Loading

Pagi Pertama di Beijing

Widya | Thursday, September 24, 2015 |
late post, 9 Juli 2015

Setelah delay berjam-jam akhirnya bisa juga berangkat dari Jakarta dengan pesawat Garuda no penerbangan GA890 jam 4 pagi.  Berangkat sejak kamis siang dengan maksud terbang jam 22.35, akhirnya malah berangkat berbarengan dengan mas Agung berangkat ke kantor jam 0430 pagi…..hahahahahahha….
“kita berangkat bareng papa berangkat kantor juga nih….” hehehehehehehe.....ngerti gitu gak usah berangkat malam ya....

Penerbangan 6 jam kurang lebih, dan tiba jam 11.30 siang di Bandara Beijing Capitol International yang besar dan luas…..begitu turun dari pesawat disambut langit berwarna krem muda seperti langit Jakarta, dan hembusan angin panas lengkap dengan matahari yang terik.....fiyuuuuuh.
Pesawat juga berhenti di tempat yang jauh, jadilah kami naik bis ......

Tidak tampak warna negeri kaum komunis yang identic dengan warna kelabu, wajah muram tanpa senyum dan polisi bertebaran.  Just an ordinary international cosmopolitan city.  Masyarakatnya memakai baju warna warni, dan berbicara dengan suara yang sangat keras….dan jarang tersenyum.  Kebiasaan meludah sungguh mengganggu pendengaran dan pemandangan.

Jalan-jalan di Beijing besar dan lebar.  Pemandu wisata mengatakan Beijing saat itu sedang macet karena hari kerja, tapi menurut mataku sih macetnya belum sebanding dengan Jakarta.  Pemerintah mengatur mobilitas kendaraan, hanya mobil pemerintahan dan kendaraan umum boleh berjalan setiap hari di jalan-jalan kota.  Kendaraan pribadi boleh melintasi Beijing, sesuai jadwal yang ditentukan oleh dua angka terakhir mobilnya, setiap hari memiliki dua nomor yang berbeda, misalnya nomor akhir 19 boleh jalan hanya hari Senin, nomor akhir 28 boleh jalan hanya hari Selasa, dan seterusnya.  Masyarakat Beijing hanya boleh memiliki kendaraan maksimal 2 kendaraan setiap keluarga, tidak lebih.  Jalan besar saja pembatasan kepemilikan mobil diberlakukan.....harus dicontoh nih.
Kendaraan di Beijing berjalan di sisi berbeda dengan Indonesia, setir kiri.

Ada keuntungan dengan delay pesawat, kami tidak harus mengunjungi dan berjalan panas-panasan di lapangan Tiananmen yang luas itu.  Langsung menuju istana kaisar di Forbidden City.  Tentu mengurangi kelelahan….hehehehehehehe.  The Forbidden City memiliki luas hampir 10 hektar, dibangun 600 tahun yang lalu.  Jalan-jalannya yang asli sejak 600 th lalu masih bisa dilihat, kuat sekali karena dibangun dengan 15 lapisan batu di bawahnya.  Bangunan istana juga terbuat dari kayu yang masih kokoh berdiri.  Menakjubkan…..
Yang spektakuler adalah istana istri kaisar yang berjumlah hampir 6000 orang, terbayang deh intrik –intrik diantara ribuan istri itu.  Setiap istri memiliki ruangan sendiri, pelayan sendiri dan pengawal sendiri.  Bukan hanya istri-istri itu yang berseteru tetapi pelayan dan pengawalnya juga terlibat dalam intrik.  Jika setiap hari kaisar mengunjungi satu istri, maka diperlukan 20 tahun untuk mengunjungi para istri secara merata.....tahun ke 21 baru kembali kepada istri pertama....hehehehehehehe
Ada ruangan hukuman, yang digunakan untuk tinggal istri kaisar yang dihukum.  Istri yang terhukum ini tidak boleh berhubungan dengan orang lain, benar-benar diasingkan, dan menurut kisahnya, baisanya mereka akan bunuh diri karena tidak tahan dengan kesepian dan keterasingan.
Benar-benar megah dan spektakuler bangunan istana kaisar Tiongkok ini, berjalan di dalamnya sungguh sebuah olahraga yang memeras keringat.  Cantik.....? wis lupakan....yang tersisa hanya wajah-wajah mengkilat.....

Dari istana kaisar, menyusuri sungai buatan yang merupakan barikade untuk menghalangi musuh mendekati tembok istana, kami menuju bus untuk melanjutkan ke tujuan berikutnya....Mall di tengah kota.  Kami memutuskan tidak akan belanja dan melihat mall yang bisa kami nikmati di Jakarta, tapi kami akan melakukan kegiatan favorit kami....wisata kuliner...!!!
Jajan tanpa disertai kemampuan berbahasa Mandarin jadi pengalaman seru sendiri….berusaha dengan bahasa tarzan, gambar ….semua daya dikerahkan.  Senyum lebar jadi andalan pokoknya. Berbeda dengan masyarakat yang bukan pedagang, penjual apa saja selalu punya senyum lebar yang menyenangkan. Ada satu makanan yang belum pernah disantap anak-anak,  akar teratai  yang krius-krius dan jadi favorit baru mereka.

Menjelang malam kami menuju teater akrobatik.  Pertunjukkan akrobatiknya  sungguh mendebarkan.  Ada pertunjukkan dua roda raksasa seperti mainan hamster dengan dua pemain pria yang berlari-lari di bagian dalam dan luar roda,  semua penonton menahan nafas setiap putaran rodanya bertambah cepat dan meninggi.  Puncak pertunjukkan ini adalah permainan  roda gila, berupa tong besi raksasa yang bisa berputar, dan diisi oleh 6 motor yang masuk satu per satu. Para pengemudi motor harus bisa menjaga kecepatan dan jarak antara motor supaya tidak bertabrakan, menegangkan karena areanya sempit untuk menampung 6 motor, sehingga ada motor yang berjalan di bagian atas, tenga dan bawah tong.   Rupanya ini yang dicontek oleh pemain roda gila di pasar malam- pasar malam tanah air.  Hanya ini dikemas dengan bagus dan menarik sebagai sebuah pertunjukkan.  Yang menarik dan indah adalah pertunjukkan sepeda, para pengendaranya wanita,  mereka bisa megendarai satu sepeda dengan 10 wanita cantik yang membentuk bunga.

Akhirnya malampun harus berakhir yang ditutup dengan makan malam bebek Peking.  Sudah terlalu malam untuk ukuran makan malam kami.  Dengan menu sebagian besar daging, terlalu berat.  Tapi rasa makanannya enak.  Yang tidak enak pelayanannya.  Masih beberapa meja yang makan, namun lampu2 dimatikan dan meja-meja dirapikan, taplak diangkat.  Hal yang ajaib….jadi seperti diusir….. kemungkinan karena sudah larut.  

Perut kenyang, hati senang, tubuh lelah, mata sudah setengah menutup, kamipun menuju hotel, untuk mandi dan istirahat malam.  Selamat malam semuaaaa.........



Read More
Be the first to comment!

Jalan-jalan ke Cina

Widya | Friday, July 31, 2015 |


Cina, negara besar dengan sejarah yang sangat tua.
Sejak belajar sejarah dunia di sekolah dulu, aku selalu ingin pergi ke tempat-tempat yang dituliskan dalam buku sejarah itu.  Cina adalah salah satunya.  Tempat-tempat lain akan menyusul.....#fingercross

Tour 8 hari dengan AntaVaya ini akan diawali di kota Beijing, ibukota Republik Rakyat Cina.  Layaknya ibukota negara besar, Beijing memiliki jalan-jalan yang sangat lebar dan gedung-gedung besar.  Pengendara kendaraan berjalan di sebelah kanan, seperti di Amerika.  Satu lagi yang sepertinya mencontoh Amerika, nomor darurat di Beijing 119, Amerika memiliki nomor darurat yang terkenal di dunia 911. Mungkin itu demi kemudahan....?
Menurut tour leader kami Jenny, Beijing berusia muda, baru ratusan tahun.  Hanya 2 dinasti Cina yang pernah bertahta di Beijing.  Kami tinggal dua malam di Beijing.  Dua ikon Cina yang akan dikunjungi di Beijing yaitu Tembok Cina dan Forbidden City.  Selain kedua tempat terkenal itu, kami juga akan ke Temple of Heaven yang merupakan altar Dewa Langit, melihat Akrobat, mengunjungi Summer Palace yang merupakan istana musim panas permaisuri Tze Shih.
Ada 2 toko pemerintah yang wajib didatangi setiap rombongan tour, toko obat herbal dan toko Giok, yang merupakan komoditas ekspor terkenal dari Cina. Ini cara pemerintah Cina mempromosikan produk andalannya.

