Loading

Pendidikan dan Karier si Bungsu (1)

Widya | Saturday, January 10, 2026 |

 Sebetulnya sudah terlambat menuliskan ini.  Kalau dilihat, setiap tahun aku hanya menulis satu artikel saja....😎

Tista....si bungsu kami. Hidup di antara para sulung dan bertubuh paling mungil, bikin kami semua secara naluriah ingin melindunginya.  Keluarga kami terdiri dari 4 orang dan sulung semua kecuali dia. 

Tamat dari SMA, dia memilih untuk melanjutkan pendidikannya di NHI Bandung.  Awalnya dia mau ambil jurusan kitchen, namun aku tak setuju, mengingat tubuh mungilnya akan sulit bersaing di dapur profesional yang panas dengan alat masak berukuran besar.  Jurusan pastry, lebih cocok dengan ketrampilan tangannya yang lincah bikin apapun yang berukuran mini.  Namun NHI Bandung bukan rejekinya. Dua kali tes, dua kali tidak lulus....(NHI kamu rugi gak terima Tista....😛).  Seperti kebanyakan anak muda, saat tidak diterima, dia minta kuliah di Trisakti Perhotelan.  Alasannya klasik..."teman-temanku kuliah ma, aku enggak, kan malu!"  Namun aku tak meluluskan permintaannya.... "kalau adik mau belajar pastry, harus masuk NHI, bukan ke Trisakti.  Buang waktu, buang uang.  Kuliah itu tidak wajib waktunya harus tamat SMA langsung lanjut, seperti dari SD ke SMP dan ke SMA.  Kuliah itu bisa menunggu.  Adek coba lagi tahun depan.  Sementara menunggu, adek bisa les kue di semua tempat belajar yang bagus."

Lalu dia bilang,  "kalau ke Akpar NHI, boleh ma?"  "Kalau ada kelas pagi, boleh, tapi kalau kelasnya malam, tidak boleh."  Dasar rejekinya, tahun itu Akpar NHI buka kelas pagi. Jadilah dia daftar kesana, jurusan pastry.  Diterima...! Maka tahap selanjutnya, cari kost.  Saya cari kost yang super dekat, keluar pagar, tengok kanan, kampusnya nampak.  Selama di Bandung, dia belajar naik angkot.  Jakarta Bandung, naik kereta dan dilanjutkan naik angkot.  Hari pertama masih saya dampingi, memastikan dia paham naik turun dan nomor angkotnya.  Setelahnya dia lancar menjelajah Bandung bersama teman-teman kampusnya.  Tidak dikasih motor atau mobil, anak Jendral ?  Enggak....barang-barang mahal seperti itu harus dia beli sendiri, supaya bisa menghargai dan yang paling penting, dia paham, semua benda bisa dibeli kalau punya uang dan yang datang dengen pekerjaan.

Semester, saya pantau...nilainya tinggi terus. Walau badannya mungil, tapi secara ajáib dia termasuk mahasiswa yang diperhitungkan.  Saat tiba di semester praktek hotel, saya tanya apakah sudah dapat tempat prakteknya.  Dia bilang.."aku sudah masukkan CV ma, tapi belum dipanggil interview"  Mulailah mama investigasi, berapa orang yang sudah dapat ? berapa yang belum? kapan terakhir interview? berapa quota setiap hotel ?  Dari jawaban-jawabannya, saya menangkap signal dia dikalahkan terus untuk dapat kesempatan interview, sementara waktunya jalan terus, dan karakternya yang lembut memungkinkan dia dikalahkan terus.  Akhirnya harus diancam sedikit untuk fight...."kalau minggu depan, adek belum interview, mama ke kampus!"....😂 daaaan sebelum minggu depan berakhir dia kasih kabar...."aku dapat Ritz Carlton Pasific Place".....naaah gitu dek.......fight for you life...

Enam bulan di RCPP dan kembali ke kampus, kemudian enam bulan lagi di Grand Hyatt Jakarta.  Dia sempat mendapat Best Trainee.  Di kedua tempat magang, dia kost lagi, cari yang paling dekat, bisa ditempuh jalan kaki atau naik Gojek.  Koq kost, gak pulang aja....lagi-lagi karena menghemat tenaga, karena kadang dia dapat shift malam, kerjanya tidak perdah duduk, kalau harus beraam-jam pulang ke rumah, waktu tidurnya kurang.  Lelah kerja maunya segera ketemu kasur kan, meluruskan punggung.

Tiga tahun menyelesaikan pendidikan di Akpar NHI, lulus saat covid menerjang maşuk...Tak ada wisuda, walaupun kebaya sudah disiapkan.....lulus terbaik kedua di jurusannya dan masuk lima besar di seluruh jurusan.

berlanjuuuuuut........




No comments:

Post a Comment

Translate

Button

Warna Warni Perjalanan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...