Menjelang penutupan pendidikan ada pesta dansa yang diupayakan oleh siswa-siswa NCC. Pesta dansa ini menjadi gengsi setiap angkatan, maka setiap angkatan berusaha untuk membuat yang terbaik yang dapat diupayakan. Pemilihan gedung dan menu dilakukan secara voting yang dikirim melalui email dan dicantumkan di papan pengumuman sekolah. Tista dan Dea kecewa karena pesta dansa kali ini hanya melibatkan orangtua saja. Lha bayarnya mahal nak....hehehehhehehe...
Pada pesta dansa ini para pria akan mengenakan seragam pesta Angkatan Laut yang mengenakan dasi kupu-kupu dan ikat pinggang putih. Soal ganteng dan gagah tidak perlu ditanya, semua pria berseragam selalu tampil meyakinkan. Banyak kemiripan dalam seragam ini juga, entah kenapa Angkatan Laut seluruh dunia seperti melaksanakan doktrin "Seaman Brotherhood" dengan bangga. Beberapa negara memiliki seragam berbeda, namun kebanyakan memiliki seragam yang sama. Kebanggaan Angkatan Laut yang mungkin tidak ada di angkatan-angkatan lain. Perwira marinir Amerika memiliki seragam berbeda, mantel hitam berlist dan bermanset merah, sungguh anggun dan gagah, mereka tampil seperti perwira kerajaan. Marinir Amerika berbeda dengan marinir Indonesia. Marinir Amerika adalah angkatan tersendiri di luar Angkatan Laut Amerika, sedangakan marinir Indonesia tergabung dalam Angkatan Laut Amerika maka seragamnya memiliki kesamaan dengan Angkatan Laut.
Para wanita tampil anggun dengan gaun malam yang panjang, berwarna warni dan indah. Mereka tampil istimewa mendampingi para pangeran masing-masing. Sungguh pemandangan yang menyenangkan.
Untukku kebiasaan memakai gaun panjang di acara-acara Angkatan Laut tidak ada, maka aku juga tidak memaksakan harus memiliki gaun yang hanya akan kupakai sekali. Kali ini aku memakai gaun hitam panjang, dan atasan sifon pink yang salah satu ujungnya kutarik ke atas dan kusematkan bros perak pemberian ibu Didit. Jadi mirip-mirip baju bodo. Teman-teman dari Asia Tengah tampil dengan pakaian Sari mereka yang terkenal. Semua cantik-cantik dan penuh senyum.
Sebelum santap malam, foto bersama dengan latar belakang laut menjadi momen yang mengesankan. Sungguh penuh warna warni. Aku menyukainya, karena semua acara berbeda dengan yang biasa terjadi di tanah air. Di Indonesia semua acara 99% dilaksanakan dalam gedung berAC, selain karena panas juga karena tidak ada tempat bagus yang memiliki halaman luas yang indah...atau sebaliknya...?!
Sedangkan di Amerika, kalau cuaca tidak hujan, acara di luar ruangan selalu menjadi pilihan utama. Karena itu mereka berusaha untuk memelihara lingkungannya sehingga sedap dipandang dan indah dinikmati.
Teman santap malam sudah diatur sedemikian rupa oleh panitia. Tidak menjadi masalah karena aku bisa bicara dengan semua orang dan sungguh menyenangkan mendapat kesempatan untuk bisa bicara dengan teman yang berbeda di setiap kesempatan. Hal ini mendekatkan hubungan satu dengan yang lain, dan kamipun mengenal setiap pasangan lebih dekat. Teman semejaku kali ini pasangan Charlotte - Charlsten dari Denmark, pasangan Gayathri - Kalana dari Srilanka, pasangan Barbara - Nick Faurot dari Amerika.
Setelah santap malam, para pasanganpun dansa dengan iringan musik yang kadang enak kadang tidak enak. Jazz bukan musik favoritku. Dan jazz juga bukan musik yang bisa dipakai menari dengan menyenangkan, tapi malam ini menari bukan keberuntunganku, karena hampir semua lagu dibawakan dalam irama jazz. Hanya bisa menari di beberapa lagu saja.
Sesuai kebiasaanku, melakukan apa saja harus senang dulu, tidak bisa berbasa basi utnuk melakukan hal yang tidak aku sukai hanya demi menyenangkan orang lain.
Apalagi dansa, bagaimana melangkahkan kaki kalau ketukannya tidak bisa ditangkap telinga.
So bagian dansa menjadi titik terlemah di acara ini untukku....too bad.
Read More
Graduation
Widya |
Tuesday, July 08, 2014 |
Oleh Oleh
Newport, Friday ...20 June 2014
Big day....
Hari ini sangat spesial karena hari ini si bungsu berusia 15 tahun...(panjang umur, sehat dan bahagia selalu cantik) dan pendidikan mas Agung di NCC selesai.
Rangkaian acara dimulai dengan coffee morning yang dihadiri atase laut dari semua negara yang mengirimkan siswanya untuk belajar di USA. Kami mendampingi atase laut Indonesia, mas Halili dan mbak Dewi....(thanks for supporting us my friend) di acara coffee morning yang diadakan di Mahan Room.
Rasa bangga, bahagia dan haru menyelimuti semua orang...karena inilah saat terakhir kami berjumpa sebelum mulai besok satu per satu semua akan meninggalkan USA untuk kembali ke tanah air masing-masing.
Tenda besar yang didirikan di halaman berumput luas pinggir pantai sungguh pengalaman baru yang indah dan tak terlupakan. Mengingat semua wisuda di tanah air selalu diadakan di dalam gedung. Jembatan lengkung Newport menjadi latar belakang. Cuaca sangat bersahabat, langit biru cerah, matahari bersinar dan angin sejuk menyenangkan. Udara terasa begitu ringan.
Keluarga para siswa dan sponsor menempati sayap-sayap tenda menghadap panggung besar tempat President NWC dan pejabat NWC berada. Para wisudawan akan menempati bagian tengah tenda.
Setelah seluruh tamu menempati tempat masing-masing, maka arak-arakan dosen, siswa dan seluruh staff NWC memasuki tenda. Diawali dengan kelompok profesor, para pengajar yang pagi itu mengenakan jubah kebesaran masing-masing. Setiap jubah memiliki tanda-tanda berbeda sesuai dengan peringkat pemakainya. Seseorang yang memegang Bachelor's degree memakai jubah yang sederhana dengan lengan lurus. Seseorang dengan Master's degree memakai jubah yang lebih rumit dengan lengan bermanset. Sedangkan pemegang Doctor's degree memakai jubah yang dihiasi ornamen di depan dan sekitar leher serta memiliki 3 garis berwarna di lengannya. Panjang topi jubah juga berbeda sesuai peringkat akademik masing-masing. Demikian juga warna topi jubahnya berbeda warna sesuai dengan bidang ajarnya.
Di belakang para staff NWC berbaris para perwira siswa yang nampak gagah dengan pakaian putihnya...(Summer White Uniform).
Sedikit tentang NWC....NWC didirikan tahun 1884 di Newport, dan menjadi "the oldest war college in the world". NWC telah berumur lebih dari 100 tahun, dibesarkan oleh Commodore Stephen B. Luce dan Captain Alfred Thayer Mahan. Kurikulumnya dibuat menantang sekaligus berharga. Untuk militer profesional, pendidikan di NWC tak tertandingi. Di akreditasi sejak tahun 1991 oleh New England Association of Schools and Colleges, diijinkan untuk memberikan Master's degree di bidang National Security and Strategic Studies bagi setial lulusannya.
Yang menarik lagi di dalam rangkaian acaranya ada doa pembuka (Invocation) dan doa penutup (Benediction) yang dibawakan Chaplain of NWR yaitu Chaplain Douglas E.Rosander. Menarik karena bagi kebanyakan orang Indonesia, bangsa Amerika adalah bangsa yang sangat sekuler. Namun hari ini terbukti bahwa hal tsb tidak 100% benar adanya. Chaplain Douglas membawakan doa dalam bentuk umum, tidak bersifat Kristiani, Moslem, Budha atau Hindu.
Siswa yang diwisuda pada kesempatan ini adalah siswa NCC, NSC, College of Naval Warfare, College of Naval Command and Staff, College of Distance Education, Naval War College Program at Naval Postgraduate School Monterey.
Proficiat officers....!!
Foto-foto dengan latar belakang pantai, jembatan dan yacht menjadi acara favorit berikutnya sebelum kami berkumpul di Ward Room untuk snack dan say goodbye to each other. Tista sangat menantikan acara ini, untuknya teman adalah segalanya... Last chatting n taking pictures dengan deraian airmata kesedihan dan kegembiraan yang bercampur baur.
Semoga persahabatan kita akan selalu terjalin akrab teman-teman.....we will never forget our 11 month together in USA.....
We wish you all a happiness life, success career, healthy and full of joy for very long time.....
Until we meet again...... Read More
Be
the first to comment!
Big day....
Hari ini sangat spesial karena hari ini si bungsu berusia 15 tahun...(panjang umur, sehat dan bahagia selalu cantik) dan pendidikan mas Agung di NCC selesai.
Rangkaian acara dimulai dengan coffee morning yang dihadiri atase laut dari semua negara yang mengirimkan siswanya untuk belajar di USA. Kami mendampingi atase laut Indonesia, mas Halili dan mbak Dewi....(thanks for supporting us my friend) di acara coffee morning yang diadakan di Mahan Room.
Rasa bangga, bahagia dan haru menyelimuti semua orang...karena inilah saat terakhir kami berjumpa sebelum mulai besok satu per satu semua akan meninggalkan USA untuk kembali ke tanah air masing-masing.
Tenda besar yang didirikan di halaman berumput luas pinggir pantai sungguh pengalaman baru yang indah dan tak terlupakan. Mengingat semua wisuda di tanah air selalu diadakan di dalam gedung. Jembatan lengkung Newport menjadi latar belakang. Cuaca sangat bersahabat, langit biru cerah, matahari bersinar dan angin sejuk menyenangkan. Udara terasa begitu ringan.
Keluarga para siswa dan sponsor menempati sayap-sayap tenda menghadap panggung besar tempat President NWC dan pejabat NWC berada. Para wisudawan akan menempati bagian tengah tenda.
Setelah seluruh tamu menempati tempat masing-masing, maka arak-arakan dosen, siswa dan seluruh staff NWC memasuki tenda. Diawali dengan kelompok profesor, para pengajar yang pagi itu mengenakan jubah kebesaran masing-masing. Setiap jubah memiliki tanda-tanda berbeda sesuai dengan peringkat pemakainya. Seseorang yang memegang Bachelor's degree memakai jubah yang sederhana dengan lengan lurus. Seseorang dengan Master's degree memakai jubah yang lebih rumit dengan lengan bermanset. Sedangkan pemegang Doctor's degree memakai jubah yang dihiasi ornamen di depan dan sekitar leher serta memiliki 3 garis berwarna di lengannya. Panjang topi jubah juga berbeda sesuai peringkat akademik masing-masing. Demikian juga warna topi jubahnya berbeda warna sesuai dengan bidang ajarnya.
Di belakang para staff NWC berbaris para perwira siswa yang nampak gagah dengan pakaian putihnya...(Summer White Uniform).
Sedikit tentang NWC....NWC didirikan tahun 1884 di Newport, dan menjadi "the oldest war college in the world". NWC telah berumur lebih dari 100 tahun, dibesarkan oleh Commodore Stephen B. Luce dan Captain Alfred Thayer Mahan. Kurikulumnya dibuat menantang sekaligus berharga. Untuk militer profesional, pendidikan di NWC tak tertandingi. Di akreditasi sejak tahun 1991 oleh New England Association of Schools and Colleges, diijinkan untuk memberikan Master's degree di bidang National Security and Strategic Studies bagi setial lulusannya.
Yang menarik lagi di dalam rangkaian acaranya ada doa pembuka (Invocation) dan doa penutup (Benediction) yang dibawakan Chaplain of NWR yaitu Chaplain Douglas E.Rosander. Menarik karena bagi kebanyakan orang Indonesia, bangsa Amerika adalah bangsa yang sangat sekuler. Namun hari ini terbukti bahwa hal tsb tidak 100% benar adanya. Chaplain Douglas membawakan doa dalam bentuk umum, tidak bersifat Kristiani, Moslem, Budha atau Hindu.
Siswa yang diwisuda pada kesempatan ini adalah siswa NCC, NSC, College of Naval Warfare, College of Naval Command and Staff, College of Distance Education, Naval War College Program at Naval Postgraduate School Monterey.
Proficiat officers....!!
Foto-foto dengan latar belakang pantai, jembatan dan yacht menjadi acara favorit berikutnya sebelum kami berkumpul di Ward Room untuk snack dan say goodbye to each other. Tista sangat menantikan acara ini, untuknya teman adalah segalanya... Last chatting n taking pictures dengan deraian airmata kesedihan dan kegembiraan yang bercampur baur.
Semoga persahabatan kita akan selalu terjalin akrab teman-teman.....we will never forget our 11 month together in USA.....
We wish you all a happiness life, success career, healthy and full of joy for very long time.....
Until we meet again...... Read More
Widya |
Tuesday, July 08, 2014 |
Oleh Oleh
"Please wear costume ladies " ... said Dana Nagler, from Israel ... .
Oooh my God ... it is always difficult for me to find costume ...
Probably because it is not accustomed to have the costume party in Indonesia . Parties in Indonesia ... if not wear standard glamorous dress or wear kebaya ... Kind of boring .... hahahahaha
Children are most the pleased person to have party with the dress code .. they browse the rock n roll costume ....like what the heck ? Year is not limited .
So if they want to use the Beatles style , Grease , or any band is OK .
They've been busy looking for clothes here and there.
Dea bought purple boots , a black leather mini skirt , black T-shirt with the words "Up Town Girl" .... she mentioned which singer she imitated the style is .. but my ears still not familiar at all .
Tista , choose a off shoulder dress with tulle underneath, but then she decided too open , and then she add black bolero to cover her shoulders . Perhaps of Rock n Roll party at earlier times ...
Mas Agung and I still confuse with the costumes . Until the last second we still did'nt know what to wear.
Finally mas Agung were wearing a white shirt and jeans , tie with the trumpet motif , and UK -style baret ... it seems like the boys first appearance when dating years ago.... sleeves rolled up ... ( Dea's sugestion)
I ended up wear a low-necked black cardigan that I 've never used before , skirt pleats wide black skirt, black lace tank top under the cardigan .... an extra hippie headband ... Tista said it was Hobo style... what is Hobo ?
Finally we went to Fort Adam ...
The room was transformed to a discotheque floor ... the interior designer was Dana Nagler , Charlotte of Denmark and Gaya of Sri Lanka . The food are pizzas...any kind of pizzas.
They provide soft drinks ... and we brought wine also ... because alcoholic beverages are expected to bring for sharing ...... hehehehehehe
It was great to see my friends again after a week I did'nt meet anyone.
The costumes were all kinds .... they always most advanced to wear costumes if requested . Although I do not really know which artist or band where the ideas come from , but it was all fun to look at .
Yeah...at least we wear costume....minimalist costumes hahahahhaha
The show ? of course .....dancing .. ... eating ... drinking .... talking .everuthing with "ing"...
For who don't like dance, yes it was definitely tormented all-out ...
But for me .... ooh this was good .... good song , good food , dance all nigt and good drink too ....
David from Singapore asked me... " Is Greg like dancing ? "
Yes ... he is ... we all like dancing ... right-side brain family .... Read More
Be
the first to comment!
Oooh my God ... it is always difficult for me to find costume ...
Probably because it is not accustomed to have the costume party in Indonesia . Parties in Indonesia ... if not wear standard glamorous dress or wear kebaya ... Kind of boring .... hahahahaha
Children are most the pleased person to have party with the dress code .. they browse the rock n roll costume ....like what the heck ? Year is not limited .
So if they want to use the Beatles style , Grease , or any band is OK .
They've been busy looking for clothes here and there.
Dea bought purple boots , a black leather mini skirt , black T-shirt with the words "Up Town Girl" .... she mentioned which singer she imitated the style is .. but my ears still not familiar at all .
Tista , choose a off shoulder dress with tulle underneath, but then she decided too open , and then she add black bolero to cover her shoulders . Perhaps of Rock n Roll party at earlier times ...
Mas Agung and I still confuse with the costumes . Until the last second we still did'nt know what to wear.
Finally mas Agung were wearing a white shirt and jeans , tie with the trumpet motif , and UK -style baret ... it seems like the boys first appearance when dating years ago.... sleeves rolled up ... ( Dea's sugestion)
I ended up wear a low-necked black cardigan that I 've never used before , skirt pleats wide black skirt, black lace tank top under the cardigan .... an extra hippie headband ... Tista said it was Hobo style... what is Hobo ?
Finally we went to Fort Adam ...
The room was transformed to a discotheque floor ... the interior designer was Dana Nagler , Charlotte of Denmark and Gaya of Sri Lanka . The food are pizzas...any kind of pizzas.
They provide soft drinks ... and we brought wine also ... because alcoholic beverages are expected to bring for sharing ...... hehehehehehe
It was great to see my friends again after a week I did'nt meet anyone.
The costumes were all kinds .... they always most advanced to wear costumes if requested . Although I do not really know which artist or band where the ideas come from , but it was all fun to look at .
Yeah...at least we wear costume....minimalist costumes hahahahhaha
The show ? of course .....dancing .. ... eating ... drinking .... talking .everuthing with "ing"...
For who don't like dance, yes it was definitely tormented all-out ...
But for me .... ooh this was good .... good song , good food , dance all nigt and good drink too ....
David from Singapore asked me... " Is Greg like dancing ? "
Yes ... he is ... we all like dancing ... right-side brain family .... Read More
The Most Likely To Never Play Hockey
Widya |
Saturday, June 21, 2014 |
Oleh Oleh
Black and Night party....it means close to the end of our journey......
Diadakan menjelang penutupan pendidikan, dengan tema Black and Night....sesuai tema, maka dresscode dan dekorasi ruangan semua hitam putih. Warna hitam dan putih adalah warna yang sangat kontras, menjadi warna dasar untuk merubah warna lain menjadi lebih gelap atau lebih terang. Hitam juga dapat menggambarkan tentang kematian, sesuatu yang sudah berlalu.... sebaliknya dengan putih yang melambangkan hidup baru, kesucian dan sesuatu yang menjelang.
Undangan pesta kali ini melibatkan para siswa dan istri, serta sponsor dan istri. Hidangan seperti biasa .. hidangan ringan dan minuman beralkohol dan tidak beralkohol. Masing-masing dalam hati merasakan sedikit kesedihan di balik kegembiraan dan gelak tawa malam ini. Persis seperti acara tahun baru....
Malam ini setiap siswa mendapatkan penghargaan khusus, sesuai hasil pengamatan sehari-hari direktur NCC dan staffnya. Aku mengagumi kejelian mereka memandang setiap siswanya dan kemampuan menterjemahkan keistimewaan masing-masing dalam kata.
Ada yang mendapat gelar story teller, ada yang dapat gelar Mr gadget, ada yang mendapat gelar everlasting chimney....
Dengan sedikit narasi yang diucapkan Capt Perry Yaw dan Commander Derek Wessman, semua orang menebak-nebak kira-kira siapakah pemegang gelar yg dinarasikan itu.....
Sungguh acara yang menyenangkan hati....karena visualisasi pembagian gelar ini membawa semua orang kembali kepada perjalanan yang sudah dilalui selama 11 bulan bersama....kaledeiskop.....
Mas Agung mendapat gelar kehormatan "The Most Likely To Never Play Hockey"...didasarkan dari kejadian mas Agung main skate pertama kali saat winter, semangat tinggi tapi kemudian pingsan yang disaksikan sendiri oleh Derek.....
Black and Night, Old and New, Now and Tomorrow......
Black n Night Party
Read More
Cheating....Sins....
Widya |
Friday, May 30, 2014 |
Renungan
Ujian nasional merupakan saat yang dianggap sangat penting. Di situ dipertaruhkan banyak hal, nama baik orangtua, nama baik guru, nama besar sekolah, kedudukan kepala dinas pendidikan dari yang paling rendah, prestasi kementerian pendidikan dan harga diri negara. Karena demikian pentingnya, maka saat itu juga menjadi saat yang penuh tekanan untuk setiap jiwa muda manusia, karena di pundak merekalah kepentingan manusia-manusia dewasa itu diletakkan. Bentuk penjajahan jiwa manusia.
Demi semua itu maka semua hal akan diupayakan, diusahakan mati-matian. Pemerintah menciptakan sistem yang "steril" tidak bisa ditembus, demi mengelabuhi dunia internasional. Kepala dinas sampai orangtua murid dan muridnya berusaha menembus ke"steril"an itu sambil mengatakan bahwa ujian ini benar-benar sulit, demi menjaga gengsi supaya nampak jujur dan berintegritas. Ibarat mata, sebelah ditutup sebelah dibuka. Pelajaran kemunafikan yang sangat nyata ditunjukkan pada jiwa muda manusia Indonesia.
Jiwa-jiwa muda itu ada yang sampai pingsan, kesurupan, sakit, melongo dan banyak hal lain yang menggambarkan jiwa tak sehat. Sehingga hasil belajar bertahun-tahun manusia Indonesia hanya menghasilkan jiwa yang sakit.
Aku ingat ketika sulungku akan ujian SMA. Dalam perjalanan aku memberikan Dea semangat, membangkitkan kekuatan jiwanya ketika handphoneku berdering. Karena aku sedang mengendarai mobil, maka speaker aku hidupkan. Seseorang diujung sana berkata....."mama Dea apakah mau kunci jawaban untuk soal ujian hari ini?"
Pertanyaan yang mengunci otak dan hati....otakku dan otak Dea, hatiku dan hati Dea.
Di satu sisi, sama seperti orangtua lain yang ingin anaknya lulus, apalagi Dea siswa homeschooling, aku merasakan tuntutan untuk membuktikan pilihanku tepat dengan kelulusan Dea nanti. Ingin kukatakan "iya...saya mau"
Dea pun sama, dengan senyum lebar dan mata berseri dia bilang...."mau ya ma...mau ya ....please"
Kata-katanya membuatku terhenyak, seri wajahnya membuatku menimbang...
Namun pagi ini aku menyampaikan begitu banyak pelajaran moral pada Dea, begitu juga pada hari-hari yang lain....
Menatap matanya hatiku berkata..."apa yang mau aku turunkan untuk anak ini, apa yang mau aku wariskan untuknya...."
Kemudian dengan cepat aku katakan pada si penelepon..."maaf mbak, saya tidak mau jawaban ujian, biarlah Dea berusaha sendiri".
Saat itu aku merasa bisik-bisik itu lenyap....pertarungan setan dan malaikat dalam hatiku berhenti.
Dea dengan murung bersungut-sungut. Namun aku kembali pada ceramah moralku padanya. Mungkin dia sudah pernah dengar dan bahkan mungkin sudah sangat hafal dengan susunan kata-katanya. Tapi harus aku ulangi lagi.
Aku memeluknya di pintu kelas, menguatkan hatinya dan mendoakan yang terbaik untukknya.
"You are my angel, pray to our Lord to help you and make you a better woman each day. Don't let Him sad because we do a lot of sins"
Cheating is a sins....
Integritas tidak dapat dipertahankan dengan kecurangan.
Tuhan akan menolong kita dan memberikan keperluan yang kita butuhkan.
Read More
Be
the first to comment!
Demi semua itu maka semua hal akan diupayakan, diusahakan mati-matian. Pemerintah menciptakan sistem yang "steril" tidak bisa ditembus, demi mengelabuhi dunia internasional. Kepala dinas sampai orangtua murid dan muridnya berusaha menembus ke"steril"an itu sambil mengatakan bahwa ujian ini benar-benar sulit, demi menjaga gengsi supaya nampak jujur dan berintegritas. Ibarat mata, sebelah ditutup sebelah dibuka. Pelajaran kemunafikan yang sangat nyata ditunjukkan pada jiwa muda manusia Indonesia.
Jiwa-jiwa muda itu ada yang sampai pingsan, kesurupan, sakit, melongo dan banyak hal lain yang menggambarkan jiwa tak sehat. Sehingga hasil belajar bertahun-tahun manusia Indonesia hanya menghasilkan jiwa yang sakit.
Aku ingat ketika sulungku akan ujian SMA. Dalam perjalanan aku memberikan Dea semangat, membangkitkan kekuatan jiwanya ketika handphoneku berdering. Karena aku sedang mengendarai mobil, maka speaker aku hidupkan. Seseorang diujung sana berkata....."mama Dea apakah mau kunci jawaban untuk soal ujian hari ini?"
Pertanyaan yang mengunci otak dan hati....otakku dan otak Dea, hatiku dan hati Dea.
Di satu sisi, sama seperti orangtua lain yang ingin anaknya lulus, apalagi Dea siswa homeschooling, aku merasakan tuntutan untuk membuktikan pilihanku tepat dengan kelulusan Dea nanti. Ingin kukatakan "iya...saya mau"
Dea pun sama, dengan senyum lebar dan mata berseri dia bilang...."mau ya ma...mau ya ....please"
Kata-katanya membuatku terhenyak, seri wajahnya membuatku menimbang...
Namun pagi ini aku menyampaikan begitu banyak pelajaran moral pada Dea, begitu juga pada hari-hari yang lain....
Menatap matanya hatiku berkata..."apa yang mau aku turunkan untuk anak ini, apa yang mau aku wariskan untuknya...."
Kemudian dengan cepat aku katakan pada si penelepon..."maaf mbak, saya tidak mau jawaban ujian, biarlah Dea berusaha sendiri".
Saat itu aku merasa bisik-bisik itu lenyap....pertarungan setan dan malaikat dalam hatiku berhenti.
Dea dengan murung bersungut-sungut. Namun aku kembali pada ceramah moralku padanya. Mungkin dia sudah pernah dengar dan bahkan mungkin sudah sangat hafal dengan susunan kata-katanya. Tapi harus aku ulangi lagi.
Aku memeluknya di pintu kelas, menguatkan hatinya dan mendoakan yang terbaik untukknya.
"You are my angel, pray to our Lord to help you and make you a better woman each day. Don't let Him sad because we do a lot of sins"
Cheating is a sins....
Integritas tidak dapat dipertahankan dengan kecurangan.
Tuhan akan menolong kita dan memberikan keperluan yang kita butuhkan.
Read More
Thanks God, Thanks to you ..mas Agung
Widya |
Wednesday, May 14, 2014 |
Keluarga
Rumah besar tingkat dua plus basement, dengan 5 kamar tidur, 3 kamar mandi yang senantiasa kering, dapur dengan peralatan listrik modern, pemanas ruangan untuk musim dingin, AC sentral untuk musim panas, 2 Smart TV set dengan ukuran besar. Garasi mobil dengan pintu otomatis. Telepon rumah, TV kabel dan internet 24 jam. Halaman luas berumput hijau d depan dan belakang rumah. Lokasi perumahan yang tenang dan aman. Listrik yang tidak pernah padam, air panas dan dingin yang tidak berhenti mengalir. Pembuangan sampah yang teratur dan bersih. Dibiayai penuh negeri Obama...
Mengalami dan menikmati empat musim yang lengkap.
Musim panas yang berlimpah matahari, dengan siang yang lebih panjang, matahari yang baru terbenam pada pukul 20.30 malam dan sudah terang benderang pada pukul 05.00 pagi. Laut yang biru dan jernih dengan burung-burung albatros yang gemuk-gemuk melayang ke sana kemari mencari kerang.
Musim gugur yang indah dengan warna-warni daun, merah, oranye, hijau muda, hijau tua, coklat semua seperti lukisan alam yang indah tiada tara. Matahari yang bersinar diiringi angin sejuk. Pohon-pohon yang kemudian kehilangan daunnya, hanya ranting-ranting tanpa daun. Angsa yang terbang di angkasa ke arah selatan, berkelompok-kelompok di langit. Squirrel bergerak lincah mengumpulkan makanan dari pohon ke pohon.
Musim dingin bersalju, semua putih... Pengalaman bermain salju, membuat snowman, membersihkan salju dari jalan depan rumah. Memakai baju berlapis-lapis. Siang yang pendek, matahari sudah tidak tampak di pukul 16.00 sore dan belum terang pada pukul 07.00 pagi. Sekolah, kantor dan toko yang libur bila salju turun begitu tebal.
Musim semi yang cerah, matahari bersinar dengan selingan hujan dan angin yang dingin. Burung-burung cantik yang berkicau di sekitar rumah. Sekarang aku tahu mengapa "bird-feeder" banyak dijual.
Empat musim yang bukan main....dengan masing-masing pengalaman yang berbeda. Setiap musim memiliki "dress code" sendiri-sendiri. Membuat kami berpikir,.."alangkah beratnya menjadi orang miskin tak punya rumah di negeri empat musim...."
Tista bisa pulang dan pergi sekolah dengan bis sekolah berwarna kuning yang sering tampil di film-film Amerika. Merasakan cara belajar dan mengajar yang berbeda. Mengerjakan tugas dan ujian dalam bahasa Inggris. Belajar, berpikir, membaca, menulis dan berbicara dalam bahasa Inggris setiap saat setiap hari. Memilih pelajaran untuk satu musim bersama guru konseling. Bergerak dari kelas ke kelas setiap hari. Memakai locker sebagai tempat menyimpan semua barang. Menghafal setiap jadwal yang berbeda setiap minggu. Belajar dengan teman dari berbagai tingkat kelas di satu pelajaran. Dua guru dalam satu kelas.
Dea mengumpulkan banyak uang dan belanja keinginan dan keperluannya sendiri dari uang hasil bekerja sebagai bagger di commisary. Pengalaman bekerja dengan teman sebaya, orang yang lebih tua. Melayani pembeli dan menjalin komunikasi. Berbahasa Inggris setiap hari. Bisa membeli Mac Air sendiri. Jalan-jalan dengan bus ke kota lain bersama teman-teman internasionalnya. Belajar hal-hal baru dari internet.
Mengunjungi Boston yang menjadi rumah bagi Harvard University dan Yale University... Menengok tante dan om di Connecticut dan New Jersey. Nonton Broadway show "Phantom of The Opera" di New York. Jalan-jalan di Disneyworld Florida. Melihat ibukota negara Obama di Washington DC. Menikmati keajaiban alam di Grand Canyon Arizona. Mendatangi Phoenix, rumah bagi beberapa perusahaan besar dunia termasuk Freeport. Melihat waduk raksasa di perbatasan Nevada. Terheran-heran dengan kehidupan "The Sin City" Las Vegas yang terletak di gurun. Menikmati Niagara Fall dan rumah pertanian di tengah gunung Morris.
Menikmati pengetahuan dan pengalaman belajar di musium-musium besar yang selalu mengundang untuk kembali. Musium Holocaust, Musium-musium di komplek Smithsonian di Washington DC, Musium kapal selam Battleship di Massachusets. Musium kapal layar USS Constitution di Boston. Mengagumi koleksi buku dan interior Perpustakaan Nasional Jefferson Washington yang begitu besar dan indah. Musium-musium dan perpustakaan-perpustakaan gratis ini menjadi sumber ilmu dan inspirasi yang tak habis-habisnya, suatu kemewahan mencicipi fasilitas negara terkuat di dunia.
Mendapatkan banyak ilmu baru dari internet yang tersedia 24 jam di mana saja, belajar menciptakan karya dengan guru-guru di dunia maya baik yang berbayar maupun yang gratis menjadi pengalaman belajar yang tak ternilai. Mas Agung belajar fotografi, aku belajar aneka kerajinan tangan, Tista belajar memasak, Dea belajar main gitar dan ikut kuliah online, karena cepatnya internet membuat proses belajar kami begitu menyenangkan. Memiliki komputer masing-masing menjadi kebutuhan belajar, bukan lagi terbatas kebutuhan kerja atau kebutuhan bergaul, apalagi kebutuhan gaya....walaah jauh deh. Perpustakaan lokal yang memiliki koleksi demikian banyak, online dengan perpustakaan lokal lainnya, memiliki kegiatan-kegiatan bagus yang gratis juga menjadi tempat yang nyaman untuk belajar, membaca, berkarya. Perpustakaan juga menyediakan informasi berharga dari institusi-institusi yang peduli pada kemajuan warga. Bergabung dengan ribuan mungkin jutaan penduduk negeri-negeri maju yang menjadikan perpustakaan tempat penting dalam menu tetap harian mereka sungguh kesempatan berharga.
Merasakan berkendara dengan mobil automatic dengan roda kemudi di sebelah kiri dan melintasi jalan-jalan lebar, super lebar dan mulus yang melintasi kota kami, antar kota, antar negara bagian, di jalan-jalan desa, bebas macet, membuat acara bermobil bukan siksaan tapi kesenangan. Jarak jauh tidak menciptakan kelelahan mental bahkan hanya sedikit membuat kelelahan fisik saja. Toko-toko favorit keluarga, toko buku, toko alat-alat kerajinan, toko makanan semua berada dalam jangkauan menit. Bahkan penunjuk waktu di GPS bisa sangat akurat. Suatu wow yang lain dan berbeda dari tanah air.
Mencicipi kecepatan kereta bawah tanah, hubungan antar moda transportasi, keamanan dan kejelasan penunjuk jalan di moda-moda transportasi umum, pengalaman berharga untuk anak0anak yang seumur hidup belum pernah berhubungan dengan kendaraan umum.
Kesempatan berkenalan dengan belanja online yang membuat mabuk. Belanja tanpa perlu melangkahkan kaki keluar rumah, dengan pilihan yang begitu luas, kesempatan membandingkan harga antar toko, kesempatan melihat review pembeli lain untuk masukan, kecepatan barang tiba di rumah betul-betul memabukkan. Kesempatan merasakan sendiri keamanan dan kecepatan pengiriman barang, yang selalu ditinggalkan tergeletak di depan pintu dengan aman. Kesempatan mengetahui bahwa semua pembelian baik online maupun offline bisa dikembalikan bila rusak atau tidak sesuai ukurannya tanpa keributan dan keruwetan panjang. Privilege diskon militer yang berlaku di banyak tempat-tempat belanja dan hiburan, membuatku kembali mengenang privilege militer dulu yang pernah ada di tanah air. Bahkan memesan hotel secara online juga terasa praktis dan mudah, mendapatkan jarak hotel dengan tempat wisata, membaca review orang lain, membaca fasilitas tersedia di tiap hotel. Website-website yang selalu akurat dan baru membuat transaksi online tidak pernah kadaluwarsa. Thanks to internet.
Mendengar nyanyian aneka burung tanpa harus pergi ke desa-desa terpencil, atau memelihara burung sendiri. Melihat squirrel melintas naik turun pohon setiap hari. Memandang kelinci keluar masuk halaman. Mendengar albatros berteriak-teriak nyaring. Memandang bintang dari halaman rumah. Pulang kerja dan sekolah sebelum jam 17.00, masih sempat masak, masih sempat makan malam bersama, nonton TV bersama, berbicara satu sama lain, mengerjakan kesenangan masing-masing sebelum masuk jam istirahat. Memiliki waktu untuk sosialisasi, jalan bersama teman, berkarya bersama sahabat, minum kopi di rumah kawan, belajar bahasa Inggris saat suami dan anak-anak tidak di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, menyiapkan jamuan makan malam. Berkumpul dengan saudara atau sahabat di akhir minggu. Kehidupan impianku, yang terwujud selama setahun dan baru terwujud di usia 18-19 tahun usia pernikahan kami.
Berkenalan dengan teman-teman internasional. Bergaul dan bersosialisasi dengan mereka di acara-acara pagi, malam atau akhir minggu. Mencicipi aneka makanan dari seluruh dunia yang dimasak oleh orang-orang yang otentik. Berkenalan dengan budaya-budaya berbeda. Mendapatkan pengayaan rohani dan ilmu dari teman-teman internasional. Latihan berpikir, mendengar, dan berbicara dalam bahasa Inggris. Menambah teman dari berbagai bangsa di Facebook. Mendapatkan resep masakan baru aneka bangsa. Indah dan indah.
Untuk semua itu, aku mengucapkan syukur tak henti. Terimakasih Tuhan karena sudah memberikan kesempatan ini bagi kami. Terimakasih Tuhan karena sudah memberikan bapak keluarga yang mau bekerja keras, mau berbagi, mau memberikan yang terbaik bagi kami. Terimakasih Tuhan untuk semua penyertaanmu sehingga keluarga kami bisa menikmati semua ciptaanmu, senantiasa sehat dan bahagia. Terimakasih mas Agung untuk keikhlasan dan kerelaan memberikan kesempatan ini bagiku dan anak-anak. Terimakasih mas Agung karena sudah berjuang dan bekerja keras mewujudkan impian indah bagi kami. I love you.
Read More
Be
the first to comment!
Mengalami dan menikmati empat musim yang lengkap.
Musim panas yang berlimpah matahari, dengan siang yang lebih panjang, matahari yang baru terbenam pada pukul 20.30 malam dan sudah terang benderang pada pukul 05.00 pagi. Laut yang biru dan jernih dengan burung-burung albatros yang gemuk-gemuk melayang ke sana kemari mencari kerang.
Musim gugur yang indah dengan warna-warni daun, merah, oranye, hijau muda, hijau tua, coklat semua seperti lukisan alam yang indah tiada tara. Matahari yang bersinar diiringi angin sejuk. Pohon-pohon yang kemudian kehilangan daunnya, hanya ranting-ranting tanpa daun. Angsa yang terbang di angkasa ke arah selatan, berkelompok-kelompok di langit. Squirrel bergerak lincah mengumpulkan makanan dari pohon ke pohon.
Musim dingin bersalju, semua putih... Pengalaman bermain salju, membuat snowman, membersihkan salju dari jalan depan rumah. Memakai baju berlapis-lapis. Siang yang pendek, matahari sudah tidak tampak di pukul 16.00 sore dan belum terang pada pukul 07.00 pagi. Sekolah, kantor dan toko yang libur bila salju turun begitu tebal.
Musim semi yang cerah, matahari bersinar dengan selingan hujan dan angin yang dingin. Burung-burung cantik yang berkicau di sekitar rumah. Sekarang aku tahu mengapa "bird-feeder" banyak dijual.
Empat musim yang bukan main....dengan masing-masing pengalaman yang berbeda. Setiap musim memiliki "dress code" sendiri-sendiri. Membuat kami berpikir,.."alangkah beratnya menjadi orang miskin tak punya rumah di negeri empat musim...."
Tista bisa pulang dan pergi sekolah dengan bis sekolah berwarna kuning yang sering tampil di film-film Amerika. Merasakan cara belajar dan mengajar yang berbeda. Mengerjakan tugas dan ujian dalam bahasa Inggris. Belajar, berpikir, membaca, menulis dan berbicara dalam bahasa Inggris setiap saat setiap hari. Memilih pelajaran untuk satu musim bersama guru konseling. Bergerak dari kelas ke kelas setiap hari. Memakai locker sebagai tempat menyimpan semua barang. Menghafal setiap jadwal yang berbeda setiap minggu. Belajar dengan teman dari berbagai tingkat kelas di satu pelajaran. Dua guru dalam satu kelas.
Dea mengumpulkan banyak uang dan belanja keinginan dan keperluannya sendiri dari uang hasil bekerja sebagai bagger di commisary. Pengalaman bekerja dengan teman sebaya, orang yang lebih tua. Melayani pembeli dan menjalin komunikasi. Berbahasa Inggris setiap hari. Bisa membeli Mac Air sendiri. Jalan-jalan dengan bus ke kota lain bersama teman-teman internasionalnya. Belajar hal-hal baru dari internet.
Mengunjungi Boston yang menjadi rumah bagi Harvard University dan Yale University... Menengok tante dan om di Connecticut dan New Jersey. Nonton Broadway show "Phantom of The Opera" di New York. Jalan-jalan di Disneyworld Florida. Melihat ibukota negara Obama di Washington DC. Menikmati keajaiban alam di Grand Canyon Arizona. Mendatangi Phoenix, rumah bagi beberapa perusahaan besar dunia termasuk Freeport. Melihat waduk raksasa di perbatasan Nevada. Terheran-heran dengan kehidupan "The Sin City" Las Vegas yang terletak di gurun. Menikmati Niagara Fall dan rumah pertanian di tengah gunung Morris.
Menikmati pengetahuan dan pengalaman belajar di musium-musium besar yang selalu mengundang untuk kembali. Musium Holocaust, Musium-musium di komplek Smithsonian di Washington DC, Musium kapal selam Battleship di Massachusets. Musium kapal layar USS Constitution di Boston. Mengagumi koleksi buku dan interior Perpustakaan Nasional Jefferson Washington yang begitu besar dan indah. Musium-musium dan perpustakaan-perpustakaan gratis ini menjadi sumber ilmu dan inspirasi yang tak habis-habisnya, suatu kemewahan mencicipi fasilitas negara terkuat di dunia.
Mendapatkan banyak ilmu baru dari internet yang tersedia 24 jam di mana saja, belajar menciptakan karya dengan guru-guru di dunia maya baik yang berbayar maupun yang gratis menjadi pengalaman belajar yang tak ternilai. Mas Agung belajar fotografi, aku belajar aneka kerajinan tangan, Tista belajar memasak, Dea belajar main gitar dan ikut kuliah online, karena cepatnya internet membuat proses belajar kami begitu menyenangkan. Memiliki komputer masing-masing menjadi kebutuhan belajar, bukan lagi terbatas kebutuhan kerja atau kebutuhan bergaul, apalagi kebutuhan gaya....walaah jauh deh. Perpustakaan lokal yang memiliki koleksi demikian banyak, online dengan perpustakaan lokal lainnya, memiliki kegiatan-kegiatan bagus yang gratis juga menjadi tempat yang nyaman untuk belajar, membaca, berkarya. Perpustakaan juga menyediakan informasi berharga dari institusi-institusi yang peduli pada kemajuan warga. Bergabung dengan ribuan mungkin jutaan penduduk negeri-negeri maju yang menjadikan perpustakaan tempat penting dalam menu tetap harian mereka sungguh kesempatan berharga.
Merasakan berkendara dengan mobil automatic dengan roda kemudi di sebelah kiri dan melintasi jalan-jalan lebar, super lebar dan mulus yang melintasi kota kami, antar kota, antar negara bagian, di jalan-jalan desa, bebas macet, membuat acara bermobil bukan siksaan tapi kesenangan. Jarak jauh tidak menciptakan kelelahan mental bahkan hanya sedikit membuat kelelahan fisik saja. Toko-toko favorit keluarga, toko buku, toko alat-alat kerajinan, toko makanan semua berada dalam jangkauan menit. Bahkan penunjuk waktu di GPS bisa sangat akurat. Suatu wow yang lain dan berbeda dari tanah air.
Mencicipi kecepatan kereta bawah tanah, hubungan antar moda transportasi, keamanan dan kejelasan penunjuk jalan di moda-moda transportasi umum, pengalaman berharga untuk anak0anak yang seumur hidup belum pernah berhubungan dengan kendaraan umum.
Kesempatan berkenalan dengan belanja online yang membuat mabuk. Belanja tanpa perlu melangkahkan kaki keluar rumah, dengan pilihan yang begitu luas, kesempatan membandingkan harga antar toko, kesempatan melihat review pembeli lain untuk masukan, kecepatan barang tiba di rumah betul-betul memabukkan. Kesempatan merasakan sendiri keamanan dan kecepatan pengiriman barang, yang selalu ditinggalkan tergeletak di depan pintu dengan aman. Kesempatan mengetahui bahwa semua pembelian baik online maupun offline bisa dikembalikan bila rusak atau tidak sesuai ukurannya tanpa keributan dan keruwetan panjang. Privilege diskon militer yang berlaku di banyak tempat-tempat belanja dan hiburan, membuatku kembali mengenang privilege militer dulu yang pernah ada di tanah air. Bahkan memesan hotel secara online juga terasa praktis dan mudah, mendapatkan jarak hotel dengan tempat wisata, membaca review orang lain, membaca fasilitas tersedia di tiap hotel. Website-website yang selalu akurat dan baru membuat transaksi online tidak pernah kadaluwarsa. Thanks to internet.
Mendengar nyanyian aneka burung tanpa harus pergi ke desa-desa terpencil, atau memelihara burung sendiri. Melihat squirrel melintas naik turun pohon setiap hari. Memandang kelinci keluar masuk halaman. Mendengar albatros berteriak-teriak nyaring. Memandang bintang dari halaman rumah. Pulang kerja dan sekolah sebelum jam 17.00, masih sempat masak, masih sempat makan malam bersama, nonton TV bersama, berbicara satu sama lain, mengerjakan kesenangan masing-masing sebelum masuk jam istirahat. Memiliki waktu untuk sosialisasi, jalan bersama teman, berkarya bersama sahabat, minum kopi di rumah kawan, belajar bahasa Inggris saat suami dan anak-anak tidak di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, menyiapkan jamuan makan malam. Berkumpul dengan saudara atau sahabat di akhir minggu. Kehidupan impianku, yang terwujud selama setahun dan baru terwujud di usia 18-19 tahun usia pernikahan kami.
Berkenalan dengan teman-teman internasional. Bergaul dan bersosialisasi dengan mereka di acara-acara pagi, malam atau akhir minggu. Mencicipi aneka makanan dari seluruh dunia yang dimasak oleh orang-orang yang otentik. Berkenalan dengan budaya-budaya berbeda. Mendapatkan pengayaan rohani dan ilmu dari teman-teman internasional. Latihan berpikir, mendengar, dan berbicara dalam bahasa Inggris. Menambah teman dari berbagai bangsa di Facebook. Mendapatkan resep masakan baru aneka bangsa. Indah dan indah.
Untuk semua itu, aku mengucapkan syukur tak henti. Terimakasih Tuhan karena sudah memberikan kesempatan ini bagi kami. Terimakasih Tuhan karena sudah memberikan bapak keluarga yang mau bekerja keras, mau berbagi, mau memberikan yang terbaik bagi kami. Terimakasih Tuhan untuk semua penyertaanmu sehingga keluarga kami bisa menikmati semua ciptaanmu, senantiasa sehat dan bahagia. Terimakasih mas Agung untuk keikhlasan dan kerelaan memberikan kesempatan ini bagiku dan anak-anak. Terimakasih mas Agung karena sudah berjuang dan bekerja keras mewujudkan impian indah bagi kami. I love you.
Read More
Subscribe to:
Posts (Atom)