Kota berikutnya yang akan didatangi adalah Hangzhou.  Perjalanan dari Beijing ditempuh dengan bullet train selama 6 jam.  Kecepatan bullet train ini mencapai 307 km/jam.  Kami disambut oleh Akiong dan Hasan, pemandu wisata kami, anak muda Cina yang fasih bahasa Indonesia.  Hangzhou memiliki sejarah lebih tua dari Beijing, dan terkenal dengan orang-orangnya yang rupawan.  Namun sepanjang di Hangzhou kami tidak bertemu dengan orang-orang rupawan itu hahahahahahahaha. Menurut Hasan, ada 4 kota yang sejarahnya berusia ribuan tahun, Guangzhou yang terkenal dengan masakan lezatnya, Huangzhou yang terkenal dengan orang-orang rupawannya, Suzhou terkenal dengan suteranya dan Xi An.  Zhou berarti kota.
Situs wisata yang kami kunjungi di Hangzhou adalah West Lake yang terkenal dengan legenda ular putihnya dan Jenderal Yu Fei Temple.

Esok pagi kami menuju Suzhou, hanya beberapa jam saja dari kota Hangzhou.  Suzhou juga kota dengan sejarah ribuan tahun, terkenal dengan sutra dan industri pakaian berbahan sutra.  Menurut Hasan, semua calon pengantin dari Cina membeli pakaian pengantinnya di Suzhou.  Di kota ini kami mengunjungi Tiger Hill, Lingering Garden dan Hanshan Temple.  Ada tiga toko pemerintah yang kami kunjungi di kota ini, toko Sutera, toko Giok dan toko teh.  Giok di kota ini berbeda dengan Giok di Beijing.  Giok di toko ini selain berasal dari Cina juga berasal dari Myanmar.  Myanmar adalah negara satu-satunya di dunia yang memiliki giok jenis keras dan berkualitas premium.

Dari kota Hangzhou dan Suzhou yang tua dan hijau, kami menuju Shanghai, New York di Cina. Shanghai adalah kota yang paling kaya di Cina, pusat perdagangan dan bisnis.  Jalan-jalan di Shanghai besar-besar, gedung-gedungnya tinggi.  Sungguh lautan beton.  Dibandingkan dengan dua kota terdahulu, kota ini lebih angkuh dan gersang.  Di kota ini kami akan mengunjungi TV tower, Museum Madame Tussaud, Yu Garden dan Nanjing Road yang dipenuhi toko-toko merek dunia.

Ada tiga hal yang sama di kota-kota yang kami datangi, orang Cina berbicara dengan suara yang keras, seperti orang berkelahi, mereka suka sekali meludah dan toiletnya hampir pasti pesing.
Menurut Akiong, ini sudah lebih baik daripada beberapa tahun lalu.  Enam tujuh tahun lalu, dia harus menyewa toilet rumah orang dan memintanya untuk membersihkan dulu, dan wisatawan yang mau masuk bayar setengah Yuan.  Kata Akiong itu karena orang Indonesia memiliki 3 ciri, shopping, sleeping, dan siauw pen alias pipis.  Hanya turis Indonesia yang selalu menanyakan toilet di setiap perhentian.  Toilet urusan utama dan pertama.....hahahahahahahaha.
Jangan lupa bawa tissue basah dan kering sendiri kalau ke toilet di Cina plus masker untuk menghadang aroma semerbak.


Read More
Be the first to comment!

Kisah di Bandara Soekarno Hatta

Widya | Thursday, July 09, 2015 |

Terimakasih ya pa ...ma....sudah ditraktir.

Delay berjam-jam, di bandara Soeta.  Seharusnya penerbangan GA890 menuju Beijing berangkat pukul 21.35 hari Kamis.  Namun karena ada Gunung meletus di Jawa Timur, penerbangan kami ditunda hingga pukul 04.15 pagi hari Jumat.  Anak-anak bilang..."jiaaah ini sih bersamaan dengan papa pergi ke kantor dong.....tahu gitu kita tidur di rumah aja..."

Karena penerbangan ini ke Beijing, sudah tentu sebagian besar penumpang berasal dari Cina daratan yang tidak berbahasa Inggris apalagi berbahasa Indonesia.
Pertempuran memperebutkan selimut, membuat petugas jengkel.  Ada seorang ibu yang nekat mengambil selimut sendiri, dan lalu ditegur oleh petugas....tapi kita semua ketawa sakit perut lihat ibu itu dengan cueknya membuka selimut di bawah pandangan jengkel petugas.....
Kata si ibu....." kamu ngomong apa sih gua kagak ngerti"....dan petugaspun berlalu tanpa hasil.....wkwkwkwkwkwkwkwk.......

Alda latihan balet supaya pantat gak pegel duduk terus.....Dea n Tista sibuk dengan utak atik kamera bikin video.... Bapak-bapak tua latihan Tai Chi menghilangkan pegal....pasangan-pasangan muda nonton film dari laptop atau main game.

Bandara ini mungkin tidak punya lounge dengan kamar-kamar untuk antisipasi pesawat terlambat atau menunggu penerbangan berikutnya yang masih panjang.  Susah buat tidur kalau harus pakai kursi tegak begini.  Beberapa  pelayanan juga masih harus diperbaiki, petugas yang kurang ramah, rest room yang hanya ada di ruang tunggu dan tidak bisa digunakan jika kita belum diijinkan masuk ke ruang tunggu, tidak ada cafe di area keberangkatan setelah security check....kita harus keluar lagi kalau mau beli makanan atau mau memakai rest area...

Petugas yang bertugas mulai dari security, imigrasi, front office dan petugas-petugas lain tidak satupun yang melayani dengan ramah.  Semua memakai raut muka jutek dan suara yang biasa kita dengar jika kita naik metromini.....suara kondektur.  Sungguh bukan wajah Indonesia yang pantas disodorkan pada tamu-tamu asing.  Perlu perbaikan besar....supaya tidak keberatan seragam dan dasi.

Tempat sampah dan kebersihan rest room jorok.....sedikit lebih baik dari terminal bis atau pelabuhan. Tapi masih jauh dari pantas untuk ukuran bandara internasional.
Semoga bisa segera diperbaiki oleh pemerintahan baru yang memiliki slogan "perubahan".....

Cina.....here we come....

Read More
Be the first to comment!

Reuni SMP

Widya | Friday, September 12, 2014 |
29 Agustus - 31 Agustus 2014....

Reuni SMP di Balikpapan.

Setelah hampir 30 tahun lalu meninggalkan SMP dan kota penuh kenangan, akhirnya aku kembali ke sana.  Sebenarnya reuni ini direncanakan pas Valentine, tapi aku masih di Amerika, dan teman-temanku tersayang berbaik hati untuk mengundurkan tanggalnya setelah aku kembali ke tanah air.

Perjalanan pulangku dimulai jam 0430 pagi di Bandara Halim PK dengan pesawat Citilink, anak perusahaan Garuda.  Pesawatku baru akan terbang pukul 0810, tapi karena aku pergi bersama mas Agung supaya supir tidak bolak balik, akhirnya subuh sudah meninggalkan rumah dan anak-anak. Rencananya aku akan berangkat bersama Pius Edwin dan Lisa Hamdali, namun sampai pesawat berangkat aku hanya bersama Lisa.  Pius tidak kutemukan.
Citilink punya kebiasaan unik, di awal dan akhir penerbangan selalu melemparkan pantun. Pantun pertama terlambat aku catat, tapi di ujung pendaratan pantun perpisahan sempat aku catat..."Burung Cendrawasih terbang keliling, terimakasih telah terbang bersama Citilink"
dan "Kucing kurus mandi di papan, selamat datang di Balikpapan"....
Kebiasaan yang unik .....mengundang senyuman....
Penerbangan ke Balikpapan ditempuh kurang lebih 2 jam.  Menjelang Balikpapan, dari atas terlihat banyak penambangan minyak lepas pantai.  Kami mendarat di bandara Sepinggan. Bandara internasional baru.  Disana sini poster-poster tentang Kalimantan banyak dan masih bagus sekali.

Melca menjemput kami berdua, dan kami pun menyempatkan diri untuk berfoto di bawah poster-poster tentang Kalimantan yang masih kinyis-kinyis itu.....  Menjelang pintu keluar, ada 3 orang laki-laki di ujung jalan, ternyata penjemput kami bertambah, Willy, Edwin dan Hotma.....senangnya hatiku melihat mereka.  Dan kamipun mendengar kabar tentang Pius yang batal berangkat karena kecelakaan yang dialami saudaranya.

Kota minyak ini dari atas nampak semrawut, sama seperti kota-kota lain di Indonesia.  Jalan-jalannya kecil.  Sangat di sayangkan, padahal kalau pemda mau, kota ini adalah kota baru sehingga penataannya akan lebih mudah.  Jalan-jalan seharusnya dibuat besar-besar yang dapat terlihat dari angkasa.  Rumah, kantor, sekolah, pusat belanja seharusnya dibangun dengan sistem blok, bukan dibiarkan tumbuh secara alami.  Jika jumlah kendaraan meningkat, maka Balikpapan akan menjadi kota macet berikutnya setelah Jakarta, Bandung dan Bogor.

Hari ini kami menjemput Handi dan kemudian Erry serta Didi yang akan dijemput Rita.  Makan siang di rumah makan seafood, disana ketemu dengan lebih banyak lagi teman-teman masa kecil yang sekarang sudah hampir setengah abad, namun kelakuan kami masih sama dengan ketika masih bersekolah dulu.  Setelah itu kami menuju penginapan, namun atas rayuan Edwin dan Yayok, aku memutuskan untuk menginap di rumah Jenny saja bersama Ita, Willy, Hotma, Yayok dan Edwin.  Teman-teman yang lain akan menginap di guest house yang sudah disiapkan panitia. Namun makan malam Jumat ini akan diadakan di rumah Jenny.
Terimakasih Jen, Yayok, Melca, mb Ike yang sudah belanja dan masak buat kami semua.

Makan malam ini menunya meriah, tapi perutku sudah kembung duluan....gak terlalu nafsu buat makan.  Kesempatan ini juga kami pakai untuk mematangkan rencana esok hari.  Erry, pak Lurah membuka rapat kecil, didampingi Willy.  Akhirnya kami semua sepakat besok ke sekolah tanpa sharing terlalu banyak.  Erry adalah ketua OSIS kami dahulu, pria yang selalu menajdi saingan Rubby untuk menjadi peringkat pertama.  Dan kedudukan mereka berdua sulit digoyahkan. mereka juga tidak pernah digabung dalam satu kelas.  Kalau digabung mungkin yang lain lebih terintimidasi.....hehehhehhehehe......

Read More
Be the first to comment!

The Ball

Widya | Wednesday, July 09, 2014 |
Menjelang penutupan pendidikan ada pesta dansa yang diupayakan oleh siswa-siswa NCC.  Pesta dansa ini menjadi gengsi setiap angkatan, maka setiap angkatan berusaha untuk membuat yang terbaik yang dapat diupayakan.  Pemilihan gedung dan menu dilakukan secara voting  yang dikirim melalui email dan dicantumkan di papan pengumuman sekolah.  Tista dan Dea kecewa karena pesta dansa kali ini hanya melibatkan orangtua saja.  Lha bayarnya mahal nak....hehehehhehehe...

Pada pesta dansa ini para pria akan mengenakan seragam pesta Angkatan Laut yang mengenakan dasi kupu-kupu dan ikat pinggang putih.  Soal ganteng dan gagah tidak perlu ditanya, semua pria berseragam selalu tampil meyakinkan.  Banyak kemiripan dalam seragam ini juga, entah kenapa Angkatan Laut seluruh dunia seperti melaksanakan doktrin "Seaman Brotherhood" dengan bangga.  Beberapa negara memiliki seragam berbeda, namun kebanyakan memiliki seragam yang sama.  Kebanggaan Angkatan Laut yang mungkin tidak ada di angkatan-angkatan lain.  Perwira marinir Amerika memiliki seragam berbeda, mantel hitam berlist dan bermanset merah, sungguh anggun dan gagah, mereka tampil seperti perwira kerajaan.  Marinir Amerika berbeda dengan marinir Indonesia.  Marinir Amerika adalah angkatan tersendiri di luar Angkatan Laut Amerika, sedangakan marinir Indonesia tergabung dalam Angkatan Laut Amerika maka seragamnya memiliki kesamaan dengan Angkatan Laut.
Para wanita tampil anggun dengan gaun malam yang panjang, berwarna warni dan indah.  Mereka tampil istimewa mendampingi para pangeran masing-masing.  Sungguh pemandangan yang menyenangkan.

Untukku kebiasaan memakai gaun panjang di acara-acara Angkatan Laut tidak ada, maka aku juga tidak memaksakan harus memiliki gaun yang hanya akan kupakai sekali.  Kali ini aku memakai gaun hitam panjang, dan atasan sifon pink yang salah satu ujungnya kutarik ke atas dan kusematkan bros perak pemberian ibu Didit.  Jadi mirip-mirip baju bodo.  Teman-teman dari Asia Tengah tampil dengan pakaian Sari mereka yang terkenal.  Semua cantik-cantik dan penuh senyum.

Sebelum santap malam, foto bersama dengan latar belakang laut menjadi momen yang mengesankan.  Sungguh penuh warna warni.  Aku menyukainya, karena semua acara berbeda dengan yang biasa terjadi di tanah air.  Di Indonesia semua acara 99% dilaksanakan dalam gedung berAC, selain karena panas juga karena tidak ada tempat bagus yang memiliki halaman luas yang indah...atau sebaliknya...?!
Sedangkan di Amerika, kalau cuaca tidak hujan, acara di luar ruangan selalu menjadi pilihan utama.  Karena itu mereka berusaha untuk memelihara lingkungannya sehingga sedap dipandang dan indah dinikmati.

Teman santap malam sudah diatur sedemikian rupa oleh panitia. Tidak menjadi masalah karena aku bisa bicara dengan semua orang dan sungguh menyenangkan mendapat kesempatan untuk bisa bicara dengan teman yang berbeda di setiap kesempatan.  Hal ini mendekatkan hubungan satu dengan yang lain, dan kamipun mengenal setiap pasangan lebih dekat.  Teman semejaku kali ini pasangan Charlotte - Charlsten dari Denmark, pasangan Gayathri - Kalana dari Srilanka, pasangan  Barbara - Nick Faurot dari Amerika.

Setelah santap malam, para pasanganpun dansa dengan iringan musik yang kadang enak kadang tidak enak.  Jazz bukan musik favoritku. Dan jazz juga bukan musik yang bisa dipakai menari dengan menyenangkan, tapi malam ini menari bukan keberuntunganku, karena hampir semua lagu dibawakan dalam irama jazz.  Hanya bisa menari di beberapa lagu saja.
Sesuai kebiasaanku, melakukan apa saja harus senang dulu, tidak bisa berbasa basi utnuk melakukan hal yang tidak aku sukai hanya demi menyenangkan orang lain.
Apalagi dansa, bagaimana melangkahkan kaki kalau ketukannya tidak bisa ditangkap telinga.
So bagian dansa menjadi titik terlemah di acara ini untukku....too bad.


Read More
Be the first to comment!

Graduation

Widya | Tuesday, July 08, 2014 |
Newport, Friday ...20 June 2014
Big day....

Hari ini sangat spesial karena hari ini si bungsu berusia 15 tahun...(panjang umur, sehat dan bahagia selalu cantik) dan pendidikan mas Agung di NCC selesai.

Rangkaian acara dimulai dengan coffee morning yang dihadiri atase laut dari semua negara yang mengirimkan siswanya untuk belajar di USA.  Kami mendampingi atase laut Indonesia, mas Halili dan mbak Dewi....(thanks for supporting us my friend) di acara coffee morning yang diadakan di Mahan Room.
Rasa bangga, bahagia dan haru menyelimuti semua orang...karena inilah saat terakhir kami berjumpa sebelum mulai besok satu per satu semua akan meninggalkan USA untuk kembali ke tanah air masing-masing.

Tenda besar  yang didirikan di halaman berumput luas pinggir pantai sungguh pengalaman baru yang indah dan tak terlupakan.  Mengingat semua wisuda di tanah air selalu diadakan di dalam gedung.  Jembatan lengkung Newport menjadi latar belakang.  Cuaca sangat bersahabat, langit biru cerah, matahari bersinar dan angin sejuk menyenangkan.  Udara terasa begitu ringan.

Keluarga para siswa dan sponsor menempati sayap-sayap tenda menghadap panggung besar tempat President NWC dan pejabat NWC berada.  Para wisudawan akan menempati bagian tengah tenda.
Setelah seluruh tamu menempati tempat masing-masing, maka arak-arakan dosen, siswa dan seluruh staff NWC memasuki tenda.  Diawali dengan kelompok profesor, para pengajar yang pagi itu mengenakan jubah kebesaran masing-masing.  Setiap jubah memiliki tanda-tanda berbeda sesuai dengan peringkat pemakainya.  Seseorang yang memegang Bachelor's degree memakai jubah yang sederhana dengan lengan lurus.  Seseorang dengan Master's degree memakai jubah yang lebih rumit dengan lengan bermanset.  Sedangkan pemegang Doctor's degree memakai jubah yang dihiasi ornamen di depan dan sekitar leher serta memiliki 3 garis berwarna di lengannya.  Panjang topi jubah juga berbeda sesuai peringkat akademik masing-masing.  Demikian juga warna topi jubahnya berbeda warna sesuai dengan bidang ajarnya.
Di belakang para staff NWC berbaris para perwira siswa yang nampak gagah dengan pakaian putihnya...(Summer White Uniform).

Sedikit tentang NWC....NWC didirikan tahun 1884 di Newport, dan menjadi "the oldest war college in the world".  NWC telah berumur lebih dari 100 tahun, dibesarkan oleh Commodore Stephen B. Luce dan Captain Alfred Thayer Mahan.  Kurikulumnya dibuat menantang sekaligus berharga.  Untuk militer profesional, pendidikan di NWC tak tertandingi.  Di akreditasi sejak tahun 1991 oleh New England Association of Schools and Colleges, diijinkan untuk memberikan Master's degree di bidang National Security and Strategic Studies bagi setial lulusannya.

Yang menarik lagi di dalam rangkaian acaranya ada doa pembuka (Invocation) dan doa penutup (Benediction) yang dibawakan Chaplain of NWR yaitu Chaplain Douglas E.Rosander.  Menarik karena bagi kebanyakan orang Indonesia, bangsa Amerika adalah bangsa yang sangat sekuler.  Namun hari ini terbukti bahwa hal tsb tidak 100% benar adanya.  Chaplain Douglas membawakan doa dalam bentuk umum, tidak bersifat Kristiani, Moslem, Budha atau Hindu.

Siswa yang diwisuda pada kesempatan ini adalah siswa NCC, NSC, College of Naval Warfare, College of Naval Command and Staff,  College of Distance Education, Naval War College Program at Naval Postgraduate School Monterey.
Proficiat officers....!!

Foto-foto dengan latar belakang pantai, jembatan dan yacht menjadi acara favorit berikutnya sebelum kami berkumpul di Ward Room untuk snack dan say goodbye to each other.  Tista sangat menantikan acara ini, untuknya teman adalah segalanya... Last chatting n taking pictures dengan deraian airmata kesedihan dan kegembiraan yang bercampur baur.
Semoga persahabatan kita akan selalu terjalin akrab teman-teman.....we will never forget our 11 month together in USA.....

We wish you all a happiness life, success career, healthy and full of joy for very long time.....
Until we meet again......
Read More
Be the first to comment!

Translate

Button

Warna Warni Perjalanan