Tahun ini anak keduaku menyelesaikan pendidikan SMA di usia 16 tahun. Sesuai minat dan bakatnya, Tista akan meneruskan ke sekolah culinary entah ambil pastry atau kitchen. Sebenarnya kalau mengikuti keinginan, maunya meneruskan ke Cordon Bleu di Malaysia atau Australia, sebagai sekolah masak tertua di dunia. Namun mengingat usianya yang masih muda dan kurangnya bekal di bidang masak memasak, kami harus menundanya. Pilhannya jatuh ke Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. Sekolah perhotelan ini berbeda dengan sekolah perhotelan lain seperti Trisakti, Sahid atau UPH dan banyak Universitas lain yang memiliki jurusan Hospitality, dimana semua bidang perhotelan dipelajari sekaligus, dan pendidikan diselesaikan dalam waktu 4 tahunm dengan titik berat lebih kepada management. Sekolah perhotelan STPB ini berbeda, sekolah ini memiliki jurusan pastry dan kitchen berbeda, sehingga lebih spesialisasi lagi.
Tista ikut tes masuk di STPB ini sebanyak 2 kali, ikut di dua gelombang, dan kedua-duanya gagal. Tes masuk meliputi tes Bahasa Inggris tertulis, tes Kesehatan, tes Psikologi dan tes Interview. Tes interview Tista melaluinya dengan sukses, dilakukan dengan wawancara dalam bahasa Inggris secara penuh. Dosen yang mewawancarainya memberikan nilai tertinggi, bahkan meminta Tista untuk memberikan sedikit saran mengapa bisa berbahasa Inggris itu penting dan merekamnya sebagai video. Tes Bahasa Inggris tertulis juga kemungkinan gagal kecil, karena di EF Tista berada di kelas tertinggi. Kemungkinan kegagalan ada di tes Psikologi, mengingat usianya yang masih muda dibandingkan teman-teman lain dan beban sekolah di STPB yang tidak ringan.
Sejak pengumuman gelombang kedua keluar, aku berusaha memberikan pengertian kepada Tista, bahwa hidup tidaklah selalu seperti teori yang juga tidak selalu benar. Sekolah secara berkelanjutan. Di banyak negara maju, murid-murid SMA tidak selalu langsung meneruskan ke perguruan tinggi. Kebetulan pada tahun ini, putri presiden Amerika, Malia Obama juga menyelesaikan pendidikan di SMAnya dan tidak langsung melanjutkan ke perguruan tinggi. Malia berhenti setahun, sebelum meneruskan pendidikannya ke Harvard. Apa yang Malia lakukan, aku sampaikan ke Tista. Tista memiliki banyak pilihan yang bisa dikerjakan dalam setahun ini. Dia mendapatkan tawaran untuk bekerjasama dengan KOKIKU.TV, membangun blog memasaknya, dan mengambil banyak kursus masak dan kue dalam rangka memperbanyak pengetahuannya di bidang masak memasak.
Dia setuju, namun mau mencoba sekali lagi untuk daftar ke NHI swasta, Akademi Pariwisata. Aku mengabulkannya, namun kalau ini juga tidak berhasil, dia sudah bisa menerima dengan berbagai pilihan kegiatan yang sudah dipersiapkan.
"School-break"....sudah pernah kami lalui dengan putri sulung kami Dea. Dea bahkan mengambil school-break 2 tahun. Tahun pertama diisi dengan kegiatan bermusik dan fotografi, tahun kedua dia kerja sebagai bagger di Amerika. Dan sekarang di kampusnya Dea termasuk mahasiswa yang bersinar, terpilih menjadi 10 besar mahasiswa terbaik di dua angkatan. Kalau Tista melakukannya, maka ini akan menjadi yang kedua bagi keluarga kami, sama seperti pilihan belajar dengan cara home-schooling yang kami lakukan bertahun lalu, urusan pendidikan anak-anak kami tidak sama dengan kebanyakan keluarga dalam keluarga besar kami. Kali inipun, aku dan Tista akan bahu membahu untuk membuktikan bahwa tidak langsung meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi bukanlah kiamat dan banyak yang bisa dilakukan untuk persiapan menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.
let's do it together my princess..... I believe in you, your shinning future is already in the corner.
Kalau Tista berhasil masuk di Akademi Pariwisata NHI, maka tidak ada school-break.....but we are ready for any option.
Read More
Camping di Tanakita Camping Ground
Tanakita camping ground berada di kawasan taman nasional Gede Pangrango. Kalau kita dari Jakarta ke Sukabumi melalui Ciawi, terus saja ikuti jalan utama ke Sukabumi. Melewati kawasan berikat pabrik-pabrik, pasar-pasar tradisional, kawasan wisata Lido, Sekolah Polisi Negara Lido hingga menemui Polres Cisaat. Sebelum Polres Cisaat itu belok kiri, melewati Pusat Pelatihan Icuk Sugiarto, pebulu tangkis nasional. Terus menanjak hingga masuk gapura Kawasan Taman Nasional Gede Pangrango.
Awal mengajak papa dan mama yang sudah berusia cukup lanjut, ada keraguan, karena biasanya daerah camping ini menanjak untuk sampai lokasi tenda. Tapi ketika kendaraan kami bisa parkir di sisi area tenda, semua kekhawatiran sirna. Kami datang cukup pagi, karena kami berangkat jam 0500 pagi dari Ciangsana Cibubur, sehingga kurang lebih jam 0900 kami sudah tiba lebih dulu di Tanakita. Cepat-cepat kukirim pesan pendek ke mama, mengabarkan kemudahan dan kenyamanan yang bisa dinikmati orang-orang usia lanjut. Mobil hanya parkir sementara di sisi area kemah, untuk menurunkan orang dan barang saja, nanti mobil akan diparkirkan oleh petugas ke tempat parkir yang sudah tersedia.
Satu lagi kemudahan, kalau tidak ingin mengalami macet di sepanjang jalan ke Sukabumi, bisa naik taksi dari Jakarta ke Stasiun Bogor, dan naik kereta ke Cisaat. Nanti dijemput oleh angkot yang sudah kita koordinasikan dengan pengelola Camping Ground sebelumnya. Cukup membayar 100rb rupiah untuk satu angkot.
Camping di Tanakita, tidak perlu membawa logistik sendiri, kopi dan teh tersedia 24 jam, self service. Makan pagi, siang dan malam plus 3 kali snack sudah disediakan. Termasuk acara api unggun dengan jagung bakar dan wedang ronde. Pokoknya gak sempat kelaparan. Tapi kalau takut tidak bisa makan atau punya makanan kesenangan sendiri, bisa bawa dan masak sendiri. Dapurnya boleh dipinjam. Yang paling menarik makan pagi, selain nasi dan kelengkapannya, disiapkan bahan pan cake dengan kompor buatan sendiri. Bisa membuat pancake sendiri, tentu saja anak-anak yang plaing senang. Mereka bisa pura-pura sedang berjualan pancake dengan melayani pesanan anggota keluarga.
Kami memilih 4 tenda di pojok, 2 menghadap Selatan, 2 menghadap Barat, sehingga masih ada wilayah kosong di pojok area kami, untuk nanti kegiatan memasak dengan kompor percobaan papanya Alda. Untuk setiap rombongan disediakan satu tour guide yang akan mengantar kami kemana kami mau dan menawarkan kegiatan apa saja yang bisa kami lakukan. Tour guide kami bernama Asep, sopan dan komunikatif serta ringan tangan.
Tenda yang disediakan bisa muat untuk 3 matras tidur, dan disiapkan juga sleeping bag yang wangi dan bersih supaya tidak kedinginan di malam hari.
Setelah beres-beres tenda, kami berjalan ke danau Situgunung yang berjarak 700meter dari area tenda. Saat berangkat sih enak, jalannya datar dan menurun. Tapi ketika pulang, lumayan berat di tanjakan untukku yang sedang flu, nafas satu-satu.......aigoooo
Danau Situgunung indah, karena kami camping di bulan puasa, maka danau sepi. Tapi dengan sepinya itu danau jadi menarik, memberikan ketenangan. Kami banyak mengambil gambar di sini. Papa dan mama kuat lho berjalan pulang pergi. Tapi kalau tidak kuat ada jasa ojek. Aku tidak berani pakai jasa ojek, karena jalannya berbatu, takut tergelincir. Jalan kaki saja sekalian olahraga.
Dari danau itu kami kembali ke tenda dan charter angkot ke sungai. Sungainya bersih dan ada area tenda di pinggirnya. Area ini lebih sepi, karena hanya berisi sekitar 6 tenda saja. Air sungai yang dingin tidak menyurutkan keinginan mas Agung untuk berenang di sungai. Disediakan teh panas dan singkong goreng.....uuuuh enaknya dingin-dingin minum teh panas dan singkong goreng. Lokasi ini juga lokasi terakhir kalau kita mau ikut tubbing. Namun kami tidak ikut tubbing karena Dea mau ujian, Alda mau balet. Tubbing di sini berbeda dengan tubbing di Gua Pindul Yogyakarta yang berair tenang. Tubbing di Cisaat ini, setiap orang memakai ban sendiri dan meluncur sendiri-sendiri mengikuti arus sungai, meliuk di bebatuan. Tentu saja alat keselamatannya lengkap, mulai dari pelindung kepala, lutut dan lengan plus pelampung.
Kembali ke tenda, anak-anak dan Albert uji coba kompor buatan yang sudah melalui 9x percobaan pembuatan. Buat indomie. Kompor berhasil, namun harus dipikirkan lagi penghalang angin, supaya apinya tidak mati. Dan jawabannya ketemu saat makan pagi membuat pancake keesokan harinya. Albert sudah memotret kompor buatan Tanakita untuk dicontoh. Kita pakai di camping berikutnya ya Bet.....
Makan malam dengan menu super banyak......rasanya juga enak. Oh iya snack sore itu Combro dan Pisang Goreng.....kesenangan mas Agung. Saat makan malam, diiringi musik gitar dan penyanyi yang ternyata para petugas di situ. Rupanya setiap petugas harus memiliki banyak kemampuan selain menjadi guide, juga bisa memasak, menyanyi, mengemudikan kendaraan. Selesai makan, karena keluargaku suka musik semua, maka bergabunglah memeriahkan suasana sampai tengah malam. Sempat terpotong sebentar untuk jalan-jalan melihat kunang-kunang.
Von Trapp dari Bulak Rantai.......senang rasanya melihat Dea, Tista, Alda, Ledy, Albert n mas Agung menyanyi bareng-bareng.
Kesempatan berkumpul dengan keluarga besar sungguh mahal dan berarti. Mengingat papa dan mama yang sudah berusia diatas 70 tahun, tapi masih sehat, bisa jalan-jalan bersama dan melihat papa mama tersenyum senang, sungguh kemewahan. Di antara kesibukan yang membuat kami jarang bisa bertemu, menginap semalam bersama sungguh istimewa. Semoga Tuhan masih memberikan kesempatan kepada keluargaku untuk bisa berlibur bersama-sama lagi.
Syukur kepada Tuhan, saat papa mama masih sehat, anak-anak kami juga sudah dewasa untuk bisa mengingat peristiwa-peristiwa yang menyenangkan bersama eyangnya. Read More
Be
the first to comment!
Awal mengajak papa dan mama yang sudah berusia cukup lanjut, ada keraguan, karena biasanya daerah camping ini menanjak untuk sampai lokasi tenda. Tapi ketika kendaraan kami bisa parkir di sisi area tenda, semua kekhawatiran sirna. Kami datang cukup pagi, karena kami berangkat jam 0500 pagi dari Ciangsana Cibubur, sehingga kurang lebih jam 0900 kami sudah tiba lebih dulu di Tanakita. Cepat-cepat kukirim pesan pendek ke mama, mengabarkan kemudahan dan kenyamanan yang bisa dinikmati orang-orang usia lanjut. Mobil hanya parkir sementara di sisi area kemah, untuk menurunkan orang dan barang saja, nanti mobil akan diparkirkan oleh petugas ke tempat parkir yang sudah tersedia.
Satu lagi kemudahan, kalau tidak ingin mengalami macet di sepanjang jalan ke Sukabumi, bisa naik taksi dari Jakarta ke Stasiun Bogor, dan naik kereta ke Cisaat. Nanti dijemput oleh angkot yang sudah kita koordinasikan dengan pengelola Camping Ground sebelumnya. Cukup membayar 100rb rupiah untuk satu angkot.
Camping di Tanakita, tidak perlu membawa logistik sendiri, kopi dan teh tersedia 24 jam, self service. Makan pagi, siang dan malam plus 3 kali snack sudah disediakan. Termasuk acara api unggun dengan jagung bakar dan wedang ronde. Pokoknya gak sempat kelaparan. Tapi kalau takut tidak bisa makan atau punya makanan kesenangan sendiri, bisa bawa dan masak sendiri. Dapurnya boleh dipinjam. Yang paling menarik makan pagi, selain nasi dan kelengkapannya, disiapkan bahan pan cake dengan kompor buatan sendiri. Bisa membuat pancake sendiri, tentu saja anak-anak yang plaing senang. Mereka bisa pura-pura sedang berjualan pancake dengan melayani pesanan anggota keluarga.
Kami memilih 4 tenda di pojok, 2 menghadap Selatan, 2 menghadap Barat, sehingga masih ada wilayah kosong di pojok area kami, untuk nanti kegiatan memasak dengan kompor percobaan papanya Alda. Untuk setiap rombongan disediakan satu tour guide yang akan mengantar kami kemana kami mau dan menawarkan kegiatan apa saja yang bisa kami lakukan. Tour guide kami bernama Asep, sopan dan komunikatif serta ringan tangan.
Tenda yang disediakan bisa muat untuk 3 matras tidur, dan disiapkan juga sleeping bag yang wangi dan bersih supaya tidak kedinginan di malam hari.
Setelah beres-beres tenda, kami berjalan ke danau Situgunung yang berjarak 700meter dari area tenda. Saat berangkat sih enak, jalannya datar dan menurun. Tapi ketika pulang, lumayan berat di tanjakan untukku yang sedang flu, nafas satu-satu.......aigoooo
Danau Situgunung indah, karena kami camping di bulan puasa, maka danau sepi. Tapi dengan sepinya itu danau jadi menarik, memberikan ketenangan. Kami banyak mengambil gambar di sini. Papa dan mama kuat lho berjalan pulang pergi. Tapi kalau tidak kuat ada jasa ojek. Aku tidak berani pakai jasa ojek, karena jalannya berbatu, takut tergelincir. Jalan kaki saja sekalian olahraga.
Dari danau itu kami kembali ke tenda dan charter angkot ke sungai. Sungainya bersih dan ada area tenda di pinggirnya. Area ini lebih sepi, karena hanya berisi sekitar 6 tenda saja. Air sungai yang dingin tidak menyurutkan keinginan mas Agung untuk berenang di sungai. Disediakan teh panas dan singkong goreng.....uuuuh enaknya dingin-dingin minum teh panas dan singkong goreng. Lokasi ini juga lokasi terakhir kalau kita mau ikut tubbing. Namun kami tidak ikut tubbing karena Dea mau ujian, Alda mau balet. Tubbing di sini berbeda dengan tubbing di Gua Pindul Yogyakarta yang berair tenang. Tubbing di Cisaat ini, setiap orang memakai ban sendiri dan meluncur sendiri-sendiri mengikuti arus sungai, meliuk di bebatuan. Tentu saja alat keselamatannya lengkap, mulai dari pelindung kepala, lutut dan lengan plus pelampung.
Kembali ke tenda, anak-anak dan Albert uji coba kompor buatan yang sudah melalui 9x percobaan pembuatan. Buat indomie. Kompor berhasil, namun harus dipikirkan lagi penghalang angin, supaya apinya tidak mati. Dan jawabannya ketemu saat makan pagi membuat pancake keesokan harinya. Albert sudah memotret kompor buatan Tanakita untuk dicontoh. Kita pakai di camping berikutnya ya Bet.....
Makan malam dengan menu super banyak......rasanya juga enak. Oh iya snack sore itu Combro dan Pisang Goreng.....kesenangan mas Agung. Saat makan malam, diiringi musik gitar dan penyanyi yang ternyata para petugas di situ. Rupanya setiap petugas harus memiliki banyak kemampuan selain menjadi guide, juga bisa memasak, menyanyi, mengemudikan kendaraan. Selesai makan, karena keluargaku suka musik semua, maka bergabunglah memeriahkan suasana sampai tengah malam. Sempat terpotong sebentar untuk jalan-jalan melihat kunang-kunang.
Von Trapp dari Bulak Rantai.......senang rasanya melihat Dea, Tista, Alda, Ledy, Albert n mas Agung menyanyi bareng-bareng.
Kesempatan berkumpul dengan keluarga besar sungguh mahal dan berarti. Mengingat papa dan mama yang sudah berusia diatas 70 tahun, tapi masih sehat, bisa jalan-jalan bersama dan melihat papa mama tersenyum senang, sungguh kemewahan. Di antara kesibukan yang membuat kami jarang bisa bertemu, menginap semalam bersama sungguh istimewa. Semoga Tuhan masih memberikan kesempatan kepada keluargaku untuk bisa berlibur bersama-sama lagi.
Syukur kepada Tuhan, saat papa mama masih sehat, anak-anak kami juga sudah dewasa untuk bisa mengingat peristiwa-peristiwa yang menyenangkan bersama eyangnya. Read More
Main Kolintang
Widya |
Wednesday, July 20, 2016 |
Oleh Oleh
Kolintang alat Musik tradisional dari Menado, Sulawesi Utara. Terbuat dari kayu yang tersusun dari nada rendah ke nada tinggi. Dalam satu set terdapat 9 alat dengan nama dan bunyi yang berbeda. Kesembilan alat itu dimainkan dengan cara dipukul, namun memiliki variasi pukulan yang berbeda dan saling mengisi sehingga menjadi lagu yang indah. Bermain kolintang tidak bisa saling meniru pukulan alat lain, masing-masing pemain harus menghafal pukulannya sendiri.
Kesempatanku bermain kolintang datang ketika ada lomba yang diselenggarakan oleh Dharma Pertiwi, dalam rangka ulangtahun Dharma Pertiwi tahun 2016. Kebetulan aku menjadi ketua seksi budaya di kepengurusan Daerah Jalasenastri Armada Barat, yang bertanggung jawab untuk lomba kolintang mewakili Jalasenastri. Awalnya yang bermain untuk alat kolintang jenis Cello bukan diriku, namun mencari pemain lain sunguh sulit. Akhirnya kupaksa diriku untuk bisa menghafalkan kunci lagu dan pukulannya. Karena ini untuk lomba, maka aransemen dibuat lebih sulit.
Sementara rekan-rekan lain sudah berlatih 5 kali, aku harus mengejar dalam semalam untuk menguasai alatku. Sepanjang malam aku menghafalkan partitur dan mendengarkan rekaman yang ada.
Cara belajarku yang menghafalkan kunci C dimainkan sekian kali sebelum pindah ke kunci berikutnya, membuat aku harus menghafal sekian kunci dan sekian not.
Aku bukan seorang pemain musik yang bisa mendengarkan lagu lalu menyesuaikan kuncinya....aku menghafal semua isi partitur dan bermain dengan menghitung.
Sering not-notnya aku bunyikan, dengan pelafalan berbeda tapi bunyinya sama.....nada do sol mi pindah ke kombinasi re fa la tapi bunyinya sama.....mas Agung dan anak-anakku yang sangat musikal tertawa melihat dan mendengar caraku belajar.
Ingat jaman SMA dulu saat aku menghafal partitur paduan suara dalam mobil sepanjang jalan ke sekolah, mungkin saking tidak tahan mendengarkan suaraku, papa bilang...."mbak kamu itu membunyikan nada sol sama mi koq sama..." .....hahahahahahaha......
Caraku menghafal ini juga tidak bisa sambung dengan teman-teman yang lebih musical, kalau kita mau menyamakan nada, mereka akan bilang syair atau bagian lagunya....sementara aku tidak hafal syair dan bagian lagu, aku akan tanya di partitur halaman berapa bagian yang mana, dan merekapun bingung menjawabnya.......ternyata setiap orang memiliki cara sendiri untuk menghafalkan.
Lagu yang kami mainkan saat itu, Manuk Dadali dan Dari Sabang Sampai Merauke. Alat yang biasa kami pakai berlatih dan alat yang akan dimainkan saat lomba ternyata berbeda ukuran. Sebagai pemain amatir, perbedaan alat bisa membuat kami lupa semua not dan pukulan. Hati kami sempat panik. Sepertinya harus berlatih dengan alat yang memiliki ukuran yang sama dengan alat yang akan dimainkan itu. Akhirnya kami pindah tempat latihan dari Armabar ke Pasmar di Cilandak. Agak lumayan mengobati kepanikan. Usaha dan latihan kami tidak sia-sia, tim gabungan Jalasenastri meraih juara pertama. Horeeeeeee.........
Setelah perlombaan itu, Armabar tetap meneruskan berlatih sebagai persiapan lomba berikutnya. Di bawah asuhan pelatih senior pak Boy Makalew kami menyiapkan 2 buah lagu Neng Geulis dan Nenek Moyangku. Lawan terberat kami tim Pasmar 2, yang sebagian anggotanya adalah teman-teman seperjuangan kami saat lomba di Dharma Pertiwi. Kami saling tahu kemampuan masing-masing. Pelatih kami pak Boy, memegang 4 tim, juga mengatakan hal yang sama. Tim Armabar akan menjadi lawan terberat tim Pasmar 2, tergantung mana yang lebih siap saat lomba, dengan aransemen yang hampir sama sulitnya di lagu wajib Nenek Moyangku. Lomba yang kontroversial, salah satu juri bukan juri yang menguasai atau dapat bermain kolintang. Saat kami naik panggung, ketika melirik barisan juri, hati kecilku sudah berbisik ada sesuatu yang akan merugikan tim kami. Dan bisikan hatiku menjadi kenyataan, kami kalah total, bahkan dari tim dengan aransemen sederhana dan penyanyi bersuara false. Tidak satupun nomor kami raih. Setelah mendengarkan rekaman lomba, semakin jelas kalau lomba ini layak mendapat julukan lomba yang kontroversial.
Kekalahan tim kami, malah membuat kami bertekad berlatih terus dengan aransemen yang semakin sulit. Dan aku memang minta kepada pelatih untuk memberikan aransemen lagu yang sulit dan lebih rumit. pelatih kami memberikan lagu Logika yang aransemennya keriting. Memerlukan 6 kali pertemuan untuk mengerti alur bermainnya. Dan karena kami akan tampil lagi di acara intern, latihan dipacu menjadi setiap hari di minggu terakhir plus masih ditambah satu lagu baru lagi yang lebih mudah. Total kami harus menghafalkan 2 lagu baru dan 2 lagu lama. 4 lagu.....!!!
Untuk pemain profesional mungkin ini bukan hal yang sulit. Tapi aku baru bermain alat ini di usia menjelang 50 tahun, dan ini adalah prestasi.
Ternyata otak kita kalau dipaksa dengan semangat dan keinginan bisa menghafal dengan baik.
Bermain musik itu mencerdaskan kata para ahli, mungkin aku akan merasakan manfaatnya dalam beberapa tahun ke depan.
Read More
Be
the first to comment!
Kesempatanku bermain kolintang datang ketika ada lomba yang diselenggarakan oleh Dharma Pertiwi, dalam rangka ulangtahun Dharma Pertiwi tahun 2016. Kebetulan aku menjadi ketua seksi budaya di kepengurusan Daerah Jalasenastri Armada Barat, yang bertanggung jawab untuk lomba kolintang mewakili Jalasenastri. Awalnya yang bermain untuk alat kolintang jenis Cello bukan diriku, namun mencari pemain lain sunguh sulit. Akhirnya kupaksa diriku untuk bisa menghafalkan kunci lagu dan pukulannya. Karena ini untuk lomba, maka aransemen dibuat lebih sulit.
Sementara rekan-rekan lain sudah berlatih 5 kali, aku harus mengejar dalam semalam untuk menguasai alatku. Sepanjang malam aku menghafalkan partitur dan mendengarkan rekaman yang ada.
Cara belajarku yang menghafalkan kunci C dimainkan sekian kali sebelum pindah ke kunci berikutnya, membuat aku harus menghafal sekian kunci dan sekian not.
Aku bukan seorang pemain musik yang bisa mendengarkan lagu lalu menyesuaikan kuncinya....aku menghafal semua isi partitur dan bermain dengan menghitung.
Sering not-notnya aku bunyikan, dengan pelafalan berbeda tapi bunyinya sama.....nada do sol mi pindah ke kombinasi re fa la tapi bunyinya sama.....mas Agung dan anak-anakku yang sangat musikal tertawa melihat dan mendengar caraku belajar.
Ingat jaman SMA dulu saat aku menghafal partitur paduan suara dalam mobil sepanjang jalan ke sekolah, mungkin saking tidak tahan mendengarkan suaraku, papa bilang...."mbak kamu itu membunyikan nada sol sama mi koq sama..." .....hahahahahahaha......
Caraku menghafal ini juga tidak bisa sambung dengan teman-teman yang lebih musical, kalau kita mau menyamakan nada, mereka akan bilang syair atau bagian lagunya....sementara aku tidak hafal syair dan bagian lagu, aku akan tanya di partitur halaman berapa bagian yang mana, dan merekapun bingung menjawabnya.......ternyata setiap orang memiliki cara sendiri untuk menghafalkan.
Lagu yang kami mainkan saat itu, Manuk Dadali dan Dari Sabang Sampai Merauke. Alat yang biasa kami pakai berlatih dan alat yang akan dimainkan saat lomba ternyata berbeda ukuran. Sebagai pemain amatir, perbedaan alat bisa membuat kami lupa semua not dan pukulan. Hati kami sempat panik. Sepertinya harus berlatih dengan alat yang memiliki ukuran yang sama dengan alat yang akan dimainkan itu. Akhirnya kami pindah tempat latihan dari Armabar ke Pasmar di Cilandak. Agak lumayan mengobati kepanikan. Usaha dan latihan kami tidak sia-sia, tim gabungan Jalasenastri meraih juara pertama. Horeeeeeee.........
Setelah perlombaan itu, Armabar tetap meneruskan berlatih sebagai persiapan lomba berikutnya. Di bawah asuhan pelatih senior pak Boy Makalew kami menyiapkan 2 buah lagu Neng Geulis dan Nenek Moyangku. Lawan terberat kami tim Pasmar 2, yang sebagian anggotanya adalah teman-teman seperjuangan kami saat lomba di Dharma Pertiwi. Kami saling tahu kemampuan masing-masing. Pelatih kami pak Boy, memegang 4 tim, juga mengatakan hal yang sama. Tim Armabar akan menjadi lawan terberat tim Pasmar 2, tergantung mana yang lebih siap saat lomba, dengan aransemen yang hampir sama sulitnya di lagu wajib Nenek Moyangku. Lomba yang kontroversial, salah satu juri bukan juri yang menguasai atau dapat bermain kolintang. Saat kami naik panggung, ketika melirik barisan juri, hati kecilku sudah berbisik ada sesuatu yang akan merugikan tim kami. Dan bisikan hatiku menjadi kenyataan, kami kalah total, bahkan dari tim dengan aransemen sederhana dan penyanyi bersuara false. Tidak satupun nomor kami raih. Setelah mendengarkan rekaman lomba, semakin jelas kalau lomba ini layak mendapat julukan lomba yang kontroversial.
Kekalahan tim kami, malah membuat kami bertekad berlatih terus dengan aransemen yang semakin sulit. Dan aku memang minta kepada pelatih untuk memberikan aransemen lagu yang sulit dan lebih rumit. pelatih kami memberikan lagu Logika yang aransemennya keriting. Memerlukan 6 kali pertemuan untuk mengerti alur bermainnya. Dan karena kami akan tampil lagi di acara intern, latihan dipacu menjadi setiap hari di minggu terakhir plus masih ditambah satu lagu baru lagi yang lebih mudah. Total kami harus menghafalkan 2 lagu baru dan 2 lagu lama. 4 lagu.....!!!
Untuk pemain profesional mungkin ini bukan hal yang sulit. Tapi aku baru bermain alat ini di usia menjelang 50 tahun, dan ini adalah prestasi.
Ternyata otak kita kalau dipaksa dengan semangat dan keinginan bisa menghafal dengan baik.
Bermain musik itu mencerdaskan kata para ahli, mungkin aku akan merasakan manfaatnya dalam beberapa tahun ke depan.
Read More
2016......Jadi Guru
Widya |
Saturday, February 06, 2016 |
Oleh Oleh
Hal baru yang aku senang kerjakan adalah handycraft. Sesuatu yang aku temukan belakangan setelah aku mencintai kegiatan membaca dan kemudian memasak. Membaca sudah jadi makanan pokok sejak aku kecil, kemudian di usia 12 tahun aku mulai suka memasak, tiada hari tanpa praktek resep baru. Jadi koki dan kerja di hotel adalah impianku yang tidak pernah berubah, dan aku memang sempat jadi koki di Aryaduta Jakarta saat masih bergabung dengan Hyatt. Kemudian hari-hariku disibukkan dengan mengurus anak-anak. Setelah anak-anak besar, mereka memasak sendiri dengan selera mereka masing-masing, kegiatan memasakku pun berhenti setelah sempat jualan kue dan roti beberapa tahun sambil antar jemput anak-anak.
Baru di tahun 2010, aku mulai belajar patchwork dan segala hal yang berhubungan dengan kain dan mesin jahit, yang kemudian berlanjut ke clay, wire weaving. Di Amerika aku belajar knitting dan tatting untuk melengkapi crochet yang sudah pernah aku tekuni sebelumnya. Mama bilang ..."padahal dari dulu kamu sudah mama kenalkan dengan hal-hal ini, tetapi koq gak pernah tertarik....." Aku juga gak tahu kenapa selalu terlambat menyadari potensi lain dalam diri sendiri. Hal yang paling akhir aku pelajari adalah wire weaving, shibori dan paling belakang decoupage.
Kemana selama ini hasil karyaku....? aku simpan atau aku bagi-bagi untuk souvenir atau kado Natal. Mungkin hal ini yang bikin mas Agung suka ngomel, koq semua dipelajari tapi gak ada yang kelihatan. Iya gak kelihatan wong barangnya kalau gak dipakai sendiri ya di kasihkan ke orang....hehehehehe.
Paruh ketiga tahun 2015, aku ditugaskan oleh Jalasenastri untuk membuat pelatihan bagi ibu-ibu Jalasenastri di lingkungan Armada Barat. Bersama adik-adikku, dik Yanti Oke dan dik Yuli Monang, kami memberikan demo pelatihan pembuatan kotak souvenir dan gantungan kunci, yang kemudian dilanjutkan dengan pelatihan perorangan. Saat itu aku hanya bertindak sebagai fasilitator saja. Adik-adikku yang mengajar 2 ketrampilan itu. Dari kegiatan itu, aku dan adik-adikku kemudian berpikir untuk bergabung, dan melanjutkan kegiatan kami ke tahap berikutnya, mengingat penugasan suami tidak selalu di Armabar. Tapi itu cerita lain yaaaa......
Awal tahun 2016, 2 orang teman ingin belajar wire weaving. Rasanya maju mundur untuk menentukan biaya belajar. Mengingat di luar biaya belajar wire weaving tidak ada yang murah. Paling murah 500rb. Aku ingat punya keinginan untuk menularkan ilmu dengan biaya yang tidak terlalu tinggi, supaya banyak orang mau belajar. Aku hitung-hitung biayanya, dan aku coba menawarkan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Dan mereka mau. Murid pertamaku, 2 orang wanita cantik yang belajar wire weaving.....senaaaang sekali rasanya....bukan karena uangnya tapi karena bisa berbagi ilmu dan mereka menyenangi hal baru yg mereka pelajari.
Kemudian aku iseng membuat decoupage di atas tas, berhasil cantik sekali. Iseng juga aku pasang di grup wa. Tidak lama, banyak yang minta belajar, jadilah 3 grup....sekali lagi tersenyum melihat kegirangan murid-muridku menguasai hal baru.....
Ditengah-tengah menikmati kegembiraan mereka itu, aku berpikir ...."apa lagi ya yang bisa aku tularkan".....
Jadi guru itu harusnya selalu selangkah di depan muridnya, tidak bisa stop berpikir dan berkarya. Jadi guru itu menyenangkan dan penuh tantangan.
eeeh.....tapiiiii kan aku sudah lama jadi guru untuk anak-anakku ya......?!?!
Be
the first to comment!
Baru di tahun 2010, aku mulai belajar patchwork dan segala hal yang berhubungan dengan kain dan mesin jahit, yang kemudian berlanjut ke clay, wire weaving. Di Amerika aku belajar knitting dan tatting untuk melengkapi crochet yang sudah pernah aku tekuni sebelumnya. Mama bilang ..."padahal dari dulu kamu sudah mama kenalkan dengan hal-hal ini, tetapi koq gak pernah tertarik....." Aku juga gak tahu kenapa selalu terlambat menyadari potensi lain dalam diri sendiri. Hal yang paling akhir aku pelajari adalah wire weaving, shibori dan paling belakang decoupage.
Kemana selama ini hasil karyaku....? aku simpan atau aku bagi-bagi untuk souvenir atau kado Natal. Mungkin hal ini yang bikin mas Agung suka ngomel, koq semua dipelajari tapi gak ada yang kelihatan. Iya gak kelihatan wong barangnya kalau gak dipakai sendiri ya di kasihkan ke orang....hehehehehe.
Paruh ketiga tahun 2015, aku ditugaskan oleh Jalasenastri untuk membuat pelatihan bagi ibu-ibu Jalasenastri di lingkungan Armada Barat. Bersama adik-adikku, dik Yanti Oke dan dik Yuli Monang, kami memberikan demo pelatihan pembuatan kotak souvenir dan gantungan kunci, yang kemudian dilanjutkan dengan pelatihan perorangan. Saat itu aku hanya bertindak sebagai fasilitator saja. Adik-adikku yang mengajar 2 ketrampilan itu. Dari kegiatan itu, aku dan adik-adikku kemudian berpikir untuk bergabung, dan melanjutkan kegiatan kami ke tahap berikutnya, mengingat penugasan suami tidak selalu di Armabar. Tapi itu cerita lain yaaaa......
Awal tahun 2016, 2 orang teman ingin belajar wire weaving. Rasanya maju mundur untuk menentukan biaya belajar. Mengingat di luar biaya belajar wire weaving tidak ada yang murah. Paling murah 500rb. Aku ingat punya keinginan untuk menularkan ilmu dengan biaya yang tidak terlalu tinggi, supaya banyak orang mau belajar. Aku hitung-hitung biayanya, dan aku coba menawarkan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Dan mereka mau. Murid pertamaku, 2 orang wanita cantik yang belajar wire weaving.....senaaaang sekali rasanya....bukan karena uangnya tapi karena bisa berbagi ilmu dan mereka menyenangi hal baru yg mereka pelajari.
Kemudian aku iseng membuat decoupage di atas tas, berhasil cantik sekali. Iseng juga aku pasang di grup wa. Tidak lama, banyak yang minta belajar, jadilah 3 grup....sekali lagi tersenyum melihat kegirangan murid-muridku menguasai hal baru.....
Ditengah-tengah menikmati kegembiraan mereka itu, aku berpikir ...."apa lagi ya yang bisa aku tularkan".....
Jadi guru itu harusnya selalu selangkah di depan muridnya, tidak bisa stop berpikir dan berkarya. Jadi guru itu menyenangkan dan penuh tantangan.
eeeh.....tapiiiii kan aku sudah lama jadi guru untuk anak-anakku ya......?!?!
"Who dares to TEACH must never cease to LEARN"Read More
Menjelang 50 tahun....
Widya |
Sunday, January 17, 2016 |
Renungan
The purpose of life is not to be happy - but to matter, to be productive, to be useful, to have make some difference that you have lived at all. Leo Rosten
Perjalanan liburan ke Yogya mempertemukan kami dengan bude Tien yang sudah 22 tahun tidak pernah berjumpa. Bude Tien adalah kakak perempuan ayah mertuaku.
Pertanyaan pertamanya,...."hayo mbak tebak umur bude berapa?" sambil tersenyum rahasia.
Kami semua menatap bude Tien dan berusaha berhitung. Kalau dilihat dari penampilan bude seperti wanita berusia 55 tahun yang baru saja memasuki usia pensiun, kerut-kerut di wajahnya halus, tak tampak flek kehitaman, geraknya masih lincah dan bicaranya masih jelas, tegas bersemangat. Namun kalau menghitung usia seharusnya sudah di atas 75 karena ayah mertua kalau masih ada kira-kira berusia 78 an. Tak ada yang menyahut.....
Bude dengan riang menyebut angka 80 tahun.....dan kami semua melongo dengan mulut lebar, mata kagum dan berbinar.....
Langsung lontaran pertanyaan muncul...."kok bisa eyangti tidak kelihatan tua?"...."rahasianya apa bude?'....
Bude menjawab, " gampang, yang penting tetap aktif, gembira apapun yang terjadi, bergerak, jangan pernah mau tua. Yangti tidak pernah mau merasa tua, mau tetap muda dan sehat...doakan begitu terus ya mbak...cucu2..."
Semasa mudanya bude Tien seorang bidan di Senduro, yang wilayah kerjanya cukup luas. Dengan aktifitasnya menjadi bidan, tentu saja kegiatan seminar, pelatihan, rapat kesehatan di wilayahnya selalu diikuti. Kiriman foto terakhir yang kami terima di Facebook kemarin, bude sedang berenang di Bali....aiyaaaaaaiiii......fighting bude....!!
Pulang ke rumah, segera ambil komputer dan browsing tentang awet muda. Siapalah yang tak mau hidup sehat dan senantiasa terlihat muda walaupun usia menanjak terus.
Dari hasil perseluncuran disebutkan bahwa orang yang aktif bergerak dan mengisi hari-harinya dengan banyak kegiatan akan jauh lebih awet muda 9 - 10 tahun daripada orang yang bermalas-malasan dan memiliki sedikit aktifitas.
Untukku sendiri, belajar dan membaca adalah hobbi...termasuk belajar mengikuti tehnologi terkini, sosial media yang bertebaran dan dipakai anak-anak, bikin blog dan tulisannya. Motivasi gampangnya sih supaya tetap nyambung dengan anak dan cucu kelak. Saat ucapan "wis aku iki gaptek, sudah tua soalnya" menjadi ucapan mainstream di kalangan wanita seusiaku....aku menentangnya. Umur boleh tua tapi isi kepala jangan sampai aus. Kalau bisa ausnya nanti saja saat masuk alam lain. Mengikuti Barbara Morris, "berpikir positif, berpikir muda dan cantik, aktif dan energik akan membuat semesta membantu dengan segala cara untuk mewujudkan pikiran kita itu."
Selain hidup sehat dan olahraga, memiliki passion dan hobbi akan memangkas 13 tahun dari usia biologis kita....uuuuh yaaa.....siapa yang tidak ingin kelihatan 13 tahun lebih mudah dan punya kegiatan yang menyenangkan ya.....?. Itu kata dr Mehmet Oz yang terkenal itu.
Hal lain yang bikin awet muda adalah selalu bekerja, belajar dan optimis. Belajar apa saja, bekerja apa saja, selama itu menyenangkan, ayo lakukan.
Hobiku akan handicraft membawaku untuk belajar memanfaatkan you tube, pinterest dan membuatku memiliki banyak teman yang memiliki jutaan ide menarik.
Di tulisan lain bahkan menyebutkan dansa dan menari bisa membantu menyembuhkan Osteoporosis dan Alzheimer sampai kanker. Dansa dan menari bisa dikategorikan olahraga, karena tubuh bergerak mengikuti irama. Menari mengaktifkan semua wilayah otak, membuat tubuh lentur dan hati menjadi rileks dan bahagia, melatih pernafasan. Semua itu memicu keluarnya zat kimia endorfin dalam otak yang berguna untuk mengendalikan rasa sakit dan menimbulkan perasaan gembira.
Nah ini cocok banget dengan hobiku yang lain....Menari......tari apa saja, kecuali balet dan street dance...hehehehehe..... Sekarang seminggu sekali aku latihan Line Dance, dan masih menyimpan keinginan untuk Ballroom Dance ditambah tari tradisional Nusantara....
Hanya di latihan menari aku bisa memakai heels tanpa kesakitan. Aneh tapi nyata dan aku masih mencari jawaban keanehan ini....karena untuk kegiatan sehari-hari aku pantang memakai heels....kakiku bisa kesakitan.
Semua cocok dengan pengalaman bude Tien....walaupun berbeda bentuknya tapi intinya sama....
Untukku motivasi utamanya adalah memberikan contoh pada anak-anak, bahwa umur tidak akan menghalangi kita melakukan apa saja yang kita suka jika kita tidak mengijinkannya.
Aku harap mereka akan menjadi wanita-wanita aktif, sehat, positif dan bahagia sampai mereka beranak cucu kelak.
Read More
Be
the first to comment!
Perjalanan liburan ke Yogya mempertemukan kami dengan bude Tien yang sudah 22 tahun tidak pernah berjumpa. Bude Tien adalah kakak perempuan ayah mertuaku.
Pertanyaan pertamanya,...."hayo mbak tebak umur bude berapa?" sambil tersenyum rahasia.
Kami semua menatap bude Tien dan berusaha berhitung. Kalau dilihat dari penampilan bude seperti wanita berusia 55 tahun yang baru saja memasuki usia pensiun, kerut-kerut di wajahnya halus, tak tampak flek kehitaman, geraknya masih lincah dan bicaranya masih jelas, tegas bersemangat. Namun kalau menghitung usia seharusnya sudah di atas 75 karena ayah mertua kalau masih ada kira-kira berusia 78 an. Tak ada yang menyahut.....
Bude dengan riang menyebut angka 80 tahun.....dan kami semua melongo dengan mulut lebar, mata kagum dan berbinar.....
Langsung lontaran pertanyaan muncul...."kok bisa eyangti tidak kelihatan tua?"...."rahasianya apa bude?'....
Bude menjawab, " gampang, yang penting tetap aktif, gembira apapun yang terjadi, bergerak, jangan pernah mau tua. Yangti tidak pernah mau merasa tua, mau tetap muda dan sehat...doakan begitu terus ya mbak...cucu2..."
Semasa mudanya bude Tien seorang bidan di Senduro, yang wilayah kerjanya cukup luas. Dengan aktifitasnya menjadi bidan, tentu saja kegiatan seminar, pelatihan, rapat kesehatan di wilayahnya selalu diikuti. Kiriman foto terakhir yang kami terima di Facebook kemarin, bude sedang berenang di Bali....aiyaaaaaaiiii......fighting bude....!!
Pulang ke rumah, segera ambil komputer dan browsing tentang awet muda. Siapalah yang tak mau hidup sehat dan senantiasa terlihat muda walaupun usia menanjak terus.
Dari hasil perseluncuran disebutkan bahwa orang yang aktif bergerak dan mengisi hari-harinya dengan banyak kegiatan akan jauh lebih awet muda 9 - 10 tahun daripada orang yang bermalas-malasan dan memiliki sedikit aktifitas.
Untukku sendiri, belajar dan membaca adalah hobbi...termasuk belajar mengikuti tehnologi terkini, sosial media yang bertebaran dan dipakai anak-anak, bikin blog dan tulisannya. Motivasi gampangnya sih supaya tetap nyambung dengan anak dan cucu kelak. Saat ucapan "wis aku iki gaptek, sudah tua soalnya" menjadi ucapan mainstream di kalangan wanita seusiaku....aku menentangnya. Umur boleh tua tapi isi kepala jangan sampai aus. Kalau bisa ausnya nanti saja saat masuk alam lain. Mengikuti Barbara Morris, "berpikir positif, berpikir muda dan cantik, aktif dan energik akan membuat semesta membantu dengan segala cara untuk mewujudkan pikiran kita itu."
Selain hidup sehat dan olahraga, memiliki passion dan hobbi akan memangkas 13 tahun dari usia biologis kita....uuuuh yaaa.....siapa yang tidak ingin kelihatan 13 tahun lebih mudah dan punya kegiatan yang menyenangkan ya.....?. Itu kata dr Mehmet Oz yang terkenal itu.
Hal lain yang bikin awet muda adalah selalu bekerja, belajar dan optimis. Belajar apa saja, bekerja apa saja, selama itu menyenangkan, ayo lakukan.
Hobiku akan handicraft membawaku untuk belajar memanfaatkan you tube, pinterest dan membuatku memiliki banyak teman yang memiliki jutaan ide menarik.
Di tulisan lain bahkan menyebutkan dansa dan menari bisa membantu menyembuhkan Osteoporosis dan Alzheimer sampai kanker. Dansa dan menari bisa dikategorikan olahraga, karena tubuh bergerak mengikuti irama. Menari mengaktifkan semua wilayah otak, membuat tubuh lentur dan hati menjadi rileks dan bahagia, melatih pernafasan. Semua itu memicu keluarnya zat kimia endorfin dalam otak yang berguna untuk mengendalikan rasa sakit dan menimbulkan perasaan gembira.
Nah ini cocok banget dengan hobiku yang lain....Menari......tari apa saja, kecuali balet dan street dance...hehehehehe..... Sekarang seminggu sekali aku latihan Line Dance, dan masih menyimpan keinginan untuk Ballroom Dance ditambah tari tradisional Nusantara....
Hanya di latihan menari aku bisa memakai heels tanpa kesakitan. Aneh tapi nyata dan aku masih mencari jawaban keanehan ini....karena untuk kegiatan sehari-hari aku pantang memakai heels....kakiku bisa kesakitan.
Semua cocok dengan pengalaman bude Tien....walaupun berbeda bentuknya tapi intinya sama....
Untukku motivasi utamanya adalah memberikan contoh pada anak-anak, bahwa umur tidak akan menghalangi kita melakukan apa saja yang kita suka jika kita tidak mengijinkannya.
Aku harap mereka akan menjadi wanita-wanita aktif, sehat, positif dan bahagia sampai mereka beranak cucu kelak.
Read More
Pagi Pertama di Beijing
Widya |
Thursday, September 24, 2015 |
Oleh Oleh
late post, 9 Juli 2015
Setelah delay berjam-jam akhirnya bisa juga berangkat dari Jakarta dengan pesawat Garuda no penerbangan GA890 jam 4 pagi. Berangkat sejak kamis siang dengan maksud terbang jam 22.35, akhirnya malah berangkat berbarengan dengan mas Agung berangkat ke kantor jam 0430 pagi…..hahahahahahha….
Read More
Be
the first to comment!
Setelah delay berjam-jam akhirnya bisa juga berangkat dari Jakarta dengan pesawat Garuda no penerbangan GA890 jam 4 pagi. Berangkat sejak kamis siang dengan maksud terbang jam 22.35, akhirnya malah berangkat berbarengan dengan mas Agung berangkat ke kantor jam 0430 pagi…..hahahahahahha….
“kita berangkat bareng papa berangkat kantor juga nih….” hehehehehehehe.....ngerti gitu gak usah berangkat malam ya....
Penerbangan 6 jam kurang lebih, dan tiba jam 11.30 siang di Bandara Beijing Capitol International yang besar dan luas…..begitu turun dari pesawat disambut langit berwarna krem muda seperti langit Jakarta, dan hembusan angin panas lengkap dengan matahari yang terik.....fiyuuuuuh.
Pesawat juga berhenti di tempat yang jauh, jadilah kami naik bis ......
Tidak tampak warna negeri kaum komunis yang identic dengan warna kelabu, wajah muram tanpa senyum dan polisi bertebaran. Just an ordinary international cosmopolitan city. Masyarakatnya memakai baju warna warni, dan berbicara dengan suara yang sangat keras….dan jarang tersenyum. Kebiasaan meludah sungguh mengganggu pendengaran dan pemandangan.
Jalan-jalan di Beijing besar dan lebar. Pemandu wisata mengatakan Beijing saat itu sedang macet karena hari kerja, tapi menurut mataku sih macetnya belum sebanding dengan Jakarta. Pemerintah mengatur mobilitas kendaraan, hanya mobil pemerintahan dan kendaraan umum boleh berjalan setiap hari di jalan-jalan kota. Kendaraan pribadi boleh melintasi Beijing, sesuai jadwal yang ditentukan oleh dua angka terakhir mobilnya, setiap hari memiliki dua nomor yang berbeda, misalnya nomor akhir 19 boleh jalan hanya hari Senin, nomor akhir 28 boleh jalan hanya hari Selasa, dan seterusnya. Masyarakat Beijing hanya boleh memiliki kendaraan maksimal 2 kendaraan setiap keluarga, tidak lebih. Jalan besar saja pembatasan kepemilikan mobil diberlakukan.....harus dicontoh nih.
Kendaraan di Beijing berjalan di sisi berbeda dengan Indonesia, setir kiri.
Ada keuntungan dengan delay pesawat, kami tidak harus mengunjungi dan berjalan panas-panasan di lapangan Tiananmen yang luas itu. Langsung menuju istana kaisar di Forbidden City. Tentu mengurangi kelelahan….hehehehehehehe. The Forbidden City memiliki luas hampir 10 hektar, dibangun 600 tahun yang lalu. Jalan-jalannya yang asli sejak 600 th lalu masih bisa dilihat, kuat sekali karena dibangun dengan 15 lapisan batu di bawahnya. Bangunan istana juga terbuat dari kayu yang masih kokoh berdiri. Menakjubkan…..
Yang spektakuler adalah istana istri kaisar yang berjumlah hampir 6000 orang, terbayang deh intrik –intrik diantara ribuan istri itu. Setiap istri memiliki ruangan sendiri, pelayan sendiri dan pengawal sendiri. Bukan hanya istri-istri itu yang berseteru tetapi pelayan dan pengawalnya juga terlibat dalam intrik. Jika setiap hari kaisar mengunjungi satu istri, maka diperlukan 20 tahun untuk mengunjungi para istri secara merata.....tahun ke 21 baru kembali kepada istri pertama....hehehehehehehe
Ada ruangan hukuman, yang digunakan untuk tinggal istri kaisar yang dihukum. Istri yang terhukum ini tidak boleh berhubungan dengan orang lain, benar-benar diasingkan, dan menurut kisahnya, baisanya mereka akan bunuh diri karena tidak tahan dengan kesepian dan keterasingan.
Benar-benar megah dan spektakuler bangunan istana kaisar Tiongkok ini, berjalan di dalamnya sungguh sebuah olahraga yang memeras keringat. Cantik.....? wis lupakan....yang tersisa hanya wajah-wajah mengkilat.....
Dari istana kaisar, menyusuri sungai buatan yang merupakan barikade untuk menghalangi musuh mendekati tembok istana, kami menuju bus untuk melanjutkan ke tujuan berikutnya....Mall di tengah kota. Kami memutuskan tidak akan belanja dan melihat mall yang bisa kami nikmati di Jakarta, tapi kami akan melakukan kegiatan favorit kami....wisata kuliner...!!!
Jajan tanpa disertai kemampuan berbahasa Mandarin jadi pengalaman seru sendiri….berusaha dengan bahasa tarzan, gambar ….semua daya dikerahkan. Senyum lebar jadi andalan pokoknya. Berbeda dengan masyarakat yang bukan pedagang, penjual apa saja selalu punya senyum lebar yang menyenangkan. Ada satu makanan yang belum pernah disantap anak-anak, akar teratai yang krius-krius dan jadi favorit baru mereka.
Menjelang malam kami menuju teater akrobatik. Pertunjukkan akrobatiknya sungguh mendebarkan. Ada pertunjukkan dua roda raksasa seperti mainan hamster dengan dua pemain pria yang berlari-lari di bagian dalam dan luar roda, semua penonton menahan nafas setiap putaran rodanya bertambah cepat dan meninggi. Puncak pertunjukkan ini adalah permainan roda gila, berupa tong besi raksasa yang bisa berputar, dan diisi oleh 6 motor yang masuk satu per satu. Para pengemudi motor harus bisa menjaga kecepatan dan jarak antara motor supaya tidak bertabrakan, menegangkan karena areanya sempit untuk menampung 6 motor, sehingga ada motor yang berjalan di bagian atas, tenga dan bawah tong. Rupanya ini yang dicontek oleh pemain roda gila di pasar malam- pasar malam tanah air. Hanya ini dikemas dengan bagus dan menarik sebagai sebuah pertunjukkan. Yang menarik dan indah adalah pertunjukkan sepeda, para pengendaranya wanita, mereka bisa megendarai satu sepeda dengan 10 wanita cantik yang membentuk bunga.
Akhirnya malampun harus berakhir yang ditutup dengan makan malam bebek Peking. Sudah terlalu malam untuk ukuran makan malam kami. Dengan menu sebagian besar daging, terlalu berat. Tapi rasa makanannya enak. Yang tidak enak pelayanannya. Masih beberapa meja yang makan, namun lampu2 dimatikan dan meja-meja dirapikan, taplak diangkat. Hal yang ajaib….jadi seperti diusir….. kemungkinan karena sudah larut.
Perut kenyang, hati senang, tubuh lelah, mata sudah setengah menutup, kamipun menuju hotel, untuk mandi dan istirahat malam. Selamat malam semuaaaa.........
Subscribe to:
Posts (Atom)

