasil perseluncuran disebutkan bahwa orang yang aktif bergerak dan mengisi hari-harinya dengan banyak kegiatan akan jauh lebih awet muda 9 - 10 tahun daripada orang yang bermalas-malasan dan memiliki sedikit aktifitas.

Untukku sendiri, belajar dan membaca adalah hobbi...termasuk belajar mengikuti tehnologi terkini, sosial media yang bertebaran dan dipakai anak-anak, bikin blog dan tulisannya.  Motivasi gampangnya sih supaya tetap nyambung dengan anak dan cucu kelak.  Saat ucapan "wis aku iki gaptek, sudah tua soalnya" menjadi ucapan mainstream di kalangan wanita seusiaku....aku menentangnya.  Umur boleh tua tapi isi kepala jangan sampai aus.  Kalau bisa ausnya nanti saja saat masuk alam lain. Mengikuti Barbara Morris, "berpikir positif, berpikir muda dan cantik, aktif dan energik akan membuat semesta membantu dengan segala cara untuk mewujudkan pikiran kita itu."

Selain hidup sehat dan olahraga, memiliki passion dan hobbi akan memangkas 13 tahun dari usia biologis kita....uuuuh yaaa.....siapa yang tidak ingin kelihatan 13 tahun lebih mudah dan punya kegiatan yang menyenangkan ya.....?. Itu kata dr Mehmet Oz yang terkenal itu.
Hal lain yang bikin awet muda adalah selalu bekerja, belajar dan optimis.  Belajar apa saja, bekerja apa saja, selama itu menyenangkan, ayo lakukan.
Hobiku akan handicraft membawaku untuk belajar memanfaatkan you tube, pinterest dan membuatku memiliki banyak teman yang memiliki jutaan ide menarik.

Di tulisan lain bahkan menyebutkan dansa dan menari bisa membantu menyembuhkan Osteoporosis dan Alzheimer sampai kanker.  Dansa dan menari bisa dikategorikan olahraga, karena tubuh bergerak mengikuti irama.  Menari mengaktifkan semua wilayah otak, membuat tubuh lentur dan hati menjadi rileks dan bahagia, melatih pernafasan. Semua itu memicu keluarnya zat kimia endorfin dalam otak yang berguna untuk mengendalikan rasa sakit dan menimbulkan perasaan gembira.
Nah ini cocok banget dengan  hobiku yang lain....Menari......tari apa saja, kecuali balet dan street dance...hehehehehe.....  Sekarang seminggu sekali aku latihan Line Dance, dan masih menyimpan keinginan untuk Ballroom Dance ditambah tari tradisional Nusantara....
Hanya di latihan menari aku bisa memakai heels tanpa kesakitan.  Aneh tapi nyata dan aku masih mencari jawaban keanehan ini....karena untuk kegiatan sehari-hari aku pantang memakai heels....kakiku bisa kesakitan.

Semua cocok dengan pengalaman bude Tien....walaupun berbeda bentuknya tapi intinya sama....

Untukku motivasi utamanya adalah memberikan contoh pada anak-anak, bahwa umur tidak akan menghalangi kita melakukan apa saja yang kita suka jika kita tidak mengijinkannya.
Aku harap mereka akan menjadi wanita-wanita aktif, sehat, positif dan bahagia sampai mereka beranak cucu kelak.






Read More
Be the first to comment!

Pagi Pertama di Beijing

Widya | Thursday, September 24, 2015 |
late post, 9 Juli 2015

Setelah delay berjam-jam akhirnya bisa juga berangkat dari Jakarta dengan pesawat Garuda no penerbangan GA890 jam 4 pagi.  Berangkat sejak kamis siang dengan maksud terbang jam 22.35, akhirnya malah berangkat berbarengan dengan mas Agung berangkat ke kantor jam 0430 pagi…..hahahahahahha….
“kita berangkat bareng papa berangkat kantor juga nih….” hehehehehehehe.....ngerti gitu gak usah berangkat malam ya....

Penerbangan 6 jam kurang lebih, dan tiba jam 11.30 siang di Bandara Beijing Capitol International yang besar dan luas…..begitu turun dari pesawat disambut langit berwarna krem muda seperti langit Jakarta, dan hembusan angin panas lengkap dengan matahari yang terik.....fiyuuuuuh.
Pesawat juga berhenti di tempat yang jauh, jadilah kami naik bis ......

Tidak tampak warna negeri kaum komunis yang identic dengan warna kelabu, wajah muram tanpa senyum dan polisi bertebaran.  Just an ordinary international cosmopolitan city.  Masyarakatnya memakai baju warna warni, dan berbicara dengan suara yang sangat keras….dan jarang tersenyum.  Kebiasaan meludah sungguh mengganggu pendengaran dan pemandangan.

Jalan-jalan di Beijing besar dan lebar.  Pemandu wisata mengatakan Beijing saat itu sedang macet karena hari kerja, tapi menurut mataku sih macetnya belum sebanding dengan Jakarta.  Pemerintah mengatur mobilitas kendaraan, hanya mobil pemerintahan dan kendaraan umum boleh berjalan setiap hari di jalan-jalan kota.  Kendaraan pribadi boleh melintasi Beijing, sesuai jadwal yang ditentukan oleh dua angka terakhir mobilnya, setiap hari memiliki dua nomor yang berbeda, misalnya nomor akhir 19 boleh jalan hanya hari Senin, nomor akhir 28 boleh jalan hanya hari Selasa, dan seterusnya.  Masyarakat Beijing hanya boleh memiliki kendaraan maksimal 2 kendaraan setiap keluarga, tidak lebih.  Jalan besar saja pembatasan kepemilikan mobil diberlakukan.....harus dicontoh nih.
Kendaraan di Beijing berjalan di sisi berbeda dengan Indonesia, setir kiri.

Ada keuntungan dengan delay pesawat, kami tidak harus mengunjungi dan berjalan panas-panasan di lapangan Tiananmen yang luas itu.  Langsung menuju istana kaisar di Forbidden City.  Tentu mengurangi kelelahan….hehehehehehehe.  The Forbidden City memiliki luas hampir 10 hektar, dibangun 600 tahun yang lalu.  Jalan-jalannya yang asli sejak 600 th lalu masih bisa dilihat, kuat sekali karena dibangun dengan 15 lapisan batu di bawahnya.  Bangunan istana juga terbuat dari kayu yang masih kokoh berdiri.  Menakjubkan…..
Yang spektakuler adalah istana istri kaisar yang berjumlah hampir 6000 orang, terbayang deh intrik –intrik diantara ribuan istri itu.  Setiap istri memiliki ruangan sendiri, pelayan sendiri dan pengawal sendiri.  Bukan hanya istri-istri itu yang berseteru tetapi pelayan dan pengawalnya juga terlibat dalam intrik.  Jika setiap hari kaisar mengunjungi satu istri, maka diperlukan 20 tahun untuk mengunjungi para istri secara merata.....tahun ke 21 baru kembali kepada istri pertama....hehehehehehehe
Ada ruangan hukuman, yang digunakan untuk tinggal istri kaisar yang dihukum.  Istri yang terhukum ini tidak boleh berhubungan dengan orang lain, benar-benar diasingkan, dan menurut kisahnya, baisanya mereka akan bunuh diri karena tidak tahan dengan kesepian dan keterasingan.
Benar-benar megah dan spektakuler bangunan istana kaisar Tiongkok ini, berjalan di dalamnya sungguh sebuah olahraga yang memeras keringat.  Cantik.....? wis lupakan....yang tersisa hanya wajah-wajah mengkilat.....

Dari istana kaisar, menyusuri sungai buatan yang merupakan barikade untuk menghalangi musuh mendekati tembok istana, kami menuju bus untuk melanjutkan ke tujuan berikutnya....Mall di tengah kota.  Kami memutuskan tidak akan belanja dan melihat mall yang bisa kami nikmati di Jakarta, tapi kami akan melakukan kegiatan favorit kami....wisata kuliner...!!!
Jajan tanpa disertai kemampuan berbahasa Mandarin jadi pengalaman seru sendiri….berusaha dengan bahasa tarzan, gambar ….semua daya dikerahkan.  Senyum lebar jadi andalan pokoknya. Berbeda dengan masyarakat yang bukan pedagang, penjual apa saja selalu punya senyum lebar yang menyenangkan. Ada satu makanan yang belum pernah disantap anak-anak,  akar teratai  yang krius-krius dan jadi favorit baru mereka.

Menjelang malam kami menuju teater akrobatik.  Pertunjukkan akrobatiknya  sungguh mendebarkan.  Ada pertunjukkan dua roda raksasa seperti mainan hamster dengan dua pemain pria yang berlari-lari di bagian dalam dan luar roda,  semua penonton menahan nafas setiap putaran rodanya bertambah cepat dan meninggi.  Puncak pertunjukkan ini adalah permainan  roda gila, berupa tong besi raksasa yang bisa berputar, dan diisi oleh 6 motor yang masuk satu per satu. Para pengemudi motor harus bisa menjaga kecepatan dan jarak antara motor supaya tidak bertabrakan, menegangkan karena areanya sempit untuk menampung 6 motor, sehingga ada motor yang berjalan di bagian atas, tenga dan bawah tong.   Rupanya ini yang dicontek oleh pemain roda gila di pasar malam- pasar malam tanah air.  Hanya ini dikemas dengan bagus dan menarik sebagai sebuah pertunjukkan.  Yang menarik dan indah adalah pertunjukkan sepeda, para pengendaranya wanita,  mereka bisa megendarai satu sepeda dengan 10 wanita cantik yang membentuk bunga.

Akhirnya malampun harus berakhir yang ditutup dengan makan malam bebek Peking.  Sudah terlalu malam untuk ukuran makan malam kami.  Dengan menu sebagian besar daging, terlalu berat.  Tapi rasa makanannya enak.  Yang tidak enak pelayanannya.  Masih beberapa meja yang makan, namun lampu2 dimatikan dan meja-meja dirapikan, taplak diangkat.  Hal yang ajaib….jadi seperti diusir….. kemungkinan karena sudah larut.  

Perut kenyang, hati senang, tubuh lelah, mata sudah setengah menutup, kamipun menuju hotel, untuk mandi dan istirahat malam.  Selamat malam semuaaaa.........



Read More
Be the first to comment!

Jalan-jalan ke Cina

Widya | Friday, July 31, 2015 |


Cina, negara besar dengan sejarah yang sangat tua.
Sejak belajar sejarah dunia di sekolah dulu, aku selalu ingin pergi ke tempat-tempat yang dituliskan dalam buku sejarah itu.  Cina adalah salah satunya.  Tempat-tempat lain akan menyusul.....#fingercross

Tour 8 hari dengan AntaVaya ini akan diawali di kota Beijing, ibukota Republik Rakyat Cina.  Layaknya ibukota negara besar, Beijing memiliki jalan-jalan yang sangat lebar dan gedung-gedung besar.  Pengendara kendaraan berjalan di sebelah kanan, seperti di Amerika.  Satu lagi yang sepertinya mencontoh Amerika, nomor darurat di Beijing 119, Amerika memiliki nomor darurat yang terkenal di dunia 911. Mungkin itu demi kemudahan....?
Menurut tour leader kami Jenny, Beijing berusia muda, baru ratusan tahun.  Hanya 2 dinasti Cina yang pernah bertahta di Beijing.  Kami tinggal dua malam di Beijing.  Dua ikon Cina yang akan dikunjungi di Beijing yaitu Tembok Cina dan Forbidden City.  Selain kedua tempat terkenal itu, kami juga akan ke Temple of Heaven yang merupakan altar Dewa Langit, melihat Akrobat, mengunjungi Summer Palace yang merupakan istana musim panas permaisuri Tze Shih.
Ada 2 toko pemerintah yang wajib didatangi setiap rombongan tour, toko obat herbal dan toko Giok, yang merupakan komoditas ekspor terkenal dari Cina. Ini cara pemerintah Cina mempromosikan produk andalannya.

Kota berikutnya yang akan didatangi adalah Hangzhou.  Perjalanan dari Beijing ditempuh dengan bullet train selama 6 jam.  Kecepatan bullet train ini mencapai 307 km/jam.  Kami disambut oleh Akiong dan Hasan, pemandu wisata kami, anak muda Cina yang fasih bahasa Indonesia.  Hangzhou memiliki sejarah lebih tua dari Beijing, dan terkenal dengan orang-orangnya yang rupawan.  Namun sepanjang di Hangzhou kami tidak bertemu dengan orang-orang rupawan itu hahahahahahahaha. Menurut Hasan, ada 4 kota yang sejarahnya berusia ribuan tahun, Guangzhou yang terkenal dengan masakan lezatnya, Huangzhou yang terkenal dengan orang-orang rupawannya, Suzhou terkenal dengan suteranya dan Xi An.  Zhou berarti kota.
Situs wisata yang kami kunjungi di Hangzhou adalah West Lake yang terkenal dengan legenda ular putihnya dan Jenderal Yu Fei Temple.

Esok pagi kami menuju Suzhou, hanya beberapa jam saja dari kota Hangzhou.  Suzhou juga kota dengan sejarah ribuan tahun, terkenal dengan sutra dan industri pakaian berbahan sutra.  Menurut Hasan, semua calon pengantin dari Cina membeli pakaian pengantinnya di Suzhou.  Di kota ini kami mengunjungi Tiger Hill, Lingering Garden dan Hanshan Temple.  Ada tiga toko pemerintah yang kami kunjungi di kota ini, toko Sutera, toko Giok dan toko teh.  Giok di kota ini berbeda dengan Giok di Beijing.  Giok di toko ini selain berasal dari Cina juga berasal dari Myanmar.  Myanmar adalah negara satu-satunya di dunia yang memiliki giok jenis keras dan berkualitas premium.

Dari kota Hangzhou dan Suzhou yang tua dan hijau, kami menuju Shanghai, New York di Cina. Shanghai adalah kota yang paling kaya di Cina, pusat perdagangan dan bisnis.  Jalan-jalan di Shanghai besar-besar, gedung-gedungnya tinggi.  Sungguh lautan beton.  Dibandingkan dengan dua kota terdahulu, kota ini lebih angkuh dan gersang.  Di kota ini kami akan mengunjungi TV tower, Museum Madame Tussaud, Yu Garden dan Nanjing Road yang dipenuhi toko-toko merek dunia.

Ada tiga hal yang sama di kota-kota yang kami datangi, orang Cina berbicara dengan suara yang keras, seperti orang berkelahi, mereka suka sekali meludah dan toiletnya hampir pasti pesing.
Menurut Akiong, ini sudah lebih baik daripada beberapa tahun lalu.  Enam tujuh tahun lalu, dia harus menyewa toilet rumah orang dan memintanya untuk membersihkan dulu, dan wisatawan yang mau masuk bayar setengah Yuan.  Kata Akiong itu karena orang Indonesia memiliki 3 ciri, shopping, sleeping, dan siauw pen alias pipis.  Hanya turis Indonesia yang selalu menanyakan toilet di setiap perhentian.  Toilet urusan utama dan pertama.....hahahahahahahaha.
Jangan lupa bawa tissue basah dan kering sendiri kalau ke toilet di Cina plus masker untuk menghadang aroma semerbak.


Read More
Be the first to comment!

Kisah di Bandara Soekarno Hatta

Widya | Thursday, July 09, 2015 |

Terimakasih ya pa ...ma....sudah ditraktir.

Delay berjam-jam, di bandara Soeta.  Seharusnya penerbangan GA890 menuju Beijing berangkat pukul 21.35 hari Kamis.  Namun karena ada Gunung meletus di Jawa Timur, penerbangan kami ditunda hingga pukul 04.15 pagi hari Jumat.  Anak-anak bilang..."jiaaah ini sih bersamaan dengan papa pergi ke kantor dong.....tahu gitu kita tidur di rumah aja..."

Karena penerbangan ini ke Beijing, sudah tentu sebagian besar penumpang berasal dari Cina daratan yang tidak berbahasa Inggris apalagi berbahasa Indonesia.
Pertempuran memperebutkan selimut, membuat petugas jengkel.  Ada seorang ibu yang nekat mengambil selimut sendiri, dan lalu ditegur oleh petugas....tapi kita semua ketawa sakit perut lihat ibu itu dengan cueknya membuka selimut di bawah pandangan jengkel petugas.....
Kata si ibu....." kamu ngomong apa sih gua kagak ngerti"....dan petugaspun berlalu tanpa hasil.....wkwkwkwkwkwkwkwk.......

Alda latihan balet supaya pantat gak pegel duduk terus.....Dea n Tista sibuk dengan utak atik kamera bikin video.... Bapak-bapak tua latihan Tai Chi menghilangkan pegal....pasangan-pasangan muda nonton film dari laptop atau main game.

Bandara ini mungkin tidak punya lounge dengan kamar-kamar untuk antisipasi pesawat terlambat atau menunggu penerbangan berikutnya yang masih panjang.  Susah buat tidur kalau harus pakai kursi tegak begini.  Beberapa  pelayanan juga masih harus diperbaiki, petugas yang kurang ramah, rest room yang hanya ada di ruang tunggu dan tidak bisa digunakan jika kita belum diijinkan masuk ke ruang tunggu, tidak ada cafe di area keberangkatan setelah security check....kita harus keluar lagi kalau mau beli makanan atau mau memakai rest area...

Petugas yang bertugas mulai dari security, imigrasi, front office dan petugas-petugas lain tidak satupun yang melayani dengan ramah.  Semua memakai raut muka jutek dan suara yang biasa kita dengar jika kita naik metromini.....suara kondektur.  Sungguh bukan wajah Indonesia yang pantas disodorkan pada tamu-tamu asing.  Perlu perbaikan besar....supaya tidak keberatan seragam dan dasi.

Tempat sampah dan kebersihan rest room jorok.....sedikit lebih baik dari terminal bis atau pelabuhan. Tapi masih jauh dari pantas untuk ukuran bandara internasional.
Semoga bisa segera diperbaiki oleh pemerintahan baru yang memiliki slogan "perubahan".....

Cina.....here we come....

Read More
Be the first to comment!

Reuni SMP

Widya | Friday, September 12, 2014 |
29 Agustus - 31 Agustus 2014....

Reuni SMP di Balikpapan.

Setelah hampir 30 tahun lalu meninggalkan SMP dan kota penuh kenangan, akhirnya aku kembali ke sana.  Sebenarnya reuni ini direncanakan pas Valentine, tapi aku masih di Amerika, dan teman-temanku tersayang berbaik hati untuk mengundurkan tanggalnya setelah aku kembali ke tanah air.

Perjalanan pulangku dimulai jam 0430 pagi di Bandara Halim PK dengan pesawat Citilink, anak perusahaan Garuda.  Pesawatku baru akan terbang pukul 0810, tapi karena aku pergi bersama mas Agung supaya supir tidak bolak balik, akhirnya subuh sudah meninggalkan rumah dan anak-anak. Rencananya aku akan berangkat bersama Pius Edwin dan Lisa Hamdali, namun sampai pesawat berangkat aku hanya bersama Lisa.  Pius tidak kutemukan.
Citilink punya kebiasaan unik, di awal dan akhir penerbangan selalu melemparkan pantun. Pantun pertama terlambat aku catat, tapi di ujung pendaratan pantun perpisahan sempat aku catat..."Burung Cendrawasih terbang keliling, terimakasih telah terbang bersama Citilink"
dan "Kucing kurus mandi di papan, selamat datang di Balikpapan"....
Kebiasaan yang unik .....mengundang senyuman....
Penerbangan ke Balikpapan ditempuh kurang lebih 2 jam.  Menjelang Balikpapan, dari atas terlihat banyak penambangan minyak lepas pantai.  Kami mendarat di bandara Sepinggan. Bandara internasional baru.  Disana sini poster-poster tentang Kalimantan banyak dan masih bagus sekali.

Melca menjemput kami berdua, dan kami pun menyempatkan diri untuk berfoto di bawah poster-poster tentang Kalimantan yang masih kinyis-kinyis itu.....  Menjelang pintu keluar, ada 3 orang laki-laki di ujung jalan, ternyata penjemput kami bertambah, Willy, Edwin dan Hotma.....senangnya hatiku melihat mereka.  Dan kamipun mendengar kabar tentang Pius yang batal berangkat karena kecelakaan yang dialami saudaranya.

Kota minyak ini dari atas nampak semrawut, sama seperti kota-kota lain di Indonesia.  Jalan-jalannya kecil.  Sangat di sayangkan, padahal kalau pemda mau, kota ini adalah kota baru sehingga penataannya akan lebih mudah.  Jalan-jalan seharusnya dibuat besar-besar yang dapat terlihat dari angkasa.  Rumah, kantor, sekolah, pusat belanja seharusnya dibangun dengan sistem blok, bukan dibiarkan tumbuh secara alami.  Jika jumlah kendaraan meningkat, maka Balikpapan akan menjadi kota macet berikutnya setelah Jakarta, Bandung dan Bogor.

Hari ini kami menjemput Handi dan kemudian Erry serta Didi yang akan dijemput Rita.  Makan siang di rumah makan seafood, disana ketemu dengan lebih banyak lagi teman-teman masa kecil yang sekarang sudah hampir setengah abad, namun kelakuan kami masih sama dengan ketika masih bersekolah dulu.  Setelah itu kami menuju penginapan, namun atas rayuan Edwin dan Yayok, aku memutuskan untuk menginap di rumah Jenny saja bersama Ita, Willy, Hotma, Yayok dan Edwin.  Teman-teman yang lain akan menginap di guest house yang sudah disiapkan panitia. Namun makan malam Jumat ini akan diadakan di rumah Jenny.
Terimakasih Jen, Yayok, Melca, mb Ike yang sudah belanja dan masak buat kami semua.

Makan malam ini menunya meriah, tapi perutku sudah kembung duluan....gak terlalu nafsu buat makan.  Kesempatan ini juga kami pakai untuk mematangkan rencana esok hari.  Erry, pak Lurah membuka rapat kecil, didampingi Willy.  Akhirnya kami semua sepakat besok ke sekolah tanpa sharing terlalu banyak.  Erry adalah ketua OSIS kami dahulu, pria yang selalu menajdi saingan Rubby untuk menjadi peringkat pertama.  Dan kedudukan mereka berdua sulit digoyahkan. mereka juga tidak pernah digabung dalam satu kelas.  Kalau digabung mungkin yang lain lebih terintimidasi.....hehehhehhehehe......

Read More
Be the first to comment!

Translate

Button

Warna Warni Perjalanan